
SURABAYA | duta.co – Sejumlah Pengurus NU dari Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (2/7/25) bertandang ke Museum NU di Jl Menanggal 35 Surabaya.
“Mohon maaf, kami datang mendadak, tanpa konfirmasi. Kami pernah kemari tetapi belum puas mencermati satu persatu peninggalan para masyayikh NU,” demikian disampaikan KH Ali Mahmudi, kepada duta.co yang mendampinginya.
Selain KH Ali Mahmudi, ada KH Masykuri, KH M. Asykan, KH Mursidi, Andy Afifuddin dan KH Syamsuddin. Mereka juga mencermati surat balasan Raja Saud yang disampaikan kepada delegasi Komite Hijaz. “Saat itu, Raja Saud sudah menyebut jamiyah Nahdlatul Ulama,” tegasnya saat melihat copy surat tersebut.
Para kiai ini juga mencermati naskah khitthah-26 NU yang ditulis almaghfurlah KH Achmad Shiddiq (Jember), mantan Rais Am Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun 1984-1991 dan merupakan ulama pembaharu pemikiran di kalangan NU. Gagasannya yang terkenal adalah kembalinya NU ke Khittah (garis-garis perjuangan) tahun 1926 sewaktu organisasi itu didirikan. “Beliau punya firasat yang sangat tajam, pemikirannya jauh ke depan,” katanya.
Mokhammad Kaiyis, Pemred Duta Masyarakat yang mendampingi para kiai menjelaskan, bahwa, ide berdirinya Museum NU itu adalah dari Gus Dur (almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid). “Kita sekarang berada di gedung bundar Museum NU. Ini ide Gus Dur yang diwujudkan oleh Cak Anam (almaghfurlah Choirul Anam). Diresmikan oleh almaghfurlah Mbah Sahal dan dihadiri khusus oleh KH Yusuf Hasyim (almaghfurlah Pak Ud),” jelasnya.
Lalu, apa yang urgen dari keberadaan Museum NU ini? “Setidaknya, dengan adanya Museum NU generasi penerus bisa mengikuti jejak perjuangan para kiai. Mereka tahu, mengapa NU harus berdiri? Bagaimana fikih NU tentang Kebangsaan? Bagaimana NU menyikapi perbedaan atau keberagaman di negeri ini? Semua jejak itu ada di Museum NU,” tegas Kaiyis.
Para kiai juga mencermati foto almaghfurlah KH Hasan Gipo alias KH Hasan Basri. “Foto beliau ini sengaja ditaruh di depan, karena (ternyata) tidak banyak yang kenal. Padahal, beliau adalah Ketum PBNU pertama dan sosok yang menghabiskan kekayaannya demi berdirinya jamiyah NU,” tegas Kaiyis yang juga anggota Dewan Kehormatan PWI Jatim.
KH Hasan Gipo lahir di Sawahan pada tahun 1869, tepatnya di Jalan Ampel Masjid, sekarang Jalan Kalimas Udik. Beliau merupakan keturunan keluarga besar dari “Marga Gipo” sehingga nama Gipo diletakkan di belakang namanya. Nama Gipo sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Sagipodin dari bahasa Arab Saqifuddin, Saqaf (pelindung) dan al-Dien (agama).
Para kiai asal Jawa Tengah ini juga mencermati foto-foto perjuangan muslimat NU. Mereka ternyata tidak hanya pandai memasak, tetapi juga siap perang, dengan gigih memegang senjata. “Melihat foto-foto ini, tak terbantahkan, betapa NU begitu kokoh menjaga NKRI. Tidak berlebihan kalau sekarang ada istilah NKRI harga mati,” tegas para kiai. (mky)