Pengunjung Boonpring sedang meningkmati keindahan dan kesejukan ekowisata hutan bambu ini

MALANG | duta.co – Boonpring menjadi salah satu unit usaha dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bisa dibilang sukses. Betapa tidak, dengan modal awal Rp 170 juta tiga tahun lalu, kini omzetnya mencapai milyaran rupiah.

Bahkan ekowisata Boonpring mampu menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) hingga ratusan juta rupiah.

Di bawah naungan BUMDes Kerto Raharjo, pengelola ekowisata di Dusun Andeman, Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang Sebuah kawasan hutan bambu seluas 36,8 hektare menjadi alternatif wisata masyarakat.

Semula lahan ini merupakan tanah kas desa kini disulap menjadi ekowisata yang dilengkapi dengan kolam anak, berkuda, trail mini, panahan, becak air, flaying fox, hingga perahu boat. Tidak semua wahana tersebut milik BUMDes, ada pula milik warga yang dikerjasamakan.

Tak hanya wisatawan lokal, turis mancanegara juga kerap bertandang ke Boon Pring untuk menikmati suasana alam yang segar dan alami.

Jumlah pengunjung sekitar 500-an orang kalau hari biasa, weekend bisa seribu orang lebih. Rata-rata yang berkunjung wisatawan lokal dan datang secara rombongan.

BUMDes Kerto Raharjo resmi berdiri pada 2015, namun baru bekerja secara aktif per 1 Meret 2017 dengan modal suntikan dana desa Rp 170 juta. Di tahun berikutnya naik menjadi Rp 300 juta, dan tahun ini tak lagi minta dana desa.

Bermodal suntikan dana desa tersebut, BUMDes Kerto Raharjo mengawali cerita suksesnya dengan menggarap empat unit usaha: Ekowisata, Agen 46, PAM dan UMKM. Tahun ini, unit usaha yang digarap bertambah dua, yakni bank sampah dan event organizer (EO).

“Dalam proses, kami juga membuat air mineral. Selain itu, dalam proses juga, kami membuat grosir sembako. Beberapa bulan lalu kami membeli tanah seluas 1.800 M2 untuk kegiatan BUMDes,” terang Direktur BUMDes Kerto Raharjo, Samsul Arifin saat menerima kunjungan wartawan Pokja Pemprov Jatim, Kamis (28/11/2019).

Lewat unit usaha yang digarap, BUMDes Kerto Raharjo beromzet Rp 2,8 miliar (Rp 2.873.577.500) pada 2018 atau naik Rp 1,8 miliar (Rp 1.879.228.000) dari omzet 2017 sebesar Rp 994 juta (Rp 994.349.500).

Tahun ini, per Agustus 2019, omzet yang tercatat sudah mencapai Rp 2,7 miliar (Rp 2.730.000.000). “Estimasi omzet di 2019 sebesar Rp 4,2 miliar dan itu realistis,” ujar Samsul.

Dari omzet miliar rupiah tersebut, laba bersih yang dicatat pada 2017 sebesar Rp 402 juta (Rp 402.905.900) dan naik menjadi Rp 1,4 miliar (Rp 1.457.044.977) pada 2018.

Sedangkan sumbangan PADes yang masuk sebesar Rp 80 juta (Rp 80.581.180) pada 2017 dan naik menjadi Rp 437 juta (Rp 437.113.493) pada 2018. “Estimasi di 2019 sumbangan ke desa Rp 550 juta,” ucap Samsul.

Sebagian besar pendapatan berasal dari tiket masuk. Per orang dewasa dikenakan tarif Rp 10.000, anak-anak Rp 5.000. Sisanya berasal dari aneka mainan yang disediakan warga setempat.

Lantas, bagaimana pendistribusian laba? Menurut Samsul, sisa hasil usaha (SHU) didistribusikan untuk dana cadangan, PADes, pengawas dan pengurus, komisaris, dana karyawan, dana pendidikan, dana sosial, serta purnabakti.

Selain itu, kehadiran BUMDes Kerto Raharjo, juga berdampak pada lapangan pekerjaan untuk warga Desa Sanankerto. “Saat ini ada 75 karyawan tetap, sisanya freelance,” katanya.

Bagi pekerja lepas, mereka diupah Rp 70 ribu plus Rp 12 ribu per hari atau setiap kali datang. Lalu karyawan tetap, digaji sesuai beban kerja, mulai Rp 800 gaji pokok plus uang makan sampai dengan UMK.

Selebihnya, pengembangan ekonomi dilakukan melalui pembukaan kedai-kedai makanan di lokasi ekowisata Boon Pring. Setidaknya, saat ini ada 60 kedai atau warung yang dikelola BUMDes.

“Semua pelaku usaha yang ada, merupakan warga Desa Sanankerto dan tidak melibatkan pihak lain. Mereka sewa ke BUMDes, dan kami punya komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Samsul. Zal

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry