Oleh: Muhtazuddin *

DUA hari, Rabu sampai Kamis malam Jumat (11-12 Januari 2017) saya diberi kesempatan menyaksikan kesibukan para kiai NU (Nahdlatul Ulama) di PP  Salafiyah Syafi’iyah  Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, sebuah pesantren di mana NU memutuskan kembali ke khittah, 1926.

Beliau-beliau sibuk menggelar halaqah dalam rangka merefleksikan 33 tahun perjalanan Khittah NU. Terasa sekali, sosok Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin, pahlawanan nasional yang dulu menjadi tuan rumah Muktamar ke 27 tahun 1984, seakan hadir mengiringi jalannya halaqah.

Suasananya begitu teduh, acaranya begitu padat. KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, yang notabene cucu Kiai As’ad, pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah membesut tiga acara sekaligus. Adalah seminar ilmiah, halaqah dan pertemuan khusus para masyayikh.

Ketiga acara itu menggambarkan betapa besar sikap kehati-hatian dan kesungguhan Kiai Azaim sebagai bentuk rasa tanggungjawab untuk meneguhkan dan meluruskan kembali khittah-26 NU yang kini, menurutnya, sedang berada di persimpangan jalan. Ketiga acara  itu digelar bekerjasama dengan Lajnah Ta’lif  wan Nasyr (LTN) PWNU Jatim dan TV9.

Ada beberapa catatan kecil yang patut diunggah untuk diketahui warga nahdliyin. Ini sekaligus (barangkali) bisa menjadi catatan kecil bagi PBNU untuk berbenah.

Pertama,  seminar nasional yang digelar di Aula Ma’had Ali dengan menghadirkan kalangan intelektual, mahasiswa, LTN PWNU, pembicara Mun’im DZ (PBNU), KH Afifuddin Muhajir dikenal ulama intelek, KH Firjaun Barlaman putra KH Ahmad Sididiq,  Prof Masdar Hilmi (Akademisi) dan Prof Abu Yasid  Rektor Institut Agama Islam Ibrahimy, telah melahirkan rekomendasi yang menarik.

Seminar ini didominasi intelektual dan tentu cara merefleksikan sangat kritis dan solutif, serta antisipatif. Dalam seminar mengemuka berbagai pandangan, KH Afif misalnya, mengatakan, khittah itu sesuatu yang tsawabit (tetap), harga mati dan siapa yang melanggar harus diingatkan,  bahkan di nonaktifkan kalau tidak mengindahkan. Dalam kacamata Kiai Afif,  NU harus tegas, kalau tidak organisasi ini akan menjadi batu loncatan orang-orang politik.

Sementara  Mun’im DZ menganalogkan khittah seperti GBHN yang menuntut kedisiplinan para pimpinan atau yang menahkodai NU. Cak Mun’in melihat saat ini, khususnya yang berada di tataran elit struktur jalan sendiri-sendiri dengan tujuan sendiri sendiri pula. Dan kondisi saat ini semakin jauh atau melenceng dari Khittah-26.

Sedangkan KH Firjaun Barlaman, putra kiai Ahmad Shiddiq (penggagas khittah) mengatakan, bahwa NU sekarang sudah tidak terhormat dan tidak dihormati. Tidak mulia dan tidak dimulyakan. Semua ini akibat dari fikiran dan sikap oknum pengurus NU. Gus Firjon, panggilan akrabnya meminta agar masyayikh berusaha keras untuk mengembalikan NU pada jalurnya. Jangan sampai NU menjadi kendaraan politik oknum.

Dalam seminar itu juga disimpulkan bahwa khittah sangat diperlukan dalam menghadapi berbagai persolan keumatan dan kebangsaan, bahkan dalam menghadapi fenomena global.

KH Syadid Jauhari (Pengasuh PP Assuniyah Kencong, mantan pengurus PBNU, dan saat ini menjadi pengurus PWNU Jatim),  menjelaskan,  bahwa konflik-konflik diberbagai dunia Islam itu, disebabkan perseteruan laten antara Syi’ah dan Wahabi. Sementara Ahlusunnah justru menjadi korban.

Ketika Khittah ditinggalkan, itu artinya memberi peluang kepada syi’ah, wahabi dan liberal berkembang di Indonesia. Dan jika itu yang terjadi, maka akan terjadi konflik sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah.  Oleh karena itu,  Brunai dan Malaysia begitu ketat melarang dengan tumbuhnya syiah, wahabi dan Liberal.

Kedua, adalah prosesi halaqah yang membahas khittah dari prespektif para kiai baik dari struktur maupun kultur NU. Dengan halaqah ini, KHR Ahmad  Azaim Ibrahimy ingin melihat para kiiai berhasil merefleksikan perjalanan khittah dengan cara berfikir kiai yang sangat hati-hati, jernih dan  bijaksana.

Nah, dari seminar dan halaqah dapat menggambarkan sejauh mana khittah itu dijalankan atau ditinggalkan. Hasil ini tentu dapat dijadikan landasan untuk menentukan sikap dan bertindak sebagai upaya penyelamatan NU.

Ketiga, ada juga pertemuan masyayikh. Pertemuan khusus ini dilaksanakn di kediaman Gus Azaim dengan tertutup dan selektif. Namun alhamdulilkah kami masih berkesempatan untuk menyaksikan pertemuan itu.

Pertemuan Khusus antara KH Ma’ruf Amin  dengan kiai-kiai dari Jabar, Jateng, dan Jatim yang mempunyai sanad dengan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari itu membahas ikhtiar untuk menentukan sikap dan langkah selanjutnya, bagaimana  mengembalikan NU pada khittah dan penyelamatan organisasi dari tangan-tangan politisi.

Ini digelar sebagai bentuk rasa tanggungjawab kiai sebagai pemegang ‘saham’ utama NU. Dalam pertemuan itu mengemuka, bahwa pada tahun 1982 persoalan hanya sebatas pada persoalan politik, serta efektivitas organisasi. Itu saja sudah menjadi alasan desakan mundur ketua umum ketika itu.

Sementara sekarang ini persoalan yang jauh lebih besar, lebih kompleks dan menyangkut yang fundamental, seperti pelanggaran aqidah, khittah, pelecehan Qanun Asasi dan kebiasaan melanggar AD/ART, di samping sudah berani berseberangan dengan fatwa Rais Aam. Maka itu seharusnya menjadi alasan kuat untuk mendesak perubahan ketua umum yang menyebabkan NU tak terhormat dan tidak dihormati. Formasi ini terus dimatangkan. Para kiai masih merasa perlu melakukan pertemuan kembali dan disepakati Sabtu 21 Januari mendatang.

Gaung halaqah terus berlanjut. Nahdliyin juga berharap ada solusi baik untuk meneguhkan kembali khittah-26. KH Fatchurrahman yang akrab disapa Gus Tuk, Pengasuh Pondok Pesantren Al Futuhiyah, Kembeng, Peterongan Jombang ikut menyoroti perkembangan organisasi ini.

Menurut Gus Tuk, pengurus NU sekarang kehilangan tiga kredibilitas. Pertama kredibilitas personal, artinya hilangnya militansi dan loyolitas terhadap organisasi (NU), akhirnya ketika organisasi menyuruh ke utara pengurus malah berjalan ke selatan.

Kedua, kredibilitas lembaga, mestinya posisi NU itu sebagai diniyah wal ijtimaiyah, tetapi, kenyataannya NU dijadikan alat komersial. Ini berbahaya.

Ketiga, kredibilitas sosial. Pengurus NU sekarang kehilangan solidaritas. Dulu semangat gotong royong atau kebersamaan di NU begitu besar. “Sekarang berubah menjadi barter kepentingan,” begitu Kiai Fatchurrahman.

Akhirnya, tambah Gus Tuk,, pengurus NU sekarang orientasinya kekuasaan atau partai politik, jika dibiarkan maka NU akan berubah menjadi kelompok sektarian, ia mencontohkan apa yang dikatakan Gus Dur kala itu.

“Kata Gus Dur kalau orang pinter masuk ke lembaga tertentu (menjadi sponsor, cukong, bahkan tukang red) maka akan teramputasi nilai keilmiahannya, karena sudah tidak bisa objektif lagi. Satu contoh seorang atlet menjadi sponsor, maka, tidak bersin disuruh bersin, harus mau walau pun ia sehat. Saya melihat pengurus NU sekarang seperti itu, ada yang memainkan,” katanya sambil tesenyum.

Inilah barangkali catatan kecil yang, menurut hemat kami, dipersembahkan untuk elit NU khususnya Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj demi peneguhan kembali khittah-26. Semoga beliau mampu mengemban amanah dengan baik, amin.  Waallahu’alam. (*)

 *Wartawan Harian Umum Duta Masyarakat.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry