BUSANA : Berbagai busana dikenakan mahasiswa menjelang UTS di kelas Ilkom Fisib Uniga. (duta.co/dedik ahmad)

MALANG | duta.co – Mahasiswa Universitas Gajayana (Uniga) Malang ramai-ramai memakai pakaian adat saat ujian tengah semester (UTS). Mereka atas kesadaran sendiri mengenakan pakaian daerah. Selain menambah rasa percaya diri, diyakini hal ini akan memberikan arti tersendiri bagi suasana kampus.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Budaya Uniga, Muhammad Asnan S Sos. Bahwa ia menggagas agar mahasiswa tampil beda. Dimana keberadaan dan kehadiran mahasiswa di kampus akan menambah nilai perguruan tinggi tersebut di mata masyarakat.

“Selain menambah percaya diri mahasiswa saat UTS, juga mengajari mahasiswa agar tidak sekedar tampil,” ungkap Muhammad Asnan.

Kaprodi Ilmu Komunikasi Massa ini menjelaskan pula, Uniga ini dulu pernah besar, namun hari ini citra di masyarakat mulai turun. Ia banyak menjumpai mahasiswa yang minder kurang percaya diri jika kuliah di kampus ini. Maka melalui pendekatan dari hati ke hati, ngobrol di warung kopi, akhirnya banyak yang menerima gagasan ini.

“Dengan berangkat dari yang kecil ini siapa tahu keberanekaragaman asal mahasiswa kami yang dari Sabang sampai Merauke ada, serta pakaian adatnya dapat bernilai di masyarakat,” ucap Muhammad Asnan.

Terkait kostum yang mulanya sedikit mahasiswa yang mengenakannya, tahu-tahu banyak yang memakai baju adat. Hingga pelaksanaan UTS yang selama sepekan ini semakin seru dan unik.

Kaprodi Ilkom ini meyakini pula, menghadapi generasi milenial pendekatannya dengan menghadirkan suasana yang berbeda juga. Mereka dibuat merasa nyaman di kampus. Kemudian menstimulan memunculkan ide-ide baru, serta menggugah daya kreativitas dan idealisme. Hingga harapannya, secara kreativitas berpikir mahasiswa Uniga bisa setara dengan lulusan perguruan tinggi negeri.

“Dengan mengajak mahasiswa berbusana adat keceriaan dan kreatifitas muncul. Kami pun sebagai dosen memberi contoh terlebih dahulu. Apresiasi banyak bermunculan, tapi kami tidak memberikan toleransi pada plagiasi dan contekan,” tutup Muhammad Asnan. (dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry