
SURABAYA | duta..co – Canoi, Camilan Olahan Indonesia kini mulai merambah pasar global. Produk makanan ringan asli Surabaya ini sudah melakukan ekspor ke beberapa negara seperti Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Maldives dan dalam waktu dekat ke Brunai Darussalam dan Qatar.
Pemilik Canoi, Rachmawati Basuki mengatakan memperluas akses ke pasar global ini menjadi target yang terus diperjuangkannya. Selain untuk memperluas jangkauan pasar juga untuk menjaga keberlangsungan usaha dan produksi.
“Kalau hanya mengandalkan pasar lokal kami takut tidak bisa berkepanjangan. Makanya harus diimbangi dengan pasar global agar usaha ini bisa terus berlangsung,” katanya saat ditemui, Jumat (8/5/2026).
ßedipenuhi. Kurasi juga ketat dilakukan. “Tapi semuanya bisa kita penuhi dan Alhamdulillah bisa tembus pasar-pasar itu,” katanya.
Ada banyak jenis Canoi yang diekspor. Masing-masing negara berbeda jenisnya. Ada yang kerupuk, ada makanan instan dan sebagainya.
Canoi sendiri adalah makanan ringan berbahan baku ikan berbagai jenis. Mulai ikan teri, udang rebon, salmon, kerapu dan banyak lainnya.

“Biasanya kalau ekspor itu satu jenis produk saja. Satu negara satu macam produk. Biar fokus dulu, baru kalau sudah konsisten, ditawarkan produk yang lain,” katanya.
Untuk pasar lokal sendiri, Canoi sudah ada di beberapa pusat oleh-oleh di Surabaya. Juga ada di jaringan toko ritel modern. Bahkan bisa tembus ke jaringan ritel modern yang ada di Bali. “Ada sekitar 50 toko di Bali harus disuplai. Bismillah,” tukasnya.
Saat ini, Canoi terusenambah kapasitas produksi. Per bulan Rachma mengaku bisa memproduksi 5 ribu pack dari delapan jenis produk. “Sebenarnya ada 18 jenis, tapi kami kebanyakan memproduksi yang best seller. Kalau yang lain, kami produksi pesanan saja,” jelasnya.
Karenanya, Rachma berharap adanya bantuan dari pihak terkait yang bisa memberikan akses yang luas agar produknya ini bisa semakin dikenal pasar terutama pasar global.
Karena dengan begitu, Rachma bisa berproduksi dan bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi. “Usaha ini menjadi tumpuan para karyawan, saya menjaga itu agar mereka bisa terus bisa bekerja,” tandasnya.
Usaha Karena Pandemi
Canoi lahir saat pandemi. Usaha perlengkapan pernikahan atau wedding milik Rachma berhenti total. Dia sempat membuka usaha kue kering namun hanya di momen lebaran dan Natal tahun baru.

Dan ternyata itu tidak bisa menyelesaikan masalah tenaga kerja yang menggantungkan hidup padanya. “Melihat itu saya berpikir keras. Selama 10 hari saat lockdown, saya di rumah terus tidak ada yang dikerjakan. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat olahan dari ikan,” katanya.
Kebetulan saat pandemi, Rachma melihat ada banyak sekali ikan terutama udang rebon hasil tangkapan nelayan Kenjeran, di dekat rumahnya yang tidak bisa terjual. Udang rebon dijemur dan disimpan tanpa tahu akan dijual kemana.
“Melihat itu, otak saya langsung bergerak untuk menampung udang rebon yang melimpah itu. Dan produk pertama kering udang rebon,” ungkapnya.
Hingga kini ada 18 jenis olahan yang dibuatnya dari rumah produksinya di kawasan Kenjeran. Kini dalam sebulan ada 5 ribu kemasan berbagai jenis makanan ringan bisa diproduksinya. ril/lis




































