
Catatan Pinggir
Dr. ROMADLON SUKARDI MM*
DI era disrupsi global, revolusi industri 4.0, kecerdasan buatan, dan perubahan lanskap ketenagakerjaan dunia yang bergerak sangat cepat, pendidikan tidak lagi cukup hanya menghasilkan ijazah.
Dunia modern membutuhkan manusia-manusia unggul yang memiliki kompetensi nyata, kemampuan adaptif, kreativitas, karakter, serta keberanian menciptakan peluang baru. Dan dalam konteks inilah, kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa memperlihatkan arah transformasi pendidikan vokasi yang sangat visioner, progresif, dan futuristik.
Capaian 91,46 persen lulusan SMK Jawa Timur yang berhasil masuk dalam skema BMW (Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha) bukan sekadar statistik pendidikan biasa. Ia merupakan indikator penting bahwa Jawa Timur sedang membangun ekosistem pendidikan vokasi yang produktif, relevan dengan kebutuhan industri, sekaligus selaras dengan arah pembangunan global berbasis talenta dan inovasi.

Di tengah tingginya kekhawatiran dunia terhadap skills mismatch antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja, Jawa Timur justru menghadirkan model pendidikan vokasi yang semakin terhubung dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Inilah bentuk nyata kepemimpinan transformatif yang tidak hanya berpikir tentang hari ini, tetapi mempersiapkan generasi masa depan dengan kompetensi global.
Menuju Ekosistem Industri Masa Depan
Khofifah tampaknya memahami satu hal penting: masa depan ekonomi dunia akan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, bukan sekadar kekayaan sumber daya alam. Karena itu, pendidikan vokasi di Jawa Timur diarahkan bukan hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi ruang pembentukan budaya kerja, inovasi, dan produktivitas.
Program Teaching Factory (TeFa) yang diwajibkan di ribuan SMK negeri maupun swasta sesungguhnya adalah model pembelajaran modern berbasis industri. Sekolah tidak lagi berdiri terpisah dari dunia kerja, tetapi menjadi miniatur industri masa depan.
Di sinilah terlihat bagaimana Khofifah mencoba mengubah paradigma pendidikan lama menuju future skill ecosystem. Bahwa siswa SMK tidak cukup hanya pintar di kelas, tetapi harus siap menghadapi ritme dunia industri global yang kompetitif, dinamis, dan berbasis teknologi.
Pendekatan ini sangat selaras dengan agenda besar Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDG 9 tentang inovasi dan industrialisasi berkelanjutan.
Membangun Talenta Global dari Jawa Timur
Yang menarik, arah pembangunan vokasi Jawa Timur tidak berhenti pada kebutuhan lokal. Program magang luar negeri, penguatan sertifikasi internasional, hingga pengiriman ribuan pekerja migran profesional menunjukkan bahwa Jawa Timur sedang mempersiapkan talenta global.
Ini adalah langkah strategis yang sangat modern. Karena dunia kerja masa depan bukan lagi berbasis batas geografis, tetapi berbasis kompetensi. Mereka yang memiliki keterampilan, sertifikasi, dan kemampuan adaptif akan menjadi pemain global tanpa harus meninggalkan identitas lokalnya.
Khofifah tampaknya sedang membangun apa yang disebut sebagai global talent province — sebuah provinsi yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi melahirkan SDM unggul yang mampu bersaing di panggung internasional.
Produktif dan Berkelanjutan
Keberhasilan pendidikan vokasi Jawa Timur tidak lahir secara instan. Ia merupakan hasil konsistensi kebijakan, keberanian melakukan inovasi, dan kemampuan membangun kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan.
Di sinilah filosofi Nawa Bhakti Satya menemukan relevansinya. Program pendidikan vokasi yang diperkuat melalui sertifikasi, link and match industri, kewirausahaan, hingga penguatan kompetensi berbasis teknologi merupakan pengejawantahan nyata dari semangat Jatim Kerja, Jatim Cerdas, dan Jatim Sejahtera. Khofifah tidak hanya membangun sekolah. Ia sedang membangun ekosistem masa depan.
Sebuah ekosistem di mana pendidikan menjadi mesin mobilitas sosial, industri menjadi ruang produktivitas, dan inovasi menjadi fondasi kemajuan daerah.
Merawat Harapan, Menyiapkan Peradaban
Yang paling penting dari semua ini sesungguhnya bukan hanya angka keterserapan lulusan yang tinggi. Tetapi bagaimana pendidikan mampu menjaga harapan generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman yang sangat cepat. Karena pendidikan sejatinya bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi tentang martabat manusia.
Dan di titik inilah, kepemimpinan Khofifah terasa memiliki dimensi reflektif yang kuat. Bahwa membangun pendidikan berarti membangun masa depan bangsa. Bahwa membangun talenta berarti membangun peradaban.
Jawa Timur hari ini tampaknya sedang bergerak menuju sebuah fase baru: menjadi pusat lahirnya generasi produktif, inovatif, adaptif, dan berdaya saing global.
Sebuah langkah besar yang dibangun bukan dengan kegaduhan, tetapi dengan kerja sistematis, kolaborasi berkelanjutan, dan visi masa depan yang sangat panjang.
Wallahu A’lamu Bisshawab.




































