
“Tuhan tak selalu berbicara lewat ayat. Kadang Ia memilih langit yang gelap, tanah yang retak, atau air yang menggenang.”
Oleh Aibidin*
AKHIR tahun 2024 dan awal hingga pertengahan tahun 2025 meninggalkan jejak luka bagi warga Kota Santri. Ketika langit Nusantara tak lagi bersahabat, hujan turun tak menentu, sungai meluap, dan bukit-bukit yang selama ini tampak tenang akhirnya runtuh dalam sekejap. Alam seakan bicara, dan sayangnya, kita baru benar-benar mendengar setelah korban berjatuhan.
Namun bencana alam hanyalah satu sisi dari narasi duka ini. Di sisi lain, kota ini juga diguncang oleh fenomena sosial yang tak kalah mencemaskan. Dari kriminalitas anak, perkelahian geng, pembunuhan bahkan kekerasan seksual. Di Wonosalam, dan baru saja terjadi, 183 remaja diduga gangster menggelar pesta liar. Seolah krisis moral menyusul tragedi alam. Jombang jadi kelam.
Desember Kelabu di Jombok
Semuanya bermula dari pagi yang suram di Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Jombang. Hujan deras sejak malam sebelumnya membuat sawah-sawah tergenang. Dedy, seorang petani, mencoba menyelamatkan benih padi bersama keluarganya. Tapi air tiba-tiba datang lebih deras dari biasanya—liar, tanpa ampun. Dedy dan keluarganya terseret arus. Nyawa mereka tak terselamatkan.
Warga tersentak. Dalam waktu singkat, aparat desa, relawan, wartawan, hingga pejabat pemerintah berdatangan. Semua tergerak oleh kesadaran yang sama: ini bukan sekadar bencana. Ini peringatan.
Magnet Tak Kasatmata
Di tengah duka, empati manusia seolah menemukan jalan pulangnya. Makanan dibagikan, pakaian disalurkan, dan posko darurat berdiri. Kamera wartawan menyala, menyampaikan kisah ke seluruh penjuru negeri. Tak ada komando resmi, tapi seakan ada kekuatan tak kasatmata yang menarik semua orang ke satu titik: kemanusiaan.
Alam memang tak bersuara, tapi ia mengguncang kesadaran kita dengan cara yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan.
Air Belum Surut, Tanah Pun Retak
Belum genap sebulan, 21 Januari 2025, banjir kembali menghantam. Kali ini Kecamatan Mojoagung dan Sumobito menjadi titik kritis. Sungai Gunting meluap. Rumah-rumah terendam. Meski tak ada korban jiwa, kehidupan warga lumpuh.
Belum sempat kering, dua hari kemudian, tanah longsor menghebohkan Dusun Baturejo, Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam. Lima orang tertimbun dalam tidur mereka. Proses evakuasi berlangsung dramatis. Saya menyaksikannya langsung—bagaimana petugas BPBD dan relawan menggali dengan alat seadanya, berpacu dengan waktu yang terus menipis.
Refleksi di Tengah Reruntuhan
Meliput semua ini membuat satu pertanyaan terus terngiang dalam diri saya. Apakah kita benar-benar mendengar apa yang hendak disampaikan oleh alam?
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperjuangkan ambisi pribadi, kekuasaan, atau kebenaran versi kita sendiri. Lupa menunduk pada tanah yang kita injak dan langit yang kita langgar. Alam tak lagi bicara lewat puisi atau hujan gerimis. Ia memilih banjir, longsor, dan tanah retak sebagai medianya.

Tanda-Tanda Itu Nyata
Sebagian orang menganggap banjir dan longsor adalah “musim tahunan”. Tapi saya percaya setiap bencana menyimpan pesan spiritual yang tidak boleh kita abaikan. Setiap korban bukan sekadar angka. Setiap rumah yang hancur adalah hidup yang patah.
Ini saatnya kita bertanya ulang apakah kita sudah hidup selaras dengan alam? Atau justru rakus membangun tanpa arah, menggunduli bukit, mencemari sungai, dan menjadikan ruang hidup hanya sebagai objek ekspansi ekonomi?
Tuhan tidak sedang murka. Ia hanya ingin kita lebih peka. Dan ketika pesan-Nya datang, tak selalu lewat mimbar. Kadang justru lewat derai air dan reruntuhan tanah.
Ketika Bencana Berganti Kriminalitas
Namun luka Kota Santri tak berhenti di sana. Ketika lumpur mulai kering, luka moral menganga. Fenomena kekerasan antar remaja meledak perkelahian geng, pembunuhan, bahkan pemerkosaan. Salah satu yang menggemparkan baru saja adalah pesta liar 183 gangster remaja di Wonosalam, hanya berselang hari dari longsor yang menelan korban.
Apa yang salah dengan kita? Bencana seharusnya menyatukan dan menyadarkan. Tapi yang terjadi justru krisis sosial yang makin akut.
Barangkali ini saatnya Pemkab Jombang dan seluruh elemen masyarakat benar-benar mengambil langkah strategis. Tak hanya dalam menghadapi musim hujan dan menjaga kelestarian alam, tetapi juga menyelamatkan generasi muda dari kehampaan nilai dan kehilangan arah.





































