Oleh Puput Yulianti, S.Psi. S.Pd.

VIDEO pegawai Mahkamah Agung Dora Natalia mendadak viral di media sosial yang berlanjut ke pemberitaan luas media massa. Tak terima atas tilang Aiptu Sutrisna, Dora mengamuk, mencakar, serta merebut dan melempar ponsel Sutisna pada 13 Desember lalu (detik.news.com, 14/12). Sikap tak terpuji Dora ini mencerminkan lemahnya pendidikan karakter kita.

Pendidikan karakter adalah sesuatu yang sangat mendasar dan dibutuhkan dalam setiap kehidupan manusia. Seto Mulyadi pemerhati pendidikan anak dalam artikel Cara Membentuk Karakter Positif Anak mengungkapkan bahwa Karakter atau watak memiliki potensi yang besar dalam memengaruhi pola pikir, perasaan, dan tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sehari-hari.

Masa kecil adalah masa pembentukan konsep-konsep diri, citra diri, dan kecenderungan-kecenderungan pada manusia. Perbedaan karakter, kebiasaan, selera, dan terlebih persepsi-persepsi seseorang tentang kehidupan dipengaruhi oleh masa kecilnya, karena itu pembentukan karakter yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Pendapat penulis senada dengan ungkapan pemerhati PAUD (Munir, 2010:10) yang menyatakan bahwa ketika seseorang menyadari bahwa karakter adalah sesuatu yang amat sulit diubah, tentu saja tidak ada pilihan lain bagi orang tua kecuali membentuk atau membangun karakter anak sejak usia dini

Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi pribadi tangguh yang memerlukan latihan secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan kuat. Sebab anak yang kualitas karakternya rendah adalah anak yang tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah, sehingga anak berisiko besar mengalami kesulitan dalam belajar berinteraksi sosial, dan tidak mampu mengontrol diri.

Membincang masalah karakter, tidak akan lepas dari peran pendidikan informal, formal dan non formal. Pendidikan memberikan sumbangsih sangat besar. Dalam hal ini orang tua sangat berperan penting dalam pendidikan karakter buah hatinya. Namun lembaga prasekolah seperti TK/RA/BA/TA, TPA, Kelompok Bermain, Pos PAUD Terpadu dan sejenisnya menjadi salah satu alternatif sebagai mitra terbaik dalam pembentukan karakter sejak usia dini secara kontinyu.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tertuang tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berisi kebijakan pendidikan anak usia dini. Hal ini menunjukkan sebuah kepedulian pemerintah akan pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) guna kepentingan terbaik aset bangsa terutama dalam pembentukan pendidikan karakter.

Penulis menilai bahwa undang-undang tersebut menjadi satu komitmen bagi seluruh komponen bangsa Indonesia dalam menempatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai bagian penting dalam penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) pada masa mendatang, mengingat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi awal dari rangkaian pendidikan yang akan diterima oleh anak-anak bangsa.

Dalam pendidikan non-formal di pendidikan anak usia dini, pendidik menjadi ujung tombak yang memiliki kesempatan memberikan stimulasi bagi penanaman karakter anak didiknya. Karena itu pencapaian tujuan pendidikan usia dini dapat ditempuh dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat.

Sebagai praktisi pendidikan, penulis berpendapat bahwa bercerita menjadi salah satu strategi pembelajaran yang tepat. Dengan bercerita guru dapat menanamkan nilai-nilai positif pada anak sejak usia dini, Strategi pembelajaran bercerita juga memberikan sejumlah pengetahuan sosial, nilai-nilai moral dan keagamaan,

Strategi bercerita memberikan pengalaman belajar untuk mendengarkan, Dengan mendengarkan cerita anak dimungkinkan untuk mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik, membantu anak untuk membangun bermacam-macam peran.

Yudha Asfandiyar penulis buku dan pendongeng (2007:90) menyatakan dengan bercerita pendidik dapat menampilkan berbagai tokoh. Anak-anak dapat meraba sifat-sifat tokoh yang ada. Ada tokoh hitam dan ada tokoh putih, disanalah anak-anak dapat dimasuki nilai-nilai moral yang ingin ditanamkan. Pembentukan karakter dapat dengan mudah melalui cerita.

Pentingnya peran pendidik sebagai penyampai dalam kegiatan bercerita, maka harapan penulis: pertama, Pendidik anak usia dini senantiasa menyajikan kegiatan bercerita dalam kegiatan belajar mengajar dengan intensitas yang lebih sering, karena pembelajaran bercerita ini mampu menjadi media yang sangat baik untuk pembentukan karakter siswa. Kedua, Pendidik anak usia dini harus memiliki upaya maksimal dalam meningkatkan kemampuan diri, khususnya dalam aplikasi pembelajaran bercerita yang membutuhkan inovasi dan kreativitas yang maksimal. Ketiga, Pembelajaran bercerita dapat digunakan sebagai dasar evaluasi untuk mengetahui tahap perkembangan karakter siswa.

Dalam hal ini peran pemerintah dan negara juga sangat dibutuhkan. Pemerintah perlu memasukkan bercerita pada kurikulum wajib dalam pendidikan anak usia dini. Sehingga karakter anak bangsa dapat terbentuk sejak usia dini. Hal ini menjadi upaya  minimal di tengah karut marutnya problematika bangsa karena pengaruh liberalisasi di segala aspek kehidupan. Sebab proses pembentukan karakter bukanlah sesuatu yang mudah seperti mudahnya membalikkan telapak tangan. Pembentukkan karakter harus juga dibarengi dengan sebuah keteladanan, habituasi dan kondisional yang tepat. agar dikemudian hari tidak lagi ditemui cakaran Dora-Dora yang lain.

 

Penulis adalah Kepala PG Islam dan RA Irbah Golden Age Surabaya, alumni MediaGuru

Tinggalkan Balasan