Ahmad Syafiq Kamil – Dosen Sistem Informasi Fakultas Teknik

AKHIR -akhir ini kita dihebohkan dengan cuitan dari bos Bukalapak, Ahmad Zaky. Ahmad Zaki menyinggung soal dana riset di Indonesia.

Dia menulis di twitternya @achmadzaky: “Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini (2016, in USD): 1. US 511B; 2. China 451B; 3. Jepang 165B; 4. Jerman 118B; 5. Korea 91B; 11. Taiwan 33B; 14. Australia 23B; 24. Malaysia 10B; 25. Spore 10B; 43. Indonesia 2B. Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin.”

Cuitan tersebut memicu adanya tagar di Twitter seperti #uninstallbukalapak dan #LupaBapak. Berdasarkan data beberapa media online, data tersebut tampaknya didapatkan Ahmad Zaky dari Wikipedia yang bersumber dari data Unesco Institute for Statistic (UIS).

UIS adalah tempat penyimpanan data terkait pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan komunikasi antar negara yang dapat dibandingkan.

Data dalam cuitan adalah data riset dan pengembangan pada tahun 2013 yang kurang lebih sebesar  USD 2,13 miliar.

Cuitan tersebut pun telah dibalas dengan beberapa orang yang menyampaikan data yang lebih baru yaitu sebesar  USD 10,40 miliar. Indonesia pun telah naik dari peringkat 43 menjadi peringkat 28 untuk investasi riset dan pengembangan.

Melirik dari negeri tetangga yaitu Singapore yang berada diperingkat 20 dengan nilai riset dan pengembangan sebesar USD 13,35 miliar atau sebesar 2.62 persen dari total produk domestik bruto Singapura.

Bahkan dana riset dan pengembangan Jepang dan Cina adalah sekitar 18 dan 42 lebih besar dari dana riset dan pengembangan yang ada di Indonesia.

Dana tersebut diakui oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa dari segi perbandingan dana tersebut lebih rendah dari negara lain dikarenakan banyaknya kebutuhan nasional negara kita.

Tetapi menurut Presiden Jokowi nilai tersebut sudah besar dan diharapkan akan meningkat lebih banyak lagi ke depan. Dengan anggaran tersebut presiden mengharapkan ada Lembaga yang khusus mengurus penelitian tersebut.

Jika berdiskusi lebih dalam, dana yang diterima oleh peneliti sebagai penghargaaan penelitian lebih kecil dari pada upah parah pekerja keras seperti upah satpam, pengemudi, petugas kebersihan dan pramubakti.

Upah tersebut berdasarkan peraturan Menteri keuangan Republik Indonesia No 37/PMK02/2018 yaitu upah penunjang penelitian/perekayasaan untuk pembantu peneliti/perekayasa orang/jam adalah sebesar Rp25 ribu; koordinator peneliti/perekayasa orang/bulan adalah sebesar Rp420 ribu; sekretariat peneliti/perekayasa orang/bulan adalah sebesar Rp300 ribu; pengolah data sebesar Rp1,54 juta; petugas survei orang/responden adalah sebesar 8.000; dan pembantu lapangan orang/hari adalah sebesar Rp80 ribu.

Angka-angka ini kemudian dibandingkan dengan upah satpam dan pengemudi yang mencapai Rp4,102 juta dan upah petugas kebersihan dan pramubakti yang mencapai Rp3,73 juta per bulan untuk wilayah DKI Jakarta.

Jika angka-angka ini dibandingkan begitu saja, maka upah untuk kegiatan penunjang riset tampak tidak berbeda jauh dengan upah petugas kebersihan dan keamanan.

Teknologi membutuhkan modal besar untuk investasinya baik dari sisi riset dan pengembangan.

Dana riset yang yang besar harus juga diimbangi dengan kualitas riset dari negara kita.

Berdasarkan Times Higher Education, ITB dan UI berada diperingkat 1000. Di asia ITB dan UI menempati urutan 201-250.

Rendahnya anggaran riset meski mengalami kenaikan, tunjangan yang minim, dan posisi universitas yang masih rendah masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengembangan riset di Indonesia. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.