Gilang Nugara – Dosen D4 Analis Kesehatan Fakultas Kesehatan

ANEMIA pada ibu hamil masih menjadi masalah di Indonesia. Laporan Riskesdas menunjukkan adanya peningkatan kasus anemia di Indonesia, pada tahun 2007 ditemukan sebanyak 14,0% kasus. Pada tahun 2018 ditemukan 48,9% kasus, di kota Surabaya sendiri mencapai 41,7% sampai 71,7%.

Penyebab paling umum anemia pada ibu hamil adalah kekurangan zat besi. Kondisi tersebut dapat berdampak kesehatan ibu hamil bahkan menyebabkan kematian ibu, kematian bayi, cacat bawaan, prematur, Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan anemia pada bayi yang dilahirkan.

Keadaan kekurangan besi pada ibu hamil merupakan kondisi yang umum terjadi, khususnya pada trimester kedua dan ketiga kehamilan, karena selama kehamilan terjadi peningkatan kebutuhan besi tubuh ibu hamil. Kebutuhan harian zat besi wanita dewasa normal sekitar 0,8 mg/hari dan meningkat selama kehamilan hingga 7,5 mg/hari. Kondisi tersebut merupakan upaya tubuh ibu hamil untuk mengakomodasi janin yang sedang berkembang.

Kondisi defisiensi besi terkadang tidak bergejala hingga jatuh pada kondisi anemia defisiensi besi. Saat ini terdapat pemeriksaan konten hemoglobin retikulosit (Ret-He atau CHr) yang mampu menilai cadangan besi dalam tubuh, sehingga pemeriksaan ini dapat menilai khususnya ibu hamil yang mengalami defisiensi besi.

Pemeriksaan Ret-He saat ini memang baru tersedia di beberapa laboratorium besar saja, karena menggunakan alat khusus. Pemeriksaan ini mengukur langsung zat besi pada sel muda sel darah merah pada tubuh sehingga kondisi defisiensi besi dapat terdeteksi lebih dini.

Umumnya pemeriksaan ini di dampingkan dengan pemeriksaan hematologi karena digunakan untuk menegakkan diagnosa anemia defisiensi besi. Seseorang dinyatakan defisiensi besi jika hasil pemeriksaan Ret-He di bawah 28,2 pg.

Kondisi penanganan pada ibu hamil yang sudah jatuh pada kondisi anemia umumnya ditandai dengan gejala mudah lelah, lemas, lesu, nafas pendek, kepala pusing, kulit pucat, mata berkunang-kunang, detak jantung cepat dan tidak beraturan.

Maka dapat ditangani dengan segera melakukan pemeriksaan diri ke dokter di pelayanan kesehatan terdekat. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan termasuk pemeriksaan hemoglobin  di laboratorium. Mintalah pemeriksaan Ret-He guna memastikan kondisi defisiensi besi. Jika ibu hamil yang belum bergejala, maka dapat meminta langsung kepada dokter untuk melakukan pemeriksaan Ret-He.

Proses pemeriksaan ini membutuhkan darah sebanyak 3 cc dan tidak ada persiapan khusus pasien seperti puasa pada pemeriksaan ini. Darah yang di lakukan pemeriksaan di laboratorium paling lama 2 jam setelah darah di ambil. Minta dokter yang merujuk untuk menginterpretasi hasil pemeriksaan, agar menghindari kesalahan dalam mengartikan hasil laboratorium dan dapat diberi tindakan segera oleh dokter jika terjadi hasil yang tidak normal.

Bagaimanapun ibu hamil merupakan individu yang rentan dan tidak mungkin menghindari kondisi defisiensi besi. Pemeriksaan Ret-He setidaknya dapat digunakan untuk membantu menetapkan kondisi defisiensi besi pada ibu hamil sehingga dapat dicegah sedini mungkin dengan asupan gizi yang benar dan pemberian suplemen zat besi. Sehingga kondisi defisiensi besi yang mengganggu kesehatan ibu hamil dapat di minimalisir. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry