Dr. dr. Joni Wahyuhadi, Sp.BS  : Ketua Umum PERSPEBSI, Dr. dr. Rahadian Indarto Susilo, Sp.BS : sekekretaris umum , dr. Agus Chairul Anab, Sp. BS : bendahara umumm & ketua Tim PNNLS, Instruktur senior PNNLS , Prof.dr. Ahmad Faried, Sp.BS, Subsp. N-Onk (K), PhD, FICS - bandung : Guru besar bedah saraf, Dr. dr. Farhad Balafif, Sp. BS (K) dan dr. Bimo Dwi Lukito, Sp.S  dalam pelatihan Skill Manajemen untuk Tangani Pasien Neuro Emergency di RSUD Dr Soetomo untuk tenaga kesehatan khususnya dokter umum yang biasa bekerja IGD, Sabtu (27/5/2023). (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Jangan sampai terlambat membawa pasien dengan tanda-tanda gejala stroke ke UGD rumah sakit terdekat, terutama yang memiliki pelayanan stroke terpadu. Kecepatan waktu membawa pasien dengan tanda stroke mempengaruhi keberhasilan pasien dan mengurangi kematian dan kecacatan. Waktu emas untuk membawa pasien gejala stroke yakni dibawah 6 jam.

Ada empat gejala seseorang mengalami gejala stroke yakni FAST.  FAST merupakan singkatan dari istilah Face, Arm, Speech, Time. Dengan mengetahui FAST, setiap komponen dalam keluarga dan masyarakat memiliki kesadaran untuk segera membawa pasien stroke ke UGD rumah sakit terdekat.

Dari data yang dimiliki Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) memaparkan, 2,91 juta penduduk Indonesia alami stroke setiap tahunnya atau mencapai 10,9 per 1000 penduduk Indonesia. Untuk itu, perlu penanganan khusus untuk mengurangi resiko kegagalan kematian dan minimalisir kecacatan.

Seperti dikatakan Dokter spesialis bedah saraf, dr. Irwan Barlian Immadoel, angka kejadian stroke di Indonesia semakin lama semakin meningkat seiring dengan gaya hidup mensyaratkan yang terus berubah. Sehingga usia penderita stroke makin muda. Untuk mengetahui gejala awal stroke, perlu diketahu beberapa hal melalui metode FAST yanki Face, Arm, Speach dan Time.

“Face yakni wajahnya, wajahnya simetri atau tidak, kalau perot kita curiga itu stroke, kemudian Arm atau kalau ada lemah satu sisi kita patut curiga itu stoke . S itu speach dia bicaranya pelat atau tidak. T itu time ketika sudah diketahui tandanya, harus segera dibawa ke rumah sakit,” ungkap dia.

Saat ini penanganan stroke di IGD memang menjadikan fokus perhatian pemerintah. Penanganan stroke di IGD pun perlu penanganan yang cepat dan tepat.

“Kenyataannya seringkali pasien-pasien ketika datang di IGD tidak menjadi prioritas. Artinya kalau sudah lemah, obatnya biasa. Tak banyak dokter umum yang tahu bagaimana cara penanganan yang tepat pasien stroke di IGD.”

Dalam menghadapi banyaknya kasus neuroemergency di Indonesia, dokter umum sebagai garda terdepan dituntut untuk memberikan pelayanan terbaik. Namun, masih banyak dokter yang belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif dalam menangani kasus tersebut. Selain itu, belum ada pelatihan yang standar untuk menangani kasus neuroemergency di Indonesia.

Oleh karena itu, Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) merasa penting untuk menyelenggarakan pelatihan penatalaksanaan neuroemergency yang kami sebut Primary Neuroemergency dan Neurosurgical Life Support (PNNLS). Pelatihan ini dirancang secara komprehensif, terstandar, dan melibatkan tenaga ahli dari berbagai bidang. Terdapat lima spesialis yang terlibat dalam pelatihan PNNLS, yaitu spesialis bedah saraf, spesialis syaraf, spesialis radiologi, spesialis anestesi, dan spesialis neurologi anak.

Ketua Ketua Tim Penyusun, dr Agus Chairul Anab PERSPEBSI menggelar Pelatihan Skill Manajemen untuk Tangani Pasien Neuro Emergency di RSUD Dr Soetomo untuk tenaga kesehatan khususnya dokter umum yang biasa bekerja IGD, Sabtu (27/5/2023). Pelatihan untuk memberi pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif dalam menangani kasus tersebut. Selain itu, belum ada pelatihan yang standar untuk menangani kasus neuroemergency di Indonesia.

“Pelatihan ini dirancang secara komprehensif, terstandar, dan melibatkan tenaga ahli dari berbagai bidang. Terdapat lima spesialis yang terlibat dalam pelatihan PNNLS, yaitu spesialis bedah saraf, spesialis syaraf, spesialis radiologi, spesialis anestesi, dan spesialis neurologi anak,” jelasnya.

Pelatihan PNNLS akan memberikan pengetahuan dan keterampilan neuroemergency kepada dokter umum melalui seminar lanjutan dan workshop intensif selama dua hari. Terdapat 12 modul dan skill station yang akan disampaikan dalam pelatihan ini.

Dengan fasilitas yang memadai, instruktur yang ahli dalam bidangnya, modul yang terstandarisasi, serta mendapatkan sertifikasi dari Perhimpunan dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), PNNLS hadir sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan kesehatan terutama dalam penanganan kasus neuroemergency. Pelatihan ini akan diadakan di seluruh kota di Indonesia.

“Kami berharap bahwa melalui pelatihan PNNLS, dokter umum akan memiliki wadah untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam penanganan kasus neuroemergency, yang pada akhirnya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia,” pungkasnya. imm

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry