Gambar kiri: Patung Bung Karno dan Eyang Semar. Foto kanan: Bung Karno dan Almaghfurlah Mbah Hasyim, Mbah Bisri dan Gus Dur. (FT/IST)

“…Nama Jenderal Gatot Nurmantyo dan Habib Rizieq Shihab sudah tertulis dalam kitab Musarror. Sebuah kitab kuno yang oleh Mbah Wasil diajarkan kepada Eyang Joyoboyo menjadi ‘Jangka Jayabaya’.”

Oleh: Choirul Anam*

BELIEVE IT OR NOT! Proklamator kemerdekaan Indonesia dan Presiden RI pertama, Bung Karno, kini sedang berduka. “Saya terkejut. Ada yang aneh saat saya usai shalat dhuha tadi pagi (Senin, 16 Nopember 2020, pukul 08.35 wib–red). Aku lihat foto Bapak Soekarno mengeluarkan air mata agak kemerahan. Ya Allah… Allahu Akbar,” tulis Ki Ismoyo Dedy Suyanto di WA yang dishare ke nomor saya.

Memang, dalam kamar khusus munajat Ki Ismoyo, selalu dihiasi foto Bung Karno dan para kiai pejuang kemerdekaan serta beberapa pusaka raja-raja nusantara.

Lalu saya balik WA: kira-kira apa makna spiritualnya Ki? “Saya percaya ada tanda-tanda kurang baik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Sepertinya Bapak Soekarno sangat sedih hingga menangis melihat kondisi pengelolaan negara yang karut-marut sekarang ini. Pengelolaan negara yang jauh menyimpang dari cita-cita beliau. Tidak sesuai konstitusi negara,” jawabnya tegas.

Maksudnya jauh dari cita-cita beliau yang seperti apa? “Begini, negara yang beliau perjuangkan dengan darah dan air mata agar bebas merdeka, adil makmur dan rakyat bisa hidup sejahtera. Ternyata, belakangan ini, justru diperjual-belikan oleh pengkhianat bangsa sendri,” tutur Ki Ismoyo yang sekitar 10 tahun terakhir aktif lelaku ziarah makam raja-raja nusantara dan selalu berujung pada konfirmasi (secara ghaib) di makam Bung Karno.

Pada malam 17 Agustus 2020 lalu misalnya, Ki Ismoyo juga menahan kesedihan karena tidak ada aktivitas apa-apa di pusara Bung Karno, di Istana Gebang, Blitar. “Tidak ada renungan suci, apalagi zikir dan ngaji. Gelap gulita,” ujarnya setengah kesal karena kesakralan “renungan suci” malam 17 Agustus, ziarah makam para pahlawan pejuang kemerdekaan dan zikir di pusara proklamator Soekarno-Hatta, seolah dianggap tidak berpengaruh apa-apa dan sudah pula dilupakan begitu saja oleh bangsa Indonesia—terutama para pemimpinnya.

Akhirnya, Ki Ismoyo pun  zikir sendirian di pusara Pemimpin Besar Bung Karno hingga subuh. Sampi kemudian ia dipersilahkan mandi di kamar mandi Bung Karno, bisa melihat kamar tidur, bisa pegang payung dan pusaka tongkat komando serta mengambil air di sumur tua. “Terima kasih Bapak Soekarno, semuanya demi Indonesia merdeka adil dan makmur,” kenang Ki Ismoyo ketika pamit meninggalkan Istana Gebang, Blitar.

Sebelumnya, tokoh spiritual muda ini juga berkelana keliling Lombok, Sumbawa dan Bima selama delapan hari. Di Bima agak lama (tiga hari mulai tanggal 9 s/d 11 Agustus 2020), karena harus sowan ke Istana Asi Mbojo Bima.

“Alhamdulillah, meski hari Ahad, saya diperbolehkan masuk Istana Bapak Soekarno di Mbojo Bima. Bapak Soekarno memiliki perpaduan kecerdasan spiritual dan intelektual. Tidak banyak orang yang bisa memahami  isyarah-isyarah yang beliau sampaikan,” kata Ki Ismoyo yang mengaku telah menemui orang kepercayaan Bung  Karno  bersandikan “wiro karno” di makam raja Selaparang.

Karena kedekatan spiritual Ki Ismoyo dengan Bung Karno, maka ketika ia menatap wajah Bung Karno mengeluarkan air mata kemerahan, ia pun tak kuasa menahan tangis. “Jika para pemimpin bangsa ini tidak segera sadar akan kekeliruannya, bisa fatal akibatnya. Rakyat bisa marah,” katanya dengan nada sedih.

Ketika disinggung adanya fenomena KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) yang dipimpin presidium, di antaranya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, dan didukung penuh para purnawiran (Pamen, Pati ketiga angkatan) di bawah koordinasi Letjen (Purn) Mar Suharto, kemudian  peristiwa langka kembalinya IB Habib Rizieq Shihab dari kota suci Makkah dengan membawa semangat revolusi akhlaq, mengembalikan Indonesia kepada khitthah 1945 berdasar Pancasila dan UUD 1945 asli, bagaimana pandangan spiritual Ki Ismoyo?

“Oh…kalau soal lahirnya KAMI yang didukung penuh para purnawirawan pamen dan pati semu angkatan, juga oleh umat Islam (NU dan Muhammadiyah) kultural itu, lalu kemudian disusul kembalinya IB Habib Rizieq Shihab dari kota suci Makkah. Itu semua memang sudah pasti terjadi,” kata Ki Ismoyo.

“Dalam dunia supranatural, fenomena itu sudah sering kali saya sampaikan kepada tim lelaku, karena nama Jenderal Gatot Nurmantyo dan Habib Rizieq Shihab sudah tertulis dalam kitab Musarror. Sebuah kitab kuno yang oleh Mbah Wasil diajarkan kepada Eyang Joyoboyo menjadi “Jangka Jayabaya”, ujar Ki Ismoyo sembari mengirimkan foto-foto kitab kuno dan pusaka raja-raja yang sengaja dikumpulkan guna keutuhan nusantara.

*Choirul Anam, adalah Pendiri dan Penasehat PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah). Pembina GERAK (Gerakan Rakyat Anti Komunis) Jawa Timur.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry