Para pembicara dan juga pejabat FK Unair saat pembukaan ISGC (The 1st Indonesian Society of Genetic Counselors Conference) dan InaSHG (The 3rd Indonesia Society of Human Genetic Annual Meeting) memfokuskan upaya untuk mempercepat program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi) di Graha BIK, Sabtu (10/9/2022). DUTA/ist

Ke Depan, Pengobatan Penyakit Lebih Personal

SURABAYA | duta.co – Teknologi kesehatan semakin maju. Berbagai macam penyakit terutama yang berkaitan dengan genetik sudah bisa dideteksi secara awal.

Salah satu contohnya bintang Hollywood, Angelina Jolie. Seperti diberitakan banyak media, Jolie rela kehilangan payudaranya demi mempertahankan hidupnya.

Karena apa? Karena ternyata dari pemeriksaan genetika, Jolie diketahui memiliki bakat mengalami penyakit kanker payudara seperti nenak dan ibunya. Sehingga demi mencegah hal-hal itu terjadi, Jolie rela membuang payudaranya yang baginya adalah sebuah mahkota paling berharga.

Dari kasus Jolie ini, pemeriksaan genetika terus digencarkan. Selain untuk pengobatan, bisa juga untuk pencegahan (preventif). Sehingga ke depan, masyarakat bisa menghindari penyakit-penyakit genetika yang kemungkinan besar bisa dia derika di kemudian hari.

Tidak hanya itu, dengan pemeriksaan genetika ini,  pengobatan tidak lagi general atau umum berlaku untuk semua masyarakat. Karena, dengan kecanggihan teknologi, pengobatan sudah lebih spesifik dan individual. Di mana antara satu orang dengan orang lain, tidak akan sama tindakan pengobatannya, walau penyakit yang diderita sama.

Karena itu,  Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) mengumpulkan para ahli genetika dari dalam dan luar negeri dalam ajang ISGC (The 1st Indonesian Society of Genetic Counselors Conference) dan InaSHG (The 3rd Indonesia Society of Human Genetic Annual Meeting) memfokuskan upaya untuk mempercepat program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi) di Graha BIK, Sabtu (10/9/2022).

Dekan FK Unair, Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG (K) mengaku tim FK Unair harus terus mengembangkan diri. Harus terus belajar akan hadirnya teknologi-teknologi baru di bidang kesehatan ini.

“Kita akan terus belajar.  Bidang ilmi genetika di FK Unair akan terus bergerak maju. Karena ke depan, dengan hanya memeriksa lidah seseorang kita bisa tahu nutrisi apa yang dibutuhkan dan cocok dengan orang itu. Sehingga nantinya bisa mencegah penyakit-penyakit tertentu,” kata Prof Bus, panggilan akrab Prof Budi Santoso.

Presiden InaSHG, dr. Gunadi, PhD SpBA dalam kesempatan yang sama mengatakan menuju precision medicine initiative (pengobatan presisi) untuk pasien-pasien penyakit genetik akan ditunjang dengan teknologi pengumpulan informasi genetik (genom) dari manusia maupun patogen seperti virus dan bakteri atau bisa disebut dengan Whole Genome Sequensing (WGS) yang memiliki kapasitas untuk mendeteksi patogen dan mutasi genetik dengan keakuratan yang tinggi.

“Metode WGS akan dimanfaatkan untuk penelitian pengembangan pengobatan pada enam kategori penyakit utama lainnya, yaitu cancer, psoriasis, duchenne muscular dystrophy, stroke, diabetes dan polimorfisme.

Dalam implementasinya, BGSi dilaksanakan di tujuh rumah sakit vertikal yaitu RSUPN Cipto Mangunkusumo, RS Pusat Otak Nasional Mahar Mardjono, RSPI Sulianto Saroso, RSUP Persahabatan, RS Kanker Dharmais, RSUP Sardjito, hingga RS Prof I.G.N.G. Ngoerah.

Saat ini hanya terdapat 12 mesin WGS di Indonesia. Untuk mendukung berjalannya BGSi, Kemenkes menambah 48 mesin yang akan disebar di berbagai rumah sakit rujukan nasional yang terlibat dalam BGSi yang dilengkapi dengan mesin-mesin sequencing high throughput yang mampu memproses ratusan sampel genom manusia per minggu.

Target dalam dua tahun ke depan, ada 10 ribu genome sequences manusia yang terkumpul dan diteliti guna pemetaan varian data genome dari populasi penduduk Indonesia yang memiliki penyakit prioritas yang telah ditentukan sebelumnya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry