Perwakilan dari Program Inovasi, perwakilan pemerintah Australia, LP Maarif, Kemendikbud, Kemenag dan PBNU berfoto menabuh rebana sebagai tanda awal kerjasama Inovasi dengan LP Maarif di Surabaya, Sabtu (25/5) petang. DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Program Inovasi untuk Anak Indonesia (Inovasi) menjalin kerjasama dengan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU).

Kerjasama ini untuk mencari solusi bersama atas permasalahan pendidikan yang terjadi di Indonesia terutama di ruang kelas. Sehingga nantinya anak Indonesia bisa lebih maju.

Peresmian kerjasama dua lembaga itu dilakukan di Surabaya, Sabtu (25/5) petang. Beberapa pihak hadir di acara tersebut.Ketua LP Maarif Pusat, Zainal Arifin Junaidi mengapresiasi kerjasama ini.

Walau di Jawa Timur hanya terbatas untuk lima kabupaten/kota. Yakni Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Sumenep dan Sidoarjo. “Kalau bisa di semua daerah sehingga lebih merata,” ujar Zainal Arifin.

Diakui Zainal Arifin, sampai saat ini  sekolah dan madrasah  di bawah naungan LP Maarif berjumlah 20.136 di mana jumlah madrasah sebanyak 12.611 lembaga sementara sekolah 7.525 lembaga.

“Jumlah madrasah yang berada di bawah LP Maarif jauh lebih banyak dibandingkan madrasah negeri yang di bawah Kementerian Agama,” ujarnya.

Namun, diakui Zainal Arifin, madrasah-madrasah di bawah LP Maarif itu justru banyak berada di pelosok daerah dengan permasalahan yang sangat banyak.

“Dengan kerjasama ini semoga bisa memberikan solusi atas permasalahan tersebut,” ungkapnya.

Program Inovasi memang hanya untuk empat provinsi di Indonesia yakni NTT, NTB, Kalimantan dan Jawa Timur dengan total 17 kabupaten/kota.

Namun program ini dikatakan Program Director Inovasi, Mark Heyward, tidak berhenti di 17 kabupaten/kota tersebut. “Harapannya program ini akan menyebar dengan sendirinya,” ujar Mark.

Walau berasal dari Australia, namun Program Inovasi ini tidak membawa konsep pendidikan Australia untuk diterapkan di Indonesia.

Karena permasalahan yang ada di Australia tidak sama dengan Indonesia. “Sehingga solusinya juga berbeda. Kita di sini mencari solusi bersama, bukan kami yang membawa solusi itu,” jelas Mark.

Solusi atas permasalahan yang terjadi di ruang kelas menjadi penting. Karena masalah pendidikan di Indonesia bermula dari ruang kelas.

Mark menjelaskan permasalahan itu harus diselesaikan dengan solusi lokal sehingga bisa lebih mengena. Karena solusi ini bisa berhasil di sekolah A tapi belum tentu berhasil di sekolah B.

“Fokus besarnya adalah tiga hal yakni literasi, numerasi dan inklusi,” tukasnya.

Untuk literasi dengan meningkatkan minat anak membaca buku. Numerasi yakni kemampuan matematika.

Dan inklusi adalah bersama-sama tanpa ada satu anak pun yang ditinggal walau anak itu mengalami keterlambatan dalam belajar.

“Mencari solusi juga tidak hanya di kelas, tapi sistem pendidikannya yang juga harus mulai ditata,” tambah Mark.

Kepala Balitbang Kemdikbud, Totok Suprayitno juga mengapresiasi kerjasama LP Maarif dengan Inovasi.

Dikatakannya jika LP Maarif sudah mau bekerjasama  maka hal itu menjadi sebuah berkah bagi Inovasi.

“LP Maarif ini jumlahnya banyak, jika satu sudah mengenal, maka semua akan mengenal. Inovasi akan semakin dikenal,” katanya.

Diakui Totok, Program Inovasi ini memang untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada.

Di Indonesia, jumlah murid yang bersekolah memang terus meningkat. Dari hasil survei, angka partisipasi kasar (APK) jumlahnya terus naik.

Tapi, anehnya kualitas belajar siswa tidak pernah meningkat. “Ternyata di Indonesia anak bersekolah tanpa belajar. Schooling without learning,” jelasnya.

Sejauh ini, pemerintah, lembaga pendidikan terus melakukan investasi untuk memperluas sekolah, menambah ruang kelas dan sebagainya.

Tapi apakah itu bisa meningkatkan kualitas belajar, juga belum tentu. Membangun perpustakaan hanya sekadar membangun tanpa memikirkan apakah bukunya dibaca atau tidak.

Sekolah swasta kata Totok,  akan banyak kesempatan melakukan inovasi. Kalau sekolah negeri, terbentur aturan-aturan dari Kemendikbud yang itu dipegang teguh pejabat di daerah.

“Sehingga akan membatasi kreasi seseorang terutama guru. Semoga LP Maarif menjadi pioner dalam mengembangkan inovasi,” jelass Totok. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry