SURABAYA | duta.co – Pameran buku terbesar dan termurah ‘Big Bad Wolf’ Book Sale Surabaya, sudah berakhir awal pekan ini. Salah satu — dari sekian juta — judul buku itu, ada yang masih menjadi perbincangan sampai sekarang, adalah buku ‘Ketawa Bareng Bung Besar’ karya Eddi Elison, seorang wartawan  TVRI pada masa Orde Lama ini.

”Bukunya murah meriah, isinya sangat menghibur, apalagi terkait Bung Besar (Soekarno red.) Proklamator RI,” demikian disampaikan salah seorang pengunjung kepada duta.co, Kamis (12/10/2017), tiga hari setelah pameran tersebut ditutup.

Siapa yang tak kenal dengan polisi bersih, Mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso? Suatu ketika, masih dalam buku itu, Hoegeng bercerita, bahwa sesaat setelah dirinya diangkat Bung Karno menjadi Menteri Iuran Negara, ia dipanggil bersama istri (Merry Hoegeng) untuk menghadap Presiden di Istana Bogor. Tujuannya hanya satu, Bung Karno ingin tahu, mengapa namanya Hoegeng, tidak Soegeng.

Biasa, Bung Karno memberikan tempat yang leluasa bagi tamunya. Ny Merry dipersilakan berbicara dengan Ibu Hartini (urusan perempuan), Bung Karno berbicara dengan Hoegeng (urusan laki-laki).

Bung Karno mengawali, bahwa, dirinya kagum dengan kejujuran seorang Hoegeng. Terutama ketika Hoegeng menjabat sebagai Kepala Imigrasi. Saat itu, Hoegeng berani mengusir ‘anak emas’ Bung Karno yang bernama Markam, karena putra Aceh ini memaksa diberi paspor diplomatik.

Hoegeng menolak, karena Markam memaksa, Hoegeng pun tak segan-segan mengusirnya. Bung Karno menyampaikan terima kasih, dia tidak marah, bahkan angkat topi.

Nah, setelah itu, Bung Karno tiba-tiba bertanya dengan bahasa Belanda: “Namamu kok Hoegeng, mestinya kan Soegeng. Apa nggak salah? Tanyanya.

Sang menteri  itu langsung menjawab dengan bahasa Belanda juga: “Tidak, Pak. Orangtua saya memberi nama ya begitu, Hoegeng.”

Bung Karno menimpali, “Sebaiknya namamu itu Sukarno saja,” tambahnya.

Sambil menghormat, Hoegeng memberikan alasan.  “Tidak Pak, tukang kebun saya namanya seperti itu. Kalau Soegeng sudah banyak, kalau Hoegeng hanya saya yang pakai,” jawabnya.

Bung Karno pun tertawa, saking kencangnya sampai-sampai Ny Merry Hoegeng dan Ibu Hartini pun terheran-heran. (*)

 

Tinggalkan Balasan