Tampak KH Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU memberikan penjelasan kepada para kiai dalam pertemuan khusus halaqah refleksi 33 khittah NU di Situbondo, Jawa Timur. (Duta.co/muh)

Munas Alim Ulama Jalan Lain Melepas Keruwetan NU

Oleh : KH Aziz Masyhuri*

Pengantar Redaksi

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai penyangga utama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus berdiri tegak, sesuai cita-cita para masyayikh, pendiri NU. Istilah KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, NU harus dikembalikan pada jati diri aslinya, Khittah 26 NU. Tidak boleh ditarik-tarik ke ranah politik. Sekarang ada gerakan menjadikan NU sebagai kendaraan politik, baik pribadi maupun kelompok. Ini berbahaya dan harus dihentikan.

Upaya mengembalikan NU pada jalurnya, tidaklah mudah. Membutuhkan kerja keras kiai-kiai pesantren. KH Hasyim Muzadi, yang kini dalam proses penyembuhan di Rumah Sakit Malang, kepada para kiai mewanti-wanti agar istiqomah dalam perjuangan ini, jangan patah semangat alias glembosi. Tugas NU ke depan semakin berat.

Sementara KH Aziz Masyhuri, pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah, Jombang menilai, bahwa, posisi kiai-kiai pesantren sekarang termarginalkan. Ini yang membuat NU semakin jauh dari cita-cita para pendiri.

Lalu bagaimana solusinya agar NU kembali kokoh mengawal umat dan tegaknya NKRI? Berikut Catatan KH Aziz Masyhuri seputar perjalanan khittah NU, ditulis menyambut halaqah ulama dalam rangka ‘Refleksi 33 Tahun Khittah NU’ di Pondok Pesantren (PP) Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur yang berlangsung selama dua hari. (red.)

***
Bicara PBNU sekarang, saya sangat sedih.  Saking banyaknya masalah, sehingga sulit untuk mengawali, dari mana saya menjelaskannya. Semua orang tahu, bagaimana kiprah PBNU ketika dipimpin Kiai Said Aqil Siradj. Sejak awal sudah saya prediksi bahwa model kepemimpinan Kiai Said, anak membuat organsiasi ini bakal semrawut dan banyak masalah (rusak).

Sejak Muktamar NU ke 32 di Makassar hati kecil ini, rasanya menangis. Sempat waktu itu, usai muktamar Makassar saya pesan kepada Kiai Said, jangan bikin macam macam di NU, ikuti saja jalan NU yang telah digariskan Kiai Hasyim Asy’ari. Saya masih ingat waktu itu, dan Kiai Said menjawab,  ya… ya…, kiai.

Tetapi, apa yang terjadi? Malah sebaliknya, pertengahan masa jabatannya, tepatnya menjelang Muktamar NU ke 33 di Jombang, situasi dibuat semakin runyam. Dari mulai proses pembentukan panitia muktamar hingga tempat penyelenggaraannya. Bahkan hasil Muktamar pun bermasalah.  Sehingga melahirkan protes banyak pihak.

Sampai sekarang, kita duduk di sini (halaqah ulama dalam rangka ‘Refleksi 33 Tahun Khittah NU’ di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo red.) juga, akibat ruwetnya NU yang dikelola kru Kiai Said Aqil Siradj. Dia bukan malah mengkokohkan garis perjuangan NU, malah mengoyak-oyak apa yang telah ditetapkan pendiri NU.

Lalu, kita mau berbuat apa?  Apakah hanya mengkritik Kiai Said Aqil, dengan harapan mau bertaubat? Atau hanya membandingkan gerakan NU sekarang dengan NU tempo dulu?  Lalu mengatakan NU sudah melenceng jauh dari khittahnya? Apa hanya itu yang akan kita lakukan?

Terus terang, PBNU dipimpin Kiai Said Aqil Sirodj telah menjadikan NU hanya sebagai anak perusahaan partai politik. Bukan rahasia lagi, bahwa NU sekarang sudah menjadi milik PKB. Ini sangat berbahaya. Saya kira para masyayikh tahu, dan sangat paham soal ini.  Sekali lagi, kita mau berbuat apa?

Jadi? NU yang mestinya begitu strategis dan besar tugasnya untuk keteguhan umat dan negara, sudah dikerdilkan Kiai Said. Saya mohon kepada hadirin yang hadir terutama para masyayikh ikut urun rembuk secara konkret, bagaimana mengembalikan NU pada masa kejayaannya, khususnya saat ini, menjelang peringatan seabad NU.

Terus terang, usai Muktamar NU ke 33 di Alun-Alun Jombang, hati ini sedih. Alhamdulillah, sedikit terobati, karena saya amat bangga dengan gerakan Napak Tilas nahdliyin ke tempat pendiri NU, yang digagas para kiai. Rasa sedih saya sedikit terobati dengan lahirnya gerakan napak tilas ini.

Sikap mufarakah para kiai dan tidak diakuinya kepengurusan PBNU yang dideklarasikan Gus Solah (KH Salahuddin Wahid) serta napak tilas di ndalem Syaikhona Kholil Bangkalan, disusul  Pondok Pesantren Cipasung, asuhan Almaghfurlah Kiai Ilyas Rukhyat sesungguhnya bisa menjadi pelajaran bagi PBNU. Pertanyaannya: Apakah PBNU mau memperbaiki diri?  Yang terjadi malah sebaliknya, statemant-statemant Kiai Said terkesan mengabaikan dan malah keluar jalur dari kultur NU.

Belum lagi gerakan politik Kiai Said yang membahayakan NU. Salah satunya runtang-runtungnya dengan Ketua Partai Perindo Hary Tanoe dengan lebel Yayasan Peduli Pesantren. Jika ini diteruskan tidak hanya merusak NU, tetapi juga merusak citra pondok pesantren.

Menurut hemat saya, jika peduli pesantren, Kiai Said dan Hary Tanoe tidak perlu sampai melembagakan bantuannya, bantu saja itu pesantren. Kenapa harus ada Yayasan Peduli Pesantren. Ada apa di balik semua ini? Saya sependapat jika Kiai Said bukan Ketua Umum PBNU,  kalau begitu tidak masalah. Tetapi sebagai Ketua Umum PBNU beban berat yang diterima NU dan pondok pesantren sangat besar. Karena itu, sekali lagi, saya ingin mendengar pendapat dari para Kiai dan Masyayikh NU bagaimana kita menyikapi semua ini?

Belum lagi kalau kita menyaksikan kiprah Rais Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin. Langkah dan kiprahnya bisa dibilang tidak nampak sebagai Rais Aam. Sekedar contoh, konon ada pemecatan Pengurus PBNU yang menyebrang ke partai politik tertentu. Tetapi, hingga kini saya yakin para masyayikh tidak melihat SK pemecatan itu. Saya khawatir itu hanya pemanis dibibir, tidak ada pelaksanaannya.

Belum lagi menyaksikan Rais Aam PBNU sebagai Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia), ini tidak jarang membuat bingung warga NU dan pengurus NU di bawah. Padahal sesungguhnya, jika ingin memperbaiki NU Rais Aam-lah yang memiliki peran penting itu. Cobalah ini kita renungkan bersama!

Contoh lain, ketika ada aksi 212 atau yang dikenal dengan Aksi Bela Islam III pada tanggal 2 Desember 2016.  Peran Kiai Ma’ruf begitu menentukan, sampai sampai warga NU di bawah bingung. Banyak yang mempertanyakan kapan warga NU disuruh turun aksi? Sehingga banyak juga yang tanya kepada saya. Saya jawab NU tidak ikut dalam aksi itu. Tetapi saya melihat bukan persoalan ikut aksi atau tidak, justru saya melihat ketidakjelasan sikap Rais Aam PBNU dalam segala hal, ini perlu dipertanyakan. Bahkan saya melihat justru Kiai Ma’ruf kelihatan lebih enjoy didalam MUI (yang sekarang lebih dekat dengan FPI) ketimbang di NU.

Lalu, rais aam yang selama ini menjadi poros gerakan NU. Apakah sekarang berada di bawah Ketua Umum Tanfidziyah PBNU? Kita harus jujur melihat ini semua, agar kita bisa memperbaiki organisasi milik ulama tersebut.

Zamannya Kiai Idham Cholid, saya selalu diajak Kiai Bisri Syansuri untuk mendampingi beliau, kala itu beliau menjadi Rais Aam PBNU. Meski Pak Idham banyak jabatan di luar NU beliau mendahulukan NU-nya dari pada yang lain, itu saja masih diprotes. Nah sekarang, Kiai Ma’ruf sebagai Rais Aam saya melihat tidak berdaya. Ada apa ini?

Saya teringat waktu Pak Mahfud MD, minta saran tatkala mundur dari FKB kepada Gus Dur, bagaimana jika dirinya menjadi Ketua MK (Mahkamah Konstitusi), Gus Dur hanya berpesan satu saja: “Pak Mahfudz: Sampean harus jujur ! Kalau tidak jujur, sampean tidak akan berani bertindak.”

Apa kaitannya dengan jamiyah kita, Nahdlatul Ulama? Apakah kita kehilangan sosok yang jujur, saya yakin masih banyak yang pinter dan jujur untuk mengerakkan NU yang begitu besar ini.

Beberapa waktu lalu saya mengusulkan agar kepengurusan NU dibagi menjadi dua, ini untuk menghindari rusaknya NU. Pertama, kita bikin Pengurus NU Dakwah dan Tarbiyah, Kedua, Pengurus NU Politik. Menurut saya ini harus diwujudkan dalam menjawab keruwetan NU.  Memang terkesan aneh, tetapi kalau kita mau, kita bisa lakukan. Ini mumpung masih ada waktu.

Jalan keluar harus segera dicari. Jangan sampai terbuntu oleh ego masing-masing. Sekedar berharap kepada para kiai dan masyayikh NU, usul saya segera menyelenggarakan Munas Alim Ulama NU sebagai langkah tegas menyikapi keruwetan yang melilit NU.

Sudah cukup kita membahas PBNU yang ada sekarang. Habis energi kita hanya berkutat mengkritisi Ketua Umum dan Rais Aam PBNU. Alangkah arifnya jika kita mau menarik diri sebentar untuk merumuskan langkah perjuangan NU ke depan.

Karena bagaimanapun para kiai dan masyayikh NU juga harus peduli terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. NU secara organisatoris telah memutuskan bahwa NKRI harga mati, artinya Indonesia sebagai negara kesatuan adalah sebuah pilihan yang harus dipertahankan.

Indonesia tidak boleh dipecah belah oleh siapapun, dan Indonesia negara berketuhanan tidak boleh diubah oleh siapapun. Ini sikap NU. Karena itu, NU menerima Pancasila sebagai asas dan lambang negara. Akhir-akhir ini banyak pihak mengkhawatirkan akan kesatuan negara RI. Seiring dengan ini, banyak juga yang bertanya di mana para kiai dan masyayikh NU. Inilah barangkali yang bisa saya sampaikan. Terima kasih!. (*)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan