Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto (kanan) berbicara dalam pelatihan pelatih tempat kerja di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Selasa (26/11). DUTA/istimewa

SURABAYA l duta.co – Belum maksimalnya program pendidikan vokasi sistem ganda yang digagas pemerintah dinilai karena masih belum adanya komitmen kuat dari dua belah pihak, baik sekolahan maupun dunia usaha dan dunia industri (DUDI) untuk melaksanakannya dengan sebaik mungkin.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan dalam melaksanakan program pendidikan vokasi sistem ganda ini memang perlu perjuangan. Baik sekolah maupun industri harus mau berkorban demi terciptanya tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan DUDI.

Dikatakannya pendidikan vokasi butuh pahlawan. Vokasi butuh dua kaki yang setara panjangnya. Industri dan sekolah yang mau berusaha semaksimal mungkin untuk mengaplikasikan  sistem pendidikan ini dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan prosedur.

“Tidak  semata-mata menerima pemagang dengan jumlah banyak tanpa berpikir bagaimana mendidik mereka menjadi tenaga kerja yang kompeten,” ujar Adik yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Koordinasi Sertifikasi Profesi (BKSP) Jatim saat pelatihan pelatih tempat kerja di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Selasa (26/11).

Dalam hal ini, sebenarnya Kadin Jatim bersama BKSP Jatim telah bekerjasama dengan IHK Trier Jerman sejak tahun 2015 untuk mencetak tenaga pengajar atau pelatih tempat kerja, in company trainer. Pelatihan secara continue dilakukan empat hingga lima kali dalam setahun. Dan hingga saat ini telah berhasil mencetak 453 lulusan pelatih tempat kerja.

Koordinator Program Kemitraan Pendidikan Kejuruan IHK Trier Jerman di Indonesia, Andres Gosche membenarkan bahwa  kedua belah pihak, sekolah dan DUDI sama-sama masih belum memiliki kesadaran penuh atas pentingnya program tersebut dalam mencetak tenaga kerja yang berkompeten.

Padahal ini adalah masa depan Indonesia. Karena ilmu bisa didapatkan dari kurikulum sekolah, sementara keahlian bisa didapatkan di pelatihan tempat kerja. Keduanya harus seiring dan memiliki komitmen yang sama untuk mencetak tenaga kerja yang berkompeten, yang sesuai dengan kebutuhan DUDI.

Lebih lanjut ia mengurai, bahwa persoalan stagnasinya program pendidikan vokasi ini dipicu oleh banyak faktor, selain karena rendahnya kesadaran sekolah dan DUDI, juga disebabkan oleh belum siapnya kedua belah pihak dalam menerapkan program tersebut.

Sekolah hanya melaksanakan supaya dilihat baik pemerintah sementara DUDI melakukan juga agar terlihat berapa banyak jumlah siswa magang yang diterima.

“ Ini hanya kuantitatif tanpa memperhatikan mutu. Apakah mereka akan ditempatkan sesuai dengan keahlian dan kompetensi mereka atau hanya dipekerjakan saja, misal membuat teh atau membantu memfotokopi dokumen,” tambahnya.

Adik menambahi bahwa sinkronisasi dan harmonisasi antara sekolah dengan perusahaan tempat belajar harus lebih erat dan ini butuh kesadaran dua bela pihak.

“Sekolah tidak memaksa industri asal jumah saja menerima sebanyak mungkin pemagang terserah mau buat apa dan kesadaran industri mengatur sekolah untuk menerima jumlah atau siswa yang sesuai dengan profesi yang tersedia di industri tersebut. Dan tentu saja industri harus siap menerima pemagang. Kesiapan ini, melalui dua hal, siap dengan orang yang profesional bisa mengajar dan siap fasilitasnya, ruang dan bahan karena proses produksi tidak boleh terganggu oleh kegiatan belajar ini,” pungkasnya. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry