
By Isfandiari MD
ANTUSIASME x-travaganza peringati 17 Agustusan tak memudar dari tahun ke tahun. Lomba-lomba masih dirindukan anak-anak dan dewasa. Sepeda hias bagi bocah, karambol-gaple-mancing buat kaum tua. Sekali setahun bergumul dalam keriangan, lupakan penat untuk semua, kaum seret ekonomi, kelas menengah sampai yang tajir melintir. Sama-sama ngopi bareng di kampung, komplek-komplek, begadang sambil karaokean.
Semangat menikmati, 81 tahun merdeka dengan bersyukur atas moment ini layak dihargai. Untuk mereka yang kritis, bertabur catatan tertoreh: Sudahkah kita merdeka seperti yang dulu diragukan Tan Malaka pada founding father lain?
Mari simak beberapa peristiwa. Minggu 23 Agustus lalu terjadi moment lomba gerak jalan berhadiah sepeda, motor listrik sampai hadiah umrah. Acara disokong Walikota, Kapolres, sampai tingkat RW/RT seputaran Tangerang. Mulai subuh, UMKM, pedagang reguler persiapkan dagangan. Panggung berdiri megah di venue, artis dangdut berseka, mematut-matut diri demi perform maksimal. Semua antusias. Matahari belum lagi tinggi, ratusan orang berjubel di zona start dilepas pejabat setempat teriring antusiasme warga dengan lambaian tangan atau selfie dengan mereka. Gerak jalan mulai, di pertengahan panitia membagi-bagikan kupon undian yang nantinya diundi.
Awalnya tertib. Warga santun meminta kupon, siapa tahu beruntung. Tapi tak lama, mereka lantas beringas, suasana memanas, kerumunan berubah liar meminta paksa kupon, rebutan saling tarik-dorong. Panitia menyerah, kupon diterbangkan ke ke udara, massa berebut beberapa tersungkur, anak-anak menangis. Sebagian yang waras bergeming, geleng-gelang kepala, menepuk dada, sedih prihatin. Bukan karena tidak kebagian kupon, tapi miris melihat orang yang tiba-tiba liar. Sebuah gambaran masyarakat kita umumnya.
Prilaku tak teroganisir, cenderung beringas, egois musabab iming-iming hadiah yang belum pasti. Inikah yang namanya merdeka? Sedang mereka belum mampu memerdekakan dirinya dari hasrat liar untuk soal-soal receh. Beres undian massa bubar. Sedikit orang lebih girang dari lainnya, mereka para pemenang undian. Mengayuh sepeda baru, riding bermotor listrik, dapat ganjaran umrah. Pelan-pelan masa menipis lantas sepi, tinggalah tumpukan sampah luarbiasa, jejak lumrah kerumunan warga Nusantara. Inikah yang disebut merdeka? Sedang kita tidak mampu menjaga lingkungan yang menganggu estetika dan kesehatan?
Setelah 81 merdeka katanya semua serbamudah. Lapar di tengah malam, tak perlu risau, cukup pesan lewat HP, abang ojek yang baik hati langsung belikan dan datang tak berapa lama. Inikah warisan insan merdeka? Merdeka buat siapa? Bukannya itu tanda kalau tenaga kerja murah melimpah ruah? Pagi-siang sampai larut malam mereka nunggu orderan berjibaku bertaruh nyawa di jalanan demi pemuas kebutuhan kita. Mereka pelayan kaum mapan demi upah tak seberapa. Tak hanya ojeker, pemburu jasa lainpun sama, coba teliti buruh serabutan, para penggali tanah, pekerja kasar menunggu rejeki di pinggir jalan sekedar mencari rejeki yang tak seberapa. Sedang dalam ‘habitat’ lain, orang berkelimpahan dengan gaya hidup yang nyaris tak masuk logika, supermewah dipamerkan di medsos. Bandingkan dengan negara maju, biaya jasa dihargai tinggi (bukan mahal tapi sesuai), ada standar upah manusiawi berikut perlindungan tenaga kerja.
Kemerdekaan sejati memang masih jauh. Kebobrokan- kegagalan pengelolaan negara masih terjadi. Faktanya, banyak oknum pejabat negara yang stagnan dalam tata kelola administrasi, involusi plus mahalnya biaya operasional mereka. Paling populer dalam perbincangan publik, kasus korupsi nominal diluar nalar. Bagaimana dengan dunia spritual? ‘Oknum’ tokoh agama bukannya membuat adem malam ajarkan umat beringas, mengkritik menyerang dengan emosi tanda adab etika. Makian, sumpah serapah dianggap semangat membara membela kebenaran-kebatilan. Padahal itu nyata-nyata mempermalukan agama yang seharusnya suci dan luhur. Ritual kebudayaan dibenturkan seolah anti-tauhid, dianggap sirik-musrik. Lahir narasi-narasi irasional tak masuk akal, kisah ajaib yang dibuat-buat untuk poles kredibilitas tokoh atau aliran tertentu. Ujung -ujungnya mengkerdilkan logika dan wawasan. Masih untung cuma segelintir yang percaya, menjadi bencana spiritual jika jadi bahan ejekan, dianggap lucu-menggelikan. Semuanya jauh dari merdeka secara spiritual.
Soal diskriminasi masih terasa. Pernah dengar iklan lowongan pekerjaan yang melarang calonnya bertato? Atau kalimat ‘berpenampilan menarik’? Ini bukan wujud negara merdeka, kental nuansa diskriminasi. Tatto ada dalam khazanah budaya kita dan penampilan menarik menyerempet soal lookism– melanggar hak asasi manusia. Penghakiman atas dasar selera atau penampilan tak relevan dengan prilaku, kecakapan seseorang apalagi karakter baik-buruk.
Catatan beres agustusan masih panjang berjilid-jilid. Persoalan politik, ekonomi, hukum, lingkungan, peran ormas, kriminalisme, respect pada veteran sampai kesetaraan kaum disabilitas. Tapi lifes goe on! Perhelatan kemeriahan kemerdekaan tetap dinanti antusias tiap tahun. Idealnya tak hanya seremonial tapi ikhtiar perbaikan karakter bangsa merdeka. Siapa tahu atas rahmat Allah, semuanya tersadar dan menikmati apa yang disebut MERDEKA!
Catatan miris ‘kemunduran’ peradaban. Ini bukanlah Merdeka yang kita inginkan!(*)





































