
SURABAYA | duta.co – Potensi kota Surabaya menjadi salah satu kota yang melahirkan sejumlah sineas dalam perfilman di Indonesia sangat besar. Banyak lomba tigkat SMP, SMA dan Perguruan Tinggi digelar dan memunculkan bakat sineas potensial dan berkembang di Kota Surabaya.
Namun, hingga saat ini belum ada wadah yang mampu memfasilitasi agar karya produksi film benar-benar lahir di Kota Surabaya. Kendala Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu faktor minimnya karya film dari Kota Surabaya. Kalaupun ada sineas yang sukses di Yogya, Jakarta mereka tidak mau balik ke Kota Surabaya.
Atas pertimbangan itulah yang mendorong sekelompok pemuda di Surabaya menggelar Festival Sinema Kita (FSK) di Balai Pemuda Surabaya mulai Sabtu hingga Senin, 10-12 Mei 2025. Pertama kalinya digelar di Kota Surabaya sebagai bagian dari HUT Kota Surabaya sekaligus mencari bakat-bakat terpendam muncul.
Hafshoh Mubarak Ketua Pelaksana FSK mengatakan kegiatan kali ini mengusung tema “City and Us, Cerita Kota, Cerita Kita” FSK mengkolaborasikan banyak hal, mulai dari mengeksplor layar lebar, workshop, dan bedah buku dari ruangobrol.id berjudul “Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah” karya Noor Huda Ismail.
“Selain itu, berjejaring dengan industri kreatif, ngobrol bareng para pelaku industri film dan pengajar profesional film, screening film, hingga pameran dari tenant edukasi,” ujar Hafshoh saat ditemui di sela screening film road to Resilience dan bedah buku di ruang teater Balai Pemuda Surabaya, Minggu, 11 Mei 2025.
Hafshoh mengakui, sineas di Surabaya sebagian besar berasal dari kelompok atau komunitas di kampus dan sekolah, sedangkan yang dari production house (PH) belum banyak.
“Festival Sinema Kita ada karena kami ingin membangun ekosistem perfilman Kota Surabaya. Anak muda di Surabaya menekuni dunia film sangat tinggi. Contohnya, banyaknya festival film tingkat pelajar mulai SMP sampai SMA. Tapi saat mereka mulai serius, memang ekosistem tidak mendukung. Ketika mereka pindah ke Yogyakarta atau Jakarta, tidak mau pulang,” ungkapnya.
Hafshoh menjelaskan, ekosistem perfilman ini bukan soal penayangan, namun bagaimana produksi, izin, penyediaan pemain, kru, dan alat sangat penting dalam mendukung industri film.
“Kampus di Surabaya yang memiliki jurusan film itu hanya satu, Undika (Universitas Dinamika Stikom Surabaya), yang lain kalau untuk sekolah swasta itu SMK Dokter Soetomo, dan sekolah negeri hanya SMKN 12, yang lain jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual),” jelasnya.
Noor Huda Ismail, penulis buku “Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah” hadir langsung di Festival Sinema Kita (FSK) Balai Pemuda Surabaya untuk membedah buku karyanya di hadapan para pengunjung, mulai dari perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Unicef, pejabat Pemerintah Kota Surabaya, akademisi, sineas muda Surabaya, hingga mahasiswa.
Menurutnya, buku ini mengemas isu yang sangat sensitif. Namun, bagaimana mengajak masyarakat bisa menerima dengan lebih rileks dan santai. Terutama, klasifikasi dari salah satu kelompok perempuan dan anak-anak sebagai korban dalam konflik Suriah yang berjumlah ratusan orang.
“Buku ini berkisah tentang Warga Negara Indonesia (WNI) yang terseret kisah dalam koflik Suriah. Jadi pada 2014 itu, dengan adanya media sosial ada warga yang tergiur untuk pergi ke sana (Suriah). Dan, apa yang terjadi? Saya kelompokkan. Siapakah mereka? Dari JI (Jamaah Islamiyah), JAD (Jamaah Ansharut Daulah), dari kelompok yang pro ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah),” terangnya.
Noor Huda menjelaskan, buku ini membutuhkan riset selama satu tahun, mulai wawancara langsung dengan banyak narasumber. Di antaranya, sejumlah orang yang pernah bergabung dengan kelompok militan seperti JI, JAD, dan ISIS dan kembali ke Indonesia.
“Tapi, setelah saya wawancara, saya tulis, buku ini saya kasihkan ke mereka untuk dicek, draft-nya itu benar atau tidak. Kan saya sebagai penulis, salah satu kode etik kita itu tidak boleh mencederai mereka. Jadi mereka harus tau,” jelasnya.
Melalui buku ini, Noor Huda berharap masyarakat paham bahwa apa yang terjadi di dunia global juga akan berdampak ke masyarakat Indonesia. Termasuk, bagaimana pemerintah Indonesia melakukan upaya keamanan terhadap warganya yang justru datang di tengah negara konflik.
“Ini pendekatannya bukan hanya lewat buku, tapi film, kampanye sosial media, dan forum. Namanya transmedia, story telling gitu. Ini bukan kampanye keamanan tapi sosialisasi pada perempuan dan anak dengan mengundang Densus 88, Unicef, dan stakeholder,” pungkasnya. imm







































