Direktur Pendidikan dan Riset KNKS, Dr  Sutan Emir Hidayat (dua dari kanan) bersama Ketua Panitia Workshop Dr Atina Shofawati (tiga dari kiri) melihat pendampingan yang dilakukan para ahli dari FEB Unair, Rabu (11/9). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, justru masih kalah dengan negara mayoritas non muslim untuk program ekonomi dan keuangan syariah.

Hal itu salah satunya karena keterlambatan pemerintah untuk ikut campur mengurusi masalah ini.

Sehingga sampai saat ini literasi yang berkaitan dengan masalah ini juga masih sangat rendah.

Bahkan dari data Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), pada 2016 literasi untuk keuangan syariah di Indonesia hanya 8,11 persen. Artinya, dari 100 orang di Indonesia, hanya delapan orang yang mengerti dan paham akan masalah tersebut.

 Direktur Pendidikan dan Riset KNKS, Dr  Sutan Emir Hidayat mengatakan, walau pemerintah terlambat untuk turun tangan, namun kini pemerintah mulai tancap gas.

Berbagai upaya dilakukan agar ekonomi dan keuangan syariah ini terus bergerak. Bahkanmaster plan untuk ekonomi dan keuangan syariah lima tahun ke depan yakni 2019 hingga 2024 sudah ditentukan.

“Ada strategi bersifat utama dan riil yang sudah dilakukan. Ada strategi dasar terutama yang berkaitan dengan sumber daya manusia dan riset. Sehingga dengan ini, literasi bisa meningkat,” tandasnya di sela acara Workshop Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Publikasi Ilmiah Para Peneliti Bidang Ekonomi dan Keuangan Islam di Jawa Timur, Rabu (11/9).

Dikatakan Emir, KNKS berupaya untuk melakukan edukasi dan pendampingan bagi para dosen dan akademisi di bidang ekonomi dan keuangan Islam untuk terus melakukan riset.

Riset ini penting sebagai acuan bagi pemerintah untuk membuat aturan atau kebijakan yang berkaitan dengan ekonomi dan keuangan syariah.

Bukan hanya riset biasa. Dikatakan Emir, riset-riset ekonomi dan keuangan syariah yang bisa masuk ke jurnal-jurnal internasional itu mutlak harus digalakkan.

Karena pemerintah dalam membuat kebijakan berdasarkan riset, tentunya harus yang berkualitas dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

“Di sinilah peran kita mengajak semua akademisi di bidang ini untuk memacu agar bisa mengekspos karya penelitiannya ke jurnal internasional, terindek scopus,” tukasnya.

Salah satunya adalah dengan menggandeng Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga.

“Mengapa kita gandeng akademisi, karena kita butuh mereka. Pemikiran mereka, hasil riset mereka dan semuanya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu untuk mengembangkan ini sebagai sebuah industri,” jelasnya.

Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga sendiri menghadirkan 30 orang yang selama ini bergelut di bidang ekonomi dan keuangan syariah.

Mereka adalah para dosen dari 21 kampus di 14 kabupaten/kota tidak hanya di Jawa Timur tapi dari berbagai daerah lainnya.

Para peserta adalah dosen dari komisariat perguruan tinggi di Jatim yang terafiliasi dengan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI).

“Sebelum menjadi peserta, para dosen itu terlebih dulu mengirimkan paper ke kami dan kami seleksi. Ada 40 paper lebih yang kami terima, namun kami hanya pilih 30 paper. Penulisnya kami undang untuk ikut program ini,” tukas ketua panitia workshop, Dr Atina Shofawati.

Dalam workshop ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi bagaimana bisa menembus jurnal terindek scopus tapi juga dilakukan pendampingan.

Pendampingan dilakukan para doktor ekonomi dan keuangan Islam dari FEB Unair yang sudah berpengalaman menulis di jurnal internasional tersebut.

“Setelah workshop ini, peserta akan terus kita dampingi, agar enam bulan ke depan minimal bisa submit proposalnya ke scopus. Dan satu tahun ke depan sudah bisa publikasi. Itu targetnya,” tukas Atina. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry