SURABAYA | duta.co – Tim dosen dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dibantu mahasiswa dari Program Studi S1 Kebidanan menerima dana Hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat 2025.

Skema Pemberdayaan yang Berbasis Masyarakat dengan Fokus pada Kemitraan Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, memilih untuk memberikan pendidikan gizi serta mengintegrasikan kewirausahaan pangan lokal untuk ibu dengan balita yang berisiko mengalami stunting di Area RW 2 Kedung Sroko, Surabaya.

Dosen dan mahasiswa Unusa yang terlibat yakni Yati Isnaini Safitri, Esty Puji Rahayu, Rachma Rizqina Mardhotillah, Elvinda Aulia Putri Ma’ruf, Intan Azkiya’ul Qolbiyah.

Yati Isnaini selaku ketua tim mengatakan kegiatan ini disusun dengan tujuan  untuk memberdayakan ibu-ibu dengan balita yang berisiko stunting di RW 2 Kedung Sroko. Caranya dengan dua pendekatan yang saling mendukung: pendidikan kesehatan reproduksi dan pelatihan peningkatan ekonomi. Melalui metode ini, diharapkan para ibu dapat mendapatkan wawasan dan keterampilan yang diperlukan guna meningkatkan kualitas hidup mereka dan anak-anak mereka.

“Salah satu tujuan khusus dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu mengenai gizi seimbang serta kesehatan reproduksi. Pemahaman yang mendalam tentang gizi sangat Krusial untuk menghindari stunting pada anak-anak. Peningkatan pengetahuan dilakukan melalui penyampaian informasi dalam bentuk edukasi langsung kepada kelompok ibu balita dengan harapan dapat mengubah perilaku,” jelasnya.

Kegiatan yang digelar 11 hingga 25 Oktober 2025, bermitra dengan sepuluh ibu balita yang berisiko stunting (Kelompok Dasa Wisama) dan sepuluh anggota Kader Surabaya Hebat (KSH) di RW 2 Kedung Sroko, Kelurahan Pacarkembang Surabaya. Para mitra mengikuti serangkaian pelatihan terintegrasi yang menggabungkan pendidikan tentang kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, dan keterampilan dalam wirausaha pangan lokal.

Program pengabdian kepada masyarakat yang digagas oleh tim dosen Unusa ini bertujuan untuk mencapai dua hasil sekaligus: peningkatan praktik gizi dalam keluarga serta pembentukan sumber pendapatan rumah tangga melalui pengolahan lele dan bunga telang.
Sistem terorganisir: dari edukasi hingga pemasaran digital.

Agenda dibuka dengan penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi pada tanggal 11 Oktober, diikuti dengan penyuluhan tentang stunting dan gizi untuk balita pada tanggal 12 Oktober. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan tiga pelatihan terkait pengolahan produk, yaitu pelatihan abon lele pada tanggal 17 Oktober, pelatihan roti Floss Roll lele pada tanggal 18 Oktober, dan pelatihan minuman herbal telang pada tanggal 19 Oktober.

Tahap terakhir menekankan pada pengemasan dan pelabelan (24/10/20025) serta pemasaran digital dan pencitraan UMKM (25/10/2025) sehingga produk dapat siap untuk memasuki pasar lokal dan saluran daring.
Program ini ditujukan untuk ibu rumah tangga yang mengatur menu makanan, terutama 10 ibu dari Dasawisma RW 2. Mereka diajarkan tentang gizi seimbang dan cara mengolah bahan yang mudah didapat, seperti ikan lele, menjadi produk yang menarik untuk balita dan bisa diproduksi di rumah. Setelah pelatihan, pengetahuan tentang gizi meningkat 40%, dan semua peserta berhasil membuat tiga produk serta mendirikan kelompok usaha “Dapur Sehat Kembang Ikan,” yang mulai menjual melalui WhatsApp dan Instagram.

Pelatihan juga mencakup pengemasan yang bersih dan aman, serta pemasaran digital untuk mempromosikan produk. Program ini melibatkan kerja sama antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah untuk mempercepat transfer pengetahuan dan praktik baik.

Selaras dengan SDGs: nutrisi, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi. Inisiatif ini mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan ketahanan pangan di tingkat keluarga; SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya pencegahan stunting; serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penciptaan peluang usaha mikro bagi perempuan.

Dengan demikian, penguatan peran ibu sebagai pembuat keputusan dalam bidang gizi sehari-hari memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan rumah tangga.

Rencana untuk menjaga keberlanjutan. Selama enam bulan ke depan, kelompok usaha akan mendapatkan pendampingan untuk penyetaraan resep dan pengendalian kualitas yang sederhana, pengaturan pembukuan (arus kas, harga pokok penjualan, margin), serta penguatan merek. Target dari legalitas mencakup PIRT dan sertifikasi halal yang dilakukan secara bertahap, serta diiringi dengan partisipasi dalam bazaar UMKM Surabaya, agar produk menjadi lebih dikenal dan dipercaya oleh konsumen.

Stunting tidak hanya soal tinggi badan, melainkan menyangkut perkembangan otak dan masa depan anak. Dengan menguatkan ibu melalui pengetahuan gizi sekaligus keterampilan usaha program ini menawarkan pendekatan yang realistis dan replikatif bagi wilayah padat penduduk: menu sehat tercapai, ekonomi keluarga bergerak. Model seperti ini layak dipertimbangkan sebagai praktik baik kolaborasi kampus–masyarakat–pemerintah untuk mempercepat target Indonesia Bebas Stunting 2045. ril/hms

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry