Dr Suparto Wijoyo

Oleh: Suparto Wijoyo*

TEPAT 5 Juni 2020 kemarin adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia, saya sendiri   ketemu para aparatur lingkungan dari LHK sambil diskusi ragam tema santai. Tetapi juga harus melakukan komunikasi Lebaran bersama kolega Jawa Barat. Cak Mispon selalu menguntit dan berujar lancar Wilujeng Boboran Shiyam,  Hapunten Lahir Tumekaning Batin.  Ungkapan yang mengintisari dalam lantun Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa Shiyamakum, Kullu’aamiin wa Antum Bikhair, Minal Aidin wal Faidzin.  Manusia  khusuk menyujudkan diri dalam “jalan syahadah” sambil melafalkan takbir, tahmid, dan tahlil. Gemanya mengkristal dalam hati yang akan terus direngkuh dan dirindukan sambil berdoa untuk dapat dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun berikutnya, tentu tanpa Covid-19.

Puncak kegemilangan puasa Ramadan itu ditandai dengan   Hari Kemenangan  yang mampu menggerakkan manusia mencari  jejak kampung halaman. Tanah kelahiran dirunut kembali sebagai bentuk “tanda keberadaan”  yang menggedor “rimba sosial” melalui “revolusi laku” yang disebut mudik. Berpuluh tahun saya  senantiasa “mendengar dan menaati panggilan untuk pulang” ke kampung di mana “darah jabang bayi” tumpah untuk menyapa ruang kehidupan.

Menjelajah dalam “gembala mudik” dari Jawa Timur menyusuri Pantura hingga Jawa Barat dan kembali melalui “liuk jalanan” Pantai Selatan Jawa adalah kelumrahan yang selama ini kami lalui nan syukuri. Iring-iringan kendaraan anggota keluarga tentu merupakan “panggilan tradisi” yang senantiasa terukir dalam sukma bahwa “betapa pentingnya” rumah tangga dipahami sebagai madrasah yang darinyalah seluruh luaran aktivitas bermula. Cuma tahun ini  cukup lewat online. Tidak lagi ada iring-iringan kendaraan Cak Mispon, sekadar iringan kuota internet.

Hikmah tetaplah ada.  Ini adalah pandom sosial yang sudah lumrah dalam sebuah komunitas yang muslim adalah mayoritas, meski dirasa justru kerap mengalami persekusi, dalam bentuk yang pembaca silahkan “berimajinasi sendiri”. Pada ruang Lebaran tahun lalu kuayunkan langkah beranjang sana bertemu para akademisi maupun aktivis, kaum pergerakan, seniman, dan tokoh-tokoh masyarakat Sunda. Langkah ini bukan saja untuk membincang soal orde peradaban  tetapi juga guna mendengar langsung tentang dinamika harmonisasi Jawa-Sunda.

Agenda kebudayaan itu dikemas dengan saling membuka ruang teritorial  Bandung dan Surabaya yang disemati jalan yang “membawa nama-nama legendaris kedua bongkahan kisah”: “Hayam Wuruk, Gajah Mada, Majapahit, Prabu Siliwangi, Pasundan-Padjadjaran”. Sebuah kata yang “memiliki bobot historis” yang menindih kedua jiwa kawasan.

Semua bolehlah mengenang  Sumpah Palapa yang sangat kondang kaloko dan menggema pengucapannya  di Balai Manguntur, tempat Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan tahun 1331. Sumpah Palapa merupakan garis politik kenegaraan penyatuan Nusantara sebagaimana  dirintis oleh Kertanegara di lembar negara Singasari. Kesetiaan Gajah Mada kepada trah Raden Wijaya adalah contoh pribadi berdedikasi. Peristiwa pembunuhan Jayanegara oleh dokter istana, yaitu Ra Tanca di tahun 1328 yang kemudian “diamankan” oleh Gajah Mada agar tahtah dilanjutkan Tribuana merupakan sisik melik yang menarik ditilik.

Dalam rentang jabatan Perdana Menteri Gajah Mada menjabat inilah hadir Pakuwon Pajajaran menjelma menjadi Kerajaan di 1333, nyaris setarikan dengan penyatuan Bali di 1334, saat Hayam Wuruk dilahirkan. Hayam Wuruk dididik dengan kecakapan prima mengemban mandat  Dampar Kencono tahun 1350 dengan sematan gelar Rajasanegara.

Baginda Hayam Wuruk  membuat Majapahit moncer atau meminjam bahasa Syahrini, cetar membahana menjadi imperium “Macan Asia” 1350-1370. Raja perjaka ini tahun 1357 saatnya berpendamping wanita unggul dan jelita, maka “pansel” dibentuk untuk melakukan “seleksi nasional” dan terpilihlah Citrasymi alias Diyah Pitaloka, Mojang Priangan, anak kinasih bermartabat  terhormat, Raja Pajajaran. Pinangan terhadap Putri Kerajaan Pasundan Baru dilangsungkan dan rotasi romantika digelar atas nama cinta  yang membentang  asa dari Majapahit bertaut di Tatar Sunda.

Namun  pada tahun 1357, kisahnya menjadi “cinta yang tertikam”. Diyah Pitaloka beserta keluarganya terhempas dalam simbahan luka yang berujung  lara yang direguk rakyat sampai kini, akibat tragedi di Lapangan Bubat. Perkawinan yang gagal ditambah dengan “bumi hangus” keluarga Kerajaan Pasundan oleh “ambisi politik yang tidak dibarengi dengan diplomasi katrisnan” dari Gajah Mada itu, ternarasi dalam ingatan sosio kultural yang semakin lama semakin manages di hati rakyat Sunda. Peristiwa perih yang  menghunjam dalam lubuk peradaban dan terus membuncah pada ingatan yang terdongengkan dari generasi ke generasi ini dibungkus dalam “kelambu” Sundayana.

Dalam lingkup inilah, torehan hebat Gajah Mada di tahun yang sama, 1357 dengan menghadiahi Hayam Wuruk melalui keberhasilan Ekspedisi Dompu oleh Laksamana Nala, tidak membuat Sang Raja mengembang senyumnya. Nafasnya tetap ditarik pelan dengan lirih suara Raja Dangdut Rhoma Irama “kegagalan cinta” yang menyemesta. Hayam Wuruk merintih dalam perihnya jiwa atas gelora rindu yang terhuyung pilu dan itu semakin mengelamkan jiwanya, karena justru ulah  mempolitisasi cinta dengan “penundukan atas nama kemegahan kerajaan”.

Sejak itu Gajah Mada merasa bersalah dan menghaturkan “tebusan ruhaniah” melalui mekanisme Paseradaan Agung (“haul akbar”) untuk mengenang almarhumah Gayatri Rajapatni di tahun 1362 dengan ucap pamungkas yang menyentuh “langit tertinggi” keluhuran budi Hayam Wuruk.

Gajah Mada berucap: “an wanten rajakaryyolihulih nikanang dharyya harwa pramada”. Ekspresi Gajah Mada pada saat mengucap “segala titah Raja tidak boleh diabaikan” dengan menyimpuhkan diri “pasrah bongkoan seluruh pengabdiannya kepada sang Raja”, menurut Muhammad Yamin (1945)  sambil membungkukkan diri, penuh khidmat.

Dari sinilah Gajah Mada mengambil lockdown dari sengkurat politik menempati tanah hadiah Sang Raja di Madakaripura. Gajah Mada topo kumkum menebus salah membasuh luka. Dalam ritual mandi air suci di Madakaripura inilah, Gajah Mada membopong harkatnya menjemput maut, mengidungkan akhir hayatnya pada tahun 1364 dalam  tirtasewana. Kini anak turun Majapahit sudah menyamudrakan batinnya mampu “mentirtasuwanakan” ego  untuk menebus “kepahitan” Pasundan.  Hari ini saya suarakan di keluarga besar Sunda sebagai bagian dari “maafkan atas segala khilaf sejarah” di Idul Fitri ini, apalagi saat hari lingkungan jua.

* Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry