
ISU- isu bunuh diri di Indonesia akhir- akhir ini sangat mengkhawatirkan. Kasus bunuh diri yang diangkat oleh media sangat sering diberitakan, dan mayoritas yang diberitakan adalah bunuh diri di kalangan mahasiswa.
Seperti kasus bunuh diri mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang melompat dari lantai 4 gedung asrama, kemudian mahasiswi UNNES yang lompat dari mall Paragon Semarang. Ada juga mahasiswi UNAIR yang ditemukan meninggal di dalam mobil karena menghirup gas beracun. Kasus terakhir mahasiswa Kedokteran UNDIP yang mengijeksi dirinya sendiri di kamar kosnya.
Apa yang terjadi kepada mahasiswa Indonesia sehingga banyak yang memutuskan untuk melakukan bunuh diri?
Hal ini tentu menjadi kekhawatiran kita bersama, karena kejadian tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia masih belum terlalu aware terhadap kondisi kesehatan mental. Menurut World Health Organization, bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor 4 di kalangan anak muda antara usia 15—29 tahun. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa yang kebanyakan berada dalam rentang usia tersebut memiliki kemungkinan permasalahan kesehatan mental.
Kebanyakan mahasiswa termasuk ke dalam usia dewasa awal. Pada masa ini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola kehidupan yang baru serta harapan sosial yang baru dari masa remaja menuju masa dewasa (Putri, 2019).
Masa ini adalah masa pencarian, eksplorasi yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional.
Pada masa ini juga terjadi kebingungan- kebingungan serta muncul kondisi yang mereka. Mulai dari hubungan dengan masalah materi, hubungan interpersonal, hubungan dengan orang tua yang menyebabkan kemungkinan untuk melakukan bunuh diri sangat besar. (Huang dkk, 2021).
Terdapat penelitian yang dilakukan kepada mahasiswa di Taiwan menunjukan bahwa faktor risiko bunuh diri pada mahasiswa adalah faktor- faktor yang menyebabkan stress seperti, perasaan tertinggal dengan orang lain, buruknya komunikasi dengan orang tua serta stress akademik menyebabkan tingginya risiko perilaku bunuh diri.
Selain itu, dalam penelitian lain yang dilakukan di Bangladesh terdapat faktor- faktor yang mempengaruhi mahasiswa melakukan bunuh diri yaitu perasaan depresi, putus asa, konflik dengan keluarga, putus cinta, tidak adanya dukungan sosial, masalah keuangan, serta permasalahan stress akademik memberikan kontribusi terhadap kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.
Merujuk pada perspekti Emile Durkheim tentang Suicide (1897 menjelaskan bunuh diri sebagai fenomena yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, bukan sekadar masalah psikologis individu. Durkheim mengidentifikasi empat jenis bunuh diri berdasarkan tingkat integrasi dan regulasi sosial:
Pertama, Bunuh Diri Egoistik: Terjadi ketika seseorang tidak cukup terintegrasi dalam kelompok sosialnya. Orang yang merasa terisolasi, tidak memiliki dukungan sosial, dan kurang memiliki keterkaitan dengan masyarakat lebih rentan terhadap bunuh diri jenis ini.
Kedua, Bunuh Diri Altruistik: Terjadi ketika seseorang sangat terintegrasi ke dalam kelompok sosial sehingga mereka rela mengorbankan diri mereka untuk kepentingan kelompok. Contoh dari jenis ini adalah prajurit yang mati demi negaranya atau penganut agama yang rela mati demi keyakinan mereka.
Ketiga, Bunuh Diri Anomik : Terjadi ketika ada kekacauan sosial atau norma-norma masyarakat menjadi tidak jelas. Situasi ini sering muncul saat terjadi perubahan besar dalam masyarakat, seperti krisis ekonomi atau perubahan mendadak dalam status sosial, yang menyebabkan individu merasa kehilangan arah.
Keempat, Bunuh Diri Fatalistik: Ini terjadi ketika individu merasa hidup mereka terlalu diatur dan terjebak dalam situasi tanpa harapan, seperti dalam masyarakat yang terlalu represif atau otoriter.
Durkheim menekankan bahwa tingkat integrasi sosial dan regulasi sangat mempengaruhi tingkat bunuh diri dalam masyarakat. Ia juga menggarisbawahi pentingnya peran norma, nilai, dan solidaritas sosial dalam menjaga keseimbangan individu dalam masyarakat.
Social support atau dukungan sosial.
Biasanya kebanyakan mahasiswa itu adalah anak yang merantau jauh dari keluarga, orang tua dan teman- teman terdekat di kampung halaman. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan bau dan tentunya dengan orang baru. Hal tersebut bisa menimbulkan rasa terisolasi apalagi bagi mereka yang memang sulit untuk berbabur dengan lingkungan sekitar, kesepian dan rasa terisolasi itu sangat beresiko terkena gejala depresi dan ide untuk mengakhiri hidup. (Goncalves dkk, 2014). */bersambung








































