Oleh Fahmi Arif El Muniry*

MUKTAMAR bukan sekadar agenda lima tahunan Nahdlatul Ulama. Ia adalah ruang tempat sejarah, harapan, dan cita-cita jam’iyah dipertemukan. Di sana akan lahir kepemimpinan baru, dirumuskan arah pengabdian baru, dan diteguhkan kembali komitmen untuk menjaga NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah. Menjelang Muktamar ke-35, perhatian warga nahdliyin tentu tertuju pada berbagai dinamika yang berkembang. Perbedaan pandangan, munculnya berbagai aspirasi, hingga hadirnya tokoh-tokoh yang dipercaya memimpin merupakan bagian yang wajar dalam organisasi yang telah melewati usia seabad.

Namun, di balik seluruh dinamika itu, ada satu hal yang jauh lebih penting untuk direnungkan. Apa yang sesungguhnya menjaga Nahdlatul Ulama tetap utuh selama lebih dari satu abad? Mengapa organisasi ini mampu melewati pergantian rezim, perubahan sosial, hingga derasnya arus globalisasi tanpa kehilangan identitasnya?

Jawabannya tentu bukan semata-mata karena NU memiliki struktur organisasi yang rapi, mekanisme musyawarah yang matang, atau jaringan kelembagaan yang luas. Semua itu penting, tetapi bukan satu-satunya penjelasan. Ada kekuatan lain yang bekerja secara senyap, tidak tertulis dalam Anggaran Dasar, tetapi hidup dalam keseharian warga nahdliyin. Kekuatan itulah yang saya sebut sebagai imunitas ruhani.

Sebagaimana tubuh manusia memerlukan sistem imun agar mampu bertahan dari serangan penyakit, organisasi juga membutuhkan daya tahan batin agar tidak mudah terseret oleh penyakit-penyakit moral yaitu ambisi yang berlebihan, ego kepemimpinan, fanatisme kelompok, dan kepentingan sesaat. Imunitas ruhani adalah kekuatan yang membuat organisasi tetap setia kepada nilai, meskipun zaman terus berubah.

Ruh yang Menjaga Jam’iyah

Imunitas ruhani Nahdlatul Ulama tidak hanya lahir dari pesantren. Ia tumbuh dalam seluruh ekosistem jam’iyah. Ia hidup di masjid dan musala, di majelis taklim, madrasah, perguruan tinggi, badan otonom, lembaga-lembaga NU, hingga rumah-rumah warga nahdliyin yang setiap malam masih menghidupkan tahlil, shalawat, istighatsah, khataman Al-Qur’an, dan doa bersama.

Tradisi-tradisi itu sering dipandang sebagai rutinitas keagamaan. Padahal, di sanalah sesungguhnya karakter warga NU dibentuk. Keikhlasan dilatih melalui khidmah yang tidak menunggu tepuk tangan. Kesabaran dipupuk melalui musyawarah yang mengutamakan kemaslahatan bersama. Adab dirawat melalui penghormatan kepada guru dan ulama. Semua itu membentuk daya tahan moral yang tidak mudah digantikan oleh aturan organisasi semata.

Robin Bush dalam Nahdlatul Ulama and the Struggle for Power within Islam and Politics in Indonesia (2009) menunjukkan bahwa ketahanan NU tidak hanya bertumpu pada kemampuan beradaptasi dengan perubahan politik, tetapi juga pada kuatnya tradisi sosial-keagamaan yang mengakar di tengah masyarakat. Sementara Mohammad Tolchah Hasan dalam Mafhūm Ahl al-Sunnah wa al-Jamā’ah ‘Inda Jam’iyyah Nahdlat al-‘Ulamā’ (Studia Islamika, 2005) menjelaskan bahwa Aswaja dalam tradisi NU bukan sekadar identitas teologis, melainkan cara berpikir dan cara bersikap yang mengedepankan tawassuth, tasamuh, i’tidal, dan komitmen terhadap kemaslahatan.

Nilai-nilai itu menjadi benteng pertama ketika NU menghadapi berbagai tantangan. Di tengah dunia yang semakin mudah terpolarisasi, NU diajarkan untuk mencari titik temu. Ketika media sosial sering mendorong kegaduhan, NU dibimbing agar mengedepankan tabayun dan musyawarah. Ketika jabatan sering dipandang sebagai tujuan, NU mengingatkan bahwa khidmah adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan, bukan sekadar kehormatan yang diperebutkan.

Warisan Muassis, Amanah Masyayikh

Bagi warga Nahdlatul Ulama, organisasi ini tidak dibangun hanya dengan kecerdasan para pendirinya. Ia lahir dari perpaduan ilmu, doa, tirakat, pengorbanan, dan keikhlasan para muassis. Karena itu, hubungan warga NU dengan para pendiri tidak berhenti pada penghormatan terhadap sejarah, melainkan berlanjut dalam bentuk pewarisan nilai, sanad keilmuan, dan adab perjuangan.

Dalam pandangan banyak nahdliyin, para muassis telah mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada struktur organisasi, yaitu ruh perjuangan. Sementara para masyayikh yang masih hidup menjadi penjaga arah moral agar perjalanan jam’iyah tetap berada dalam koridor Ahlussunnah wal Jamaah. Inilah yang membedakan NU dengan banyak organisasi modern. Sistem organisasi memang penting, tetapi sistem itu selalu disinari oleh bimbingan moral para ulama.

Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Ālim wa al-Muta’allim (1995) menegaskan bahwa ilmu hanya akan melahirkan kemanfaatan apabila disertai adab, keikhlasan, dan penghormatan terhadap mata rantai keilmuan. Spirit inilah yang kemudian menjadi fondasi tradisi NU. Kepemimpinan bukan semata-mata soal kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga kemampuan menjaga adab, merawat persatuan, dan mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan diri.

Menjelang Muktamar ke-35, NU tentu membutuhkan pemimpin yang visioner, cakap membaca perubahan, dan mampu membawa organisasi menjawab tantangan masa depan. Namun, di atas semua itu, NU membutuhkan pemimpin yang menyadari bahwa jabatan hanyalah amanah sementara, sedangkan ruh khidmah adalah warisan yang harus dijaga sepanjang masa.

Muktamar akan selesai dalam beberapa hari. Kepengurusan akan berganti dalam beberapa tahun. Namun Nahdlatul Ulama akan terus melanjutkan perjalanan sejarahnya. Yang menjaga perjalanan itu bukan hanya keputusan-keputusan muktamar, tetapi juga doa para muassis, kebijaksanaan para masyayikh, ketulusan para pengurus, dan jutaan nahdliyin yang setiap hari menghidupkan tradisi dengan penuh cinta.

Karena itu, menjelang muktamar, barangkali yang paling perlu kita rawat bukan sekadar semangat memilih pemimpin terbaik, melainkan semangat menjaga imunitas ruhani jam’iyah. Sebab organisasi yang besar dapat dibangun oleh kecerdasan, tetapi hanya organisasi yang memiliki kedalaman ruhani yang mampu bertahan melintasi zaman. Selama imunitas ruhani itu tetap hidup, Nahdlatul Ulama akan terus menjadi rumah besar yang teduh, setia pada Khittah 1926, dan menghadirkan maslahat bagi agama, bangsa, serta kemanusiaan.(*)

*Fahmi Arif El Muniry adalah Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry