Khairiyatul Afiyah, M. Kep,. Ns, Sp. Kep.Mat – Dosen Keperawatan Maternitas Prodi Keperawatan (D3, S1Kep & Ners)

KESEHATAN reproduksi menurut World Health Organization (WHO) adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi (WHO,1992).

Selama ini perawatan organ reproduksi dikaitkan dengan organ reproduksi perempuan, sama halnya dengan laki-laki juga memiliki organ reproduksi yang harus dilakukan perawatan  dengan baik dan benar. Kenyataan di masyarakat saat ini banyak laki-laki melakukan perawatan kesehatan reproduksi hanya sebatas pada kebersihan genetalia dan penggunaan celana dalam.

Infeksi para organ reproduksi dapat terjadi bukan hanya karena penularan lewat hubungan seksual saja. Tetapi juga karena masalah kebersihan dan perawatan yang kurang baik. Menurut WHO dalam Safitri (2013), Infeksi saluran kemih (ISK) adalah penyakit infeksi yang kedua tersering pada tubuh sesudah infeksi saluran pernafasan dan sebanyak 8,3 juta kasus dilaporkan per tahun.

Indonesia merupakan negara berpenduduk ke empat terbesar dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Data dari Departemen Kesehatan RI tahun 2014 menunjukkan bahwa jumlah penderita penyakit Infeksi Saluran Kemih (ISK) mencapai 90-100 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Secara umum infeksi saluran kemih pada laki-laki disebabkan oleh adanya obstruksi pada uretra baik disebabkan oleh batu maupun pembesaran prostat.

Perawatan Kesehatan Reproduksi Pria

Menurut Poltekkes Depkes Jakarta I (2010) ada beberapa cara perawatan kesehatan reproduksi:

  1. Penggunaan pakaian dalam

Pakaian dalam yang digunakan sebaiknya terbuat dari bahan yang menyerap keringat, misalnya katun atau kaus. Kain yang tidak menyerap keringat akan menimbulkan rasa panas dan lembab.

Kondisi ini akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pemakai, serta sangat kondusif bagi pertumbuhan jamur. Pakaian dalam yang dikenakan juga harus dalam keadaan bersih dan kurang yang tepat. Pakaian yang terlalu sempit atau penggunaan karet yang berlebihan akan mengganggu kerja kulit dan menimbulkan rasa gatal. Mengganti celana dalam minimal 2x sehari

  1. Penggunaan handuk

Masyarakat Indonesia masih menggunakan handuk sebagai perlengkapan mandi yang dipakai secara berulang, bahkan ada yang menggunakan satu handuk secara bersamaan dalam satu keluarga. Penggunan handuk secara berulang diperbolehkan, tetapi yang perlu diperhatikan adalah handuk harus selalu dijemur setiap kali selesai dipakai. Handuk dijemur agar terkena sinar matahari, sehingga jasad renik yang ada pada handuk mati dan tidak menimbulkan infeksi.

Sebaiknya handuk tidak digunakan lebih dari satu minggu atau bila sudah tidak nyaman dipergunakan. Namun, walaupun dalam satu keluarga, penggunaan handuk secara bersamaan hendaknya dihindari. Handuk yang digunakan secara bersamaan misal menjadi media penularan penyakit kulit dan kelamin, misalnya skabies dan pedikulosis pubis.

  1. Memotong bulu pubis

Alat kelamin laki-laki ditumbuhi bulu. Guna memelihara kebersihan dan kerapian, bulu-bulu pubis sebaiknya dicukur. Bagi pemeluk agama Islam, disunahkan untuk mencukur habis bulu-bulu pubis setiap 40 hari. Dengan mencukur bulu-bulu pubis akan selalu terjaga, sehingga tidak menjadi media kehidupan kutu dan jasad renik, serta aroma yang tidak sedap. Bulu pubis yang terlalu panjang dan lebat akan selalu terpapar oleh urine saat buang air kecil

  1. Kebersihan alat kelamin luar

Bagi remaja laki-laki, glans penis juga harus dibersihkan dari sisa urine setiap setelah buang air kecil. Khusus remaja laki-laki yang tidak dilakukan sirkumsisi pada preputiumnya, pada saat membersihkan preputium harus diretraksi sehingga seluruh permukaan glans penis dapat bersihkan. Hal ini dilakukan karena cairan urine yang mengandung urea dapat merusak selaput lendir glans penis atau menimbulkan ulserasi pada meatus uretrae.

  1. Melakukan sirkumsisi

Para remaja laki-laki, dilakukan sirkumsisi. Sirkumsisi adalah memotong atau membuang seluruh preputium pada alat reproduksi laki-laki. Sebaiknya setiap remaja laki-laki melakukan sirkumsisi. Karena bila sirkumsisi tidak dilakukan dan kebersihan penis tidak terpelihara maka dapat terjadi peradangan glans penis dan preputium (balanoostitis). Hal ini terjadi karena smegma mengumpul di bawah preputium yang menimbulkan terjadi bercak kemerahan dan deskuamasi terutama yanng berhubungan dengan korona, serta menimbulkan rasa gatal. Peradangan ini bisa terjadi berlanjut dengan komplikasi stenosis preputium serta kontraksi frenulum atau penyempitan meatus urinarius eksternus. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.