TUNA DAKSA: Ahmad, penyandang tuna daksa sedang mengerjakan pengerasan sepatu.

SURABAYA | duta.co – Jangan remehkan penyandang disabilitas. Dari segi produktifitas kerja, mereka lebih maksimal. Karena itu, perusahaan saat ini sudah membuka pintu untuk mempekerjakan penyandang difabel.

Fakta ini disampaikan oleh Manager HRD PT. Wangta Agung Suryanto saat menerima kunjungan beberapa wartawan dalam program Ayo Inklusif yang diprakarsai oleh JPIP, Saujana, cbm dan lainnya, Senin (12/2). Perusahaan yang berlokasi di Jalan Tanjungsari ini banyak mempekerjakan disabilitas.

Setidaknya ada 84 buruh difabel yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan sepatu ini. Rinciannya, 69 karyawan penyandang tuna rungu, 15 orang tuna daksa, dan satu penyandang donsindrom atau grahita. “Mereka ini lebih produktif ketimbang pekerja yang lain, semangat kerjanya tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, perusahaannya saat ini terus membuka lowongan pekerjaan bagi penyandang difabel. Selama bisa menggunakan fasilitas pabrik dengan baik, PT. Wangta Agung selalu menerima pekerja dari panyandang disabilitas. “Kita komit mempekerjakan difabel, ini kebijakan perusahaan kami,” terangnya.

Semua karyawan mendapatkan perlakuan yang sama dari manajemen. Bahkan interaksi dari para karyawan tidak ada diskriminasi. Posisi kerja bagi karyawan difabel juga tidak ada perbedaan.

Suryanto berharap, ke depan ada sinergi antara perusahaan, pemerintah dan pemangku kebijakan. Bahwa, penyandang difabel sudah semestinya mendapatkan hak dan kewajiban yang sama.

Salah satu penyandang tuna daksa Ahmad mengaku kerasan kerja di PT. Wangta Agung. Selain iklim kerjanya yang nyaman, perlakuan dari perusahaan tidak pernah mendikreditkan penyandang difabel. “Nyaman, aman, perlakuan sama, tenanglah pokoknya,” ujar pria asal Tanah Merah Bangkalan ini.

Ahmad sudah dua tahun bekerja menjadi buruh. Dari hasil jerih payahnya ini, dia bisa menghidupi dua anak dan istrinya. Istrinya juga pernah bekerja di PT. Wangta Agung, namun semenjak Ahmad bekerja, istrinya memilih mundur.

“Gaji tiga kali sebulan, kalau banyak garapan sampek lembur, sekali gajian bisa dapat Rp 1 juta lebih,” katanya yang mengaku masih sebagai buruh kontrak ini.

Beda halnya dengan Ahmad, Uswatun salah satu penyandang tuna rungu mengaku sudah bekerja selama 8 tahun. Dia dan suaminya sama-sama bekerja di PT. Wangta Agung. Dalam sebulan, bisa menghasilkan uang Rp 5-6 juta. “Saya suka bekerja, saya pekerja keras,” ujarnya yang dibantu oleh penterjemah bahasa isyarat.

Perempuan berjilbab ini memiliki dua orang anak. Dia termasuk penduduk urban di kota Surabaya. Uswatun berasal dari Jombang, sedangkan suaminya asli Kabupaten Madiun.  azi

 

Tinggalkan Balasan