CIREBON | duta.co – Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli menyampaikan, menjelang Muktamar NU ke-35, diskursus mengenai kepemimpinan masa depan organisasi Islam terbesar di dunia ini mulai menghangat.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks—mulai dari pergeseran geopolitik global hingga transformasi digital—NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki akar silsilah yang kuat, tetapi juga kecakapan manajerial yang mumpuni.

H Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, menirut Kiai Imam, muncul sebagai figur sentral yang dinilai banyak pihak memenuhi kriteria “Pemimpin Transformatif” bagi Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

“Kombinasi pengalaman di pemerintahan, perannya sebagai Sekjen PBNU, serta posisinya sebagai representasi kultural pesantren, menjadikan Gus Ipul memiliki kualifikasi unik untuk mengawal NU ke depan,” kata Kiai Imam.

Ia juga menyebutkan 10 alasan kuat mengapa Gus Ipul layak memimpin NU ke depan. Pertama, kata dia,kemampuan manajerial dan pengalaman birokrasi. Berbeda dengan struktur organisasi tradisional, NU saat ini mengelola aset yang masif, mulai dari lembaga pendidikan hingga fasilitas kesehatan.

“Pengalaman Gus Ipul sebagai Menteri, Wakil Gubernur Jawa Timur dua periode, hingga Wali Kota Pasuruan, memberikan bekal tata kelola (governance) yang profesional. Ia tahu cara menggerakkan roda organisasi secara efisien dan akuntabel,” lanjut Kiai Imam.

Kedua, penjembatan antar generasi (bridging the gap). Kiai Imam menilai, Gus Ipul memiliki kemampuan unik untuk berkomunikasi dengan para Kiai Sepuh (Mustasyar) sekaligus merangkul kaum milenial dan Gen-Z di tubuh NU. “Sebagai mantan Ketua Umum GP Ansor, ia memahami psikologi gerakan pemuda, namun tetap menjunjung tinggi nilai tawadhu’ kepada para guru dan ulama,” ungkap Kiai Imam.

Kekuatan kultural ini juga, menurut dia, memungkinkannya menjembatani kiai-kiai di jajaran Syuriyah dengan pengurus struktural di Tanfidziyah, menciptakan harmoni yang diperlukan dalam pengambilan keputusan tertinggi.

Ketiga, jaringan lintas sektoral yang luas. Kepemimpinan NU ke depan membutuhkan akses luas ke tingkat nasional maupun internasional. Kiai Imam menilai, Gus Ipul memiliki kedekatan dengan berbagai elemen bangsa: pemerintah, pengusaha, hingga aktivis lintas agama. “Jaringan ini krusial untuk memperkuat posisi tawar NU dalam kebijakan publik dan diplomasi kemanusiaan,” lanjutnya.

Keempat, visi kemandirian ekonomi jam’iyah. Salah satu tantangan besar NU adalah kemandirian ekonomi. Kiai Imam menilai, Gus Ipul sering menekankan pentingnya penguatan ekonomi warga (Nahdliyin). “Dengan latar belakangnya, ia diprediksi mampu mengorkestrasi potensi ekonomi NU yang selama ini masih tercecer menjadi kekuatan korporasi sosial yang solid,” katanya.

Kelima, komitmen terhadap moderasi beragama (wasathiyah). Di tengah arus polarisasi ideologi, lanjut Kiai Imam, Gus Ipul adalah sosok yang konsisten mengawal moderasi beragama. Ia memahami betul bagaimana menerjemahkan konsep Islam Nusantara ke dalam aksi nyata yang dapat diterima oleh masyarakat luas tanpa menghilangkan substansi nilai-nilai Aswaja.

“NU tidak hanya butuh sosok yang alim secara keilmuan, tapi juga cekatan dalam pengabdian (khidmah) dan paham peta politik serta ekonomi global,” lanjut Kiai Imam.

Keenam, pengalaman panjang di struktur PBNU. Menurut Kiai Imam, Gus Ipul bukanlah “orang baru” atau penumpang gelap di NU. Dedikasinya dimulai dari tingkat bawah hingga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU. Pemahaman mendalamnya terhadap AD/ART dan kultur internal organisasi memungkinkannya untuk melakukan reformasi birokrasi tanpa menimbulkan kegaduhan.

Ketujuh, kepekaan sosial dan kedekatan dengan akar rumput. Meskipun sering berada di lingkaran kekuasaan, lanjut Kiai Imam, Gus Ipul dikenal sebagai pejabat yang low profile dan mudah ditemui oleh warga biasa. “Gaya komunikasi yang egaliter ini sangat dibutuhkan untuk memastikan aspirasi dari pengurus tingkat Cabang (PCNU) hingga Ranting benar-benar terdengar di tingkat Pusat,” ungkapnya.

Kedelapan, kemampuan mitigasi konflik. Dunia organisasi tidak lepas dari perbedaan pendapat. Menurut Kiai Imam, Gus Ipul dikenal sebagai sosok “komunikator ulung” yang mampu mendinginkan suasana. Kemampuannya melakukan lobi-lobi persuasif sangat penting untuk menjaga soliditas internal NU agar tidak mudah terpecah oleh kepentingan politik praktis.

Kesembilan, adaptasi terhadap transformas diigital. Kiai Imam menilai, Gus Ipul menyadari bahwa NU harus bertransformasi secara digital. Ia mendorong digitalisasi data keanggotaan dan pemanfaatan teknologi untuk dakwah serta pendidikan. “Kepemimpinannya diharapkan mampu membawa NU menjadi organisasi yang relevan di era industri 4.0,” kata Kiai Imam.

Kesepuluh, akar kultural dan sanad keilmuan yang kuat. Gus Ipul bukanlah sosok yang “tiba-tiba” ada di NU. Ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental, sebagai keponakan dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan dididik di Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang. “Sanad keilmuan dan kultural ini penting dalam NU, karena pemimpin NU harus memahami tradisi Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) secara mendalam,” ujarnya.

Kiai Imam juga memandang, Muktamar NU ke-35 bukan sekadar ajang pergantian kursi kepemimpinan, melainkan momentum bagi NU untuk melakukan lompatan besar. Dengan rekam jejak sebagai aktivis organisasi, nasab (garis keturunan), sanad (keilmuan/organisasi), dan pengalaman profesional, politisi, birokrat, dan pengurus inti PBNU, Gus Ipul memiliki paket lengkap. “Ia mampu mengombinasikan tradisi kultural pesantren dengan manajemen modern,” ungkapnya.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Kiai Imam menilai, Gus Ipul layak memimpin NU untuk membawa organisasi ini semakin mandiri, moderat, dan berdampak positif bagi bangsa dan negara. Gus Ipul, menurut Kiai Imam, adalah jawaban atas kebutuhan NU akan pemimpin yang mampu menjaga tradisi sekaligus melakukan inovasi.

“Maka, menyerahkan tonggak kepemimpinan kepada sosok yang ‘matang’ dan memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang adalah langkah strategis untuk membawa NU menuju satu abad kedua yang lebih gemilang. Wallahu’lam bishawab,” pungkas Kiai Imam.***

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry