Diplomat Amerika Serikat bidang Ekonomi dan Politik Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Andrew Kelly (kiri) berbincang dengan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Kasung Marijan. DUTA/endang

Diplomat Amerika Serikat bidang Ekonomi dan Politik Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Andrew Kelly bercerita tentang Ramadan di Negeri Paman Sam. Di depan dosen, mahasiswa dan karyawan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Selasa (28/5), Andrew Kelly menegaskan Ramadan memiliki makna mendalam bagi muslim dan non muslim di negara tersebut.

 Andrew Kelly yang lebih suka dipanggil Andi ini, memulai bercerita bahwa jumlah muslim di AS mencapai 4 juta. Hanya 35 persen dari mereka yang lahir dan besar du AS, sisanya adalah para pendatang atau imigran.

Mayoritas muslim di AS itu tinggal di kota-kota besar yang berbaur dengan masyarakat AS dari berbagai macam agama. “Kami hidup damai. Karena undang-undang kami harus melindungi semua agama,” ujarnya.

Kejadian peledakan di World Trade Center (WTC) beberapa tahun silam sudah banyak dilupakan masyarakat AS. Jika masih ada Islam Phobia, kata Andi, itu hanya ulah oknum.

“Kita hidup berdampingan dengan damai. Pemerintah AS saja tidak boleh menanyakan agama kepada warganya. Agar kita bisa hidup damai,” tuturnya.

Sama seperti di Indonesia, ulah segelintir orang ini tidak boleh dianggap sebagai ulah semua orang. Andi bahkan bercerita ketika Surabaya terjadi bom bunuh diri di beberapa gereja, teman-temannya di AS menanyakan tentang keselamatannya.

Bahkan teman-temannya menyuruhnya pulang karena kejadian itu adalah perselisihan antara Islam dan non Islam.

“Saya yakinkan mereka, bahwa saya tinggal di kota yang sangat-sangat aman. Tidak sda yang perlu dikhawatirkan. Akhirnya mereka diam,” jelasnya.

Diceritakan Andi, saat ini masyarakat muslim AS yang minoritas menjalankan ibadah puasa dengan aman. Warga non muslim menghargai Ramadan sebagai bulan sucinya orang Islam,” jelasnya.

Diakui Andi, saat Ramadan, banyak warga yang non muslim menggelar acara buka puasa dengan mengundang warga muslim. Ini sebagai bentuk toleransi dan penghargaan yang sangat besar terhadap warga non muslim yang sedang berpuasa.

“Apalagi banyak pejabat di Amerika yang beragama Islam. Sehingga saling menghargai menjadi sesuatu hal yang mutlak dilakukan,” jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Kacung Marijan mengatakan kehadiran Andrew Kelly ke Unusa ini diharapkan bisa menjadi pencerah bagi dosen dan mahasiswa Unusa yang ingin melanjutkan kuliah di AS.

“AS negara yang sangat menjunjung tinggi hak asasi semua orang. Di sana semua orang dilindungi apapun agamanya,” tukasnya.

Unusa sebagai lembaga pendidikan yang terbuka memang mendorong dosen dan mahasiswanya untuk bisa meneruskan kuliah di AS.

Apalagi pendidikan di AS sangat memiliki kompetensi yang tinggi. Bahkan untuk TOEFL minimal 575.

“Sehingga kita akan memacu mahasiswa kita untuk bisa meraih angka itu dengan banyak cara. Bahkan nantinya yang mau masuk Unusa khususnya Fakultas Kedokteran ada minimal TOEFL yang kami terapkan,” jelasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry