MADINAH | duta.co — Hari pertama di Kota Madinah Almunawarah, Kamis (19/5/2022), sebanyak 40 jamaah Ash Shafa benar-benar menikmati indahnya tanah suci ini. Cocok dengan julukannya ‘almunawarah’ kota ini seakan tak mengenal suasana malam.

“Semakin menambah keimanan kita, betapa Agung Allah swt. Hari pertama ini jamaah ‘sowan’ atau ziarah makam Nabi Muhammad SAW.,” demikian Ust Didik Fanani.

Suhu Madinah kisaran 33°C seperti di rumah sendiri. “Alhamdulillah, jamaah dalam kondisi sehat. Selain berdoa untuk keluarga, jamaah juga berdoa untuk kebaikan bangsa Indonesia, terutama bangkit setelah covid,” tambah Ust Didik Fanani.

Sebagai pimpinan jamaah, sekaligus Owner PT Ash Shafa Marwah Indonesia – Travel Umroh-Haji Plus, Hj Yossy Kusumadewi berharap ibadah umroh yang waktunya terbatas ini, bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Doakan keluarga di rumah. Juga doakan negeri tercinta kita, Indonesia agar benar-benar baldatun thoyyibatun warobbun ghofur,” demikian Umik Yosie, panggilan akrabnya saat di Hotel Royal Inn depan Masjid Nabawi.

Jamaah juga akan salat sunnah di Masjid Qiblatain, salah satu tempat ziarah di Madinah yang dikenal dengan dua arah kiblat. Masjid yang dulu bernama Masjid Bani Salamah itu menjadi saksi perpindahan arah kiblat kaum Muslim.

Masjid Qiblatain terletak di Quba, tepatnya di atas sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah.

Masjid Qiblatain mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Masjid ini terletak sekitar 7 kilometer dari Masjib Nabawi di Madinah.

Menurut Ibrahim Ahmad, penjaga masjid ini, asal usul masjid Qiblatain ini,  diawali dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW beserta beberapa sahabat ke Salamah untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya.

Ketika itu bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, Rasulullah salat Dhuhur di Masjid Bani Salamah. Ia mengimami para jamaah. Dua rakaat pertama salat Dhuhur masih menghadap Baitul Maqdis (Palestina), sampai akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika Kanjeng Nabi yang dijuluki Al-Amin ini baru saja menyelesaikan rakaat kedua.

Dalam Alquran Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144).

Begitu menerima wahyu ini, Nabi langsung berpindah 180 derajat, dan diikuti oleh semua jamaah untuk melanjutkan salat Dhuhur menghadap Masjidil Haram.  Yang tadinya menghadap Baitul Maqdis dengan tetap melanjutkan rakaat ke dua bersama makmum (pengikut salat).

Sejak saat itu, kiblat umat Islam berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina (menghadap ke utara dari Madinah), menuju Masjidil Haram (menghadap arah selatan dari Madinah). Masjid Bani Salamah ini pun dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.­­­

“Dengan begitu jamaah Ash Shafa akan memahami sejarah pemindahan kiblat. Dan mereka bisa salat tahyatal masjid di sini,” pungkas ust Didik. (mky.kemenag.go.id)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry