
“Perang ini, menjadi tidak populer di masyarakat AS, Inggris, Eropa, termasuk sekutu AS NATO.”

OLEH: Sabpri Piliang
(PENGAMAT TIMUR TENGAH)
DUNIA makin berbahaya! Tak ada lagi tatakrama, sopan santun, dan etika. Membunuh pimpinan satu negara dianggap “keberhasilan”. Kegilaan lain, ladang gas South Fars diledakkan, sebuah ketidakadilan untuk 90 juta rakyat Iran.
Apa yang dilakukan AS dan Israel, merupakan “bunuh diri politik”, tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali “War on The Rocks”. Satu idiom bermakna “Perang Batu”.
“Perang Batu” AS-Israel, dalam frasa Inggris disebut “Between A rock and a hard place”, (perang antara batu versus tempat yang keras). AS-Israel akan menghadapi kecemasan kolektif, di masa depan. kemenangan fisik menjadi tak lagi urgen.
Alih-alih keruntuhan rezim Iran (target AS-Israel), yang muncul justru kegigihan “gila”, karena banyaknya luka, dendam membara yang tak dapat dikendalikan. Mesin-mesin perang akan percuma, dalam “War On The Rocks”.
Pembunuhan tiga pemimpin Iran dalam tempo sehari semalam, tidaklah efektif, karena rezim Iran tidak bersipat personal. Sayembara sekian ratus milyar untuk mendapatkan target AS, menggambarkan brutalitas menyimpang.
Model “pemenggalan kepala”, yang menjadi kebiasaan Israel terhadap musuh, seperti meremehkan teokrasi Iran yang telah berakar rumput. Kalaupun AS-Israel menginginkan perubahan, maka perubahan itu tidak akan datang seperti yang diinginkan AS-Israel.
AS-Israel, seperti tidak mengenali Iran. Atau proxi-proxinya yang terkenal patriotis dan mudah melakukan ‘reinkarnasi’ dalam waktu cepat. Pembunuhan terhadap pendiri Hamas Syekh Ahmed Yasin (2004), mendatangkan pemimpin Hamas berikutnya yang tak kalah bergema.
Sun Tzu ( ahli strategi perang Tiongkok), mengingatkan, dalam pertempuran, hal yang paling dihargai adalah kemenangan yang diraih dengan cepat. Bukan operasi berkepanjangan! Operasi berlarut-larut, gagal menghitung kematian elite Iran, AS-Israel akan terjerembab.
Komparatif studi, Sri Lanka di Asia Selatan menuntaskan perlawanan Elam Tamil (LTTE), setelah berhasil membunuh pimpinannya, Vellupilai Prabakharan (2009). Organisasi ini layu, setelah kepergiannya, dan tak ada reinkarnasi. Perang selesai!
Iran, bukanlah Hamas, atau Macan Tamil (LTTE), Iran adalah negara berdaulat yang pimpinannya lahir dari sebuah proses demokrasi. Terserah, demokrasi itu mau ditilik dari sisi mana. Kematian aktor negara, lazimnya disebabkan oleh terorisme, atau kudeta militer. Lumrah dalam konspirasi.
Pembunuhan (target) Israel terhadap Ali Larijani (pimpinan tertinggi Dewan Keamanan), Gholamreza Soleimani (Kepala Basij), dan terakhir kemarin, Esmail Khatib (Menteri Intelejen) Iran, merupakan upaya Israel “memenggal” negara. Hampir tak ada yang melakukannya di dunia, kecuali AS-Israel.
Memenggal negara, jelas satu hal yang tak bisa dijelaskan dalam teori politik manapun. Hamas, PLO, Hezbollah, Baader Meinhof (Jerman), LTTE, bukanlah negara. Memenggalnya, tentu jauh lebih mudah, walau juga tidak mudah.
Membunuh pimpinan puncak Iran, untuk membuat rezim menjadi lemah, bisa saja terjadi. Namun, rakyat Iran faham apa yang diinginkan AS-Israel, sebuah rezim “boneka” yang bisa dikendalikan. Sepertinya, itu tak akan terjadi. Kalaupun terjadi, justru sistem yang lebih keras, peralihan faksi antar-internal. IRGC yang ‘take over’.
Kebaikan hati, dan pujian “setinggi langit” AS terhadap Ahmed Al Sharaa (Presiden Suriah), pun terbongkar. Apa yang dimaui Trump? Peruntukan Israel, Trump meminta Suriah menjepit Hezbollah Lebanon dari satu front. Di front lain, Israel mengepung Hezbollah.
Institusi Iran, dengan atau tanpa: Khamenei, Larijani, Soleimani, Khatib, tidak akan berubah. Pembunuhan terhadap mereka hanya dianggap ‘buih’, yang buihnya akan datang lagi, sekalipun angin bertiup kencang.
Pembunuhan terhadap elite Iran, pemboman destruktif pada fasilitas energi, hanya akan melahirkan balas dendam yang sama terhadap AS-Israel, serta fasilitas di negara GCC (Teluk).
Serangan terhadap infrastruktur South Fars (joint Iran & Qatar), membuat harga minyak kembali “menggelinjang” ke angka US$ 110 per barel. Setelah berfluktuatif ke US$ 119, lalu turun US$ 98 (pernyataan Trump perang selesai), kini menukik lagi.
Perang ini, tidak jelas dan merusak. Terlebih, bila ancaman Iran terwujud kepada: kilang Samref dan komplek petrokimia Jubail (Arab Saudi), ladang gas Al-Hosn (UEA), Komplek Petrokimia Mesaieed dan perusahaan induk Qatar, serta kilang Ras Laffan.
Kehancuran infrastruktur “crude oil” dan gas negara teluk (GCC) akan terjadi, bila Iran jadi membalas. Bandul perang pun bakal bergeser, sekaligus berayun bagai “buaian” ke arah perang ekonomi total.
Hanya “orang gila” yang membiarkan ini terjadi. Tidak ada yang menghentikannya, maka ekuivalen dengan “bunuh diri” massal. Ada baiknya, semua menyimak Direktur Pusat Anti-Terorisme AS, Joseph Kent (Joe Kent), dan Penasehat Keamanan Inggris, Jonathan Powel.
Bukan Ancaman
Pengunduran diri Kepala Kontra-Terorisme AS (Joe Kent), sebagai protes terhadap perang Iran. Merupakan pukulan telak dan faktual terhadap Donald Trump. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap AS.
Trump telah terjebak dalam pertimbangan subjektif, atau dorongan Israel untuk memulai perang yang sangat merusak pertumbuhan ekonomi global. Menyerang Iran, Trump hanya berpegang pada kesan yang dia miliki sendiri. Sekaligus kesan yang dibuat orang lain (Israel).
Secara terang-terangan, Joe Kent menuding, perang ini bukan milik AS, dan perang ini tidak pantas terjadi. “Kita memulai perang karena tekanan dari Israel, serta lobi Amerika yang kuat,” kata Kent (The Guardian, 17 Maret 2026).
Kent bukan sembarang sosok. Berasal dari pasukan “Green Beret” AS, isterinya yang juga militer AS tewas dalam bom bunuh diri saat beroperasi di Suriah.
Menyerang Iran, Trump merusak platform “American First”, di mana tipuan dis-informasi oleh pejabat tinggi Israel membawa AS pada tindakan yang keliru sekaligus ceroboh.
Taktik Israel yang menabur kebohongan tentang Iran, telah menarik AS ke dalam sentimen pro-perang yang merusak. Hal yang sama pernah dilakukan Israel terhadap Presiden George Bush memerangi Irak, dengan kebohongan senjata pemusnah massal.
Linear dengan Joe Kent, Penasehat Keamanan Nasional Inggris, Jonathan Powell berpandangan hampir sama. Tawaran Iran sangat maju dan mengejutkan dalam negosiasi Jenewa (Pebruari lalu).
Menggambarkan Iran tak akan mengancam siapa pun, sepakat jeda tiga hingga lima tahun untuk pengayaan uranium domestik. Iran juga tak memiliki sarana melakukan pengayaan setelah pemboman perang 12 hari (Juni 2025).
Powell yang hadir bersama Tim Inggris, mengatakan, Iran kooperatif dan memiliki niat untuk terus memperbaharui perundingan nuklir. Wujudnya, setuju mengurangi jumlah stok uranium yang sangat diperkaya sebanyak 440 kg di bawah pengawasan IAEA (Badan Atom internasional).
Mengesankan, Iran mengajukan tawaran memberikan AS kesempatan berpartisipasi dalam program nuklir sipil Iran di masa depan. Sayangnya, secara terburu-buru AS membom Iran bersama Israel.
Perang ini, menjadi tidak populer di masyarakat AS, Inggris, Eropa, termasuk sekutu AS NATO. Mengapa? Karena semua tahu, AS atas dorongan Israel memang tak ingin bernegosiasi. Israel inginkan perang! AS terkungkung oleh AIPAC (American Israel Public Affairs Committe), Kongres Yahudi di AS yang sangat berpengaruh.
Pilihannya, Israel ingin menciptakan arsitektur baru Timteng, dan penghalangnya tinggal Iran. Karena itu, Iran harus berganti rezim lewat perang.
Peperangan memang menjadi pilihan. Hanya untuk kesan tidak “sarkastis”, seolah AS ingin berunding. Tapi sebenarnya. Sejak awal, pilihannya adalah berperang. Karena itu, Inggris dan seluruh 32 anggota NATO menolak ikut campur.
Bisa saja, Inggris dan anggota NATO lainnya berpikir, ini pekerjaan gila! “War on The Rocks”, batu (Israel-AS), melawan batu (Iran). Waktu akan menjawabnya.***(Sabpri Piliang)






































