SURABAYA | duta.co – Tidak ada kekerasan. Mesti macam-macam cara santri melawan narasi ‘busuk’ Trans7. Ada yang menggunakan syair rebana, sambil baca shalawat, ada juga yang serius membaca hizib, sebuah doa khusus dalam menghadapi situasi tertentu. Yang terakhir ini sering dianggap sebagai benteng atau perlindungan dari kejahatan.

“Nah! Yang terakhir ini lebih serius. Dampaknya bisa berbahaya. Kalau Allah swt yang menghukum, manusia tak kuasa menolaknya. Saya melihat narasi Trans7 ini memang sudah berbahaya,” demikian disampaikan Prof Dr M Mukhrojin MM yang akrab dipanggil Gus Khozin kepada duta.co, Jumat (17/10/25).

Menurut Gus Khozin, ada indikasi kuat bahwa ini bukan sebuah keteledoran. Karena itu, minta maaf tidak menjamin masalah selesai. Apalagi ada yang menyebut masalah ini bukan yang pertama. “Kalau sudah menyangkut ideologi, ini berbahaya. Kita bisa simak syair rebana yang dikumandangkan para santri,” tegasnya.

Lihat saja syairnya: “Ono Tv rodok kemlinti. Seneng nyinggung marang awak dewe. Trans7 ikut jenengan, mending kita boikot wae (Ada Tv yang merasa lebih islami. Senangnya menyinggung kehidupan pesantren. Trans7 itu namanya. Lebih baik kita boikot saja red). Ini sikap tegas yang dituangkan dalam shalawatan, dan ini akan terus terpatri dalam sejarah santri,” tegasnya.

Jadi? “Perlawanan santri terhadap narasi TRANS7 bukan hanya soal memperjuangkan citra, melainkan tentang mempertahankan nilai-nilai yang telah teruji oleh waktu. Sejak lama, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga pusat perlawanan terhadap arus budaya yang mengabaikan akar-akar spiritual bangsa,” tambahnya.

Menurut Gus Khozin, kalau tidak santri yang melawan, terus siapa yang akan menghentikan hinaan itu, “Ketika tayangan TRANS7 mencoba menggambarkan santri dengan narasi yang merendahkan dan menyesatkan, santri tidak hanya terpancing membela diri, tetapi berusaha menunjukkan kekuatan perlawanan dalam cara yang jauh lebih dalam, penuh makna, dan jauh dari kekerasan. Dari Hizib hingga syair rebana di panggung bisa kita saksikan,” urainya.

Dikuatkan dengan Hizib

Prof Dr Mukhozin, juga mengaku heran, bagaimana Trans7 berani membuat narasi seperti itu. Tetapi, ajaran pesantren jelas, tidak ada akan ada kekerasan. “Sebagai santri, kita telah diajarkan bahwa perlawanan sejati bukan hanya diukur dengan aksi di jalan atau media sosial, melainkan dengan kedalaman doa dan keyakinan. Soal hukuman kita serahkan kepada Allah, dan itu jelas lebih parah ketimbang kita yang menghukum,” terangnya.

Bagi santri, lanjutnya, Hizib bukan sekadar doa yang dibaca untuk mendapatkan perlindungan Tuhan Allah SWT, tetapi juga sebagai alat untuk meneguhkan kembali posisi kami sebagai santri—penjaga tradisi dan nilai-nilai agama yang lebih dari sekadar ritual, tetapi sebuah jalan hidup yang mengarah pada kebaikan.

“Doa ini, ketika dibacakan, tidak hanya berfungsi sebagai sarana perlindungan, tetapi sebagai pengingat bahwa kami tidak pernah berjalan sendirian; kami selalu bersama dengan Allah dan para ulama yang telah menuntun kami. Ini jelas lebih dahsyat,” pungkasnya.(mky)