
SIDOARJO | duta.co – H Yusuf Hidayat, Sekjen BAGUS (Barisan Gus dan Santri) Jawa Timur, berharap politisi berlatar belakang NU, paham dengan etika berpolitik Jangan asal menang, lalu menghalalkan segala cara. Apalagi sampai mengorbankan organisasi. Jangan aji mumpung, memanfaatkan kepengurusan organisasi.
“Jangan aji mumpung, jangan karena merasa menjadi pengurus, lalu seenaknya mengorbankan jamaah. Jangan! Pertanggungjawaban akhirat berat. Ini kami sampaikan karena cinta kepada pengurus jamiyah ” demikian disampaikan Gus Yusuf, alumni PP Tebuireng Jombang terkait ‘gonjang-ganjing’ politik oknum Muslimat NU Sidoarjo kepada duta.co, Jumat (8/11/24).
Alumni FISIP UNDAR (Universitas Darul Ulum) Jombang ini, mengaku mencermati perkembangan politik (Pilkada) di Kabupaten Sidoarjo. Apalagi, setiap harinya ia berada di kawasan Bangurasih, Sidoarjo. Akhirnya tahu, bagaimana ulah oknum politik itu bermanuver.
“Kalau ada jamaah Muslimat NU berjibaku mendukung Bu Khofifah-Emil di Pilgub Jatim, itu bisa dipahami. Ibunya (Ketua Umum PP Muslimat NU red.) yang sedang berusaha membangun Jatim. Tapi, kalau mendukung yang lain, lalu mempolitisir jamiyah Muslimat NU, terus di mana naluri kita,” tegasnya.
Sudah begitu, tegas Gus Yusuf, mereka yang didukung itu ternyata emoh dengan Bu Khofifah. “Saya sendiri tidak habis pikir, kok (oknum itu) mendukung yang lain? Bu Khofifah yang jelas-jelas ibunya Muslimat NU, dilupakan. Maka, jangan salahkan kalau ada jamaah yang gerundel, memilih tegak lurus bersama partai pendukung Bu Khofifah,” tegasnya.
Ada Tiga Kekeliruan
Gonjang-ganjing politik yang melilit Muslimat NU Sidoarjo terus mewarnai media.Terbaru, Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Banser Sidoarjo tidak tinggal diam, ikut menyikapi adanya upaya pihak-pihak tertentu yang (dinilai) mendiskreditkan Hj, Ainun Jariyah, Ketua PC Muslimat NU Sidoarjo.
Karena (menurut GP Ansor) kehadiran Ning Ainun, sapaan anggota fraksi PKB dalam acara Tahlil Qubro Muslimat NU Candi di Sepande, Candi, tidak melanggar aturan sama sekali, baik kapasitasnya sebagai pengurus Muslimat maupun anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo.
Rizza Ali Fauzin, Ketua PC GP Ansor Sidoatjo — sebagaimana dikutip nusadaily.com — menyebut kehadiran Ning Ainun pada acara tahlil qubro pada tanggal 19 Okotober lalu, kaspaitasnya sebagai pengurus muslimat. Selain itu sebagai anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo, jika dituding berkampanye untuk Paslon SAE pada acara itu, juga sudah mengantongi izin cuti disetujui pimpinan DPRD Kabupaten Sidoarjo.
“Jadi dalam konteks kegiatan itu, Ning Ainun jelas-jelas tidak menyalahi aturan sama sekali. Tetapi oleh pihak-pihak tertentu terus mencoba mendeskreditkan beliau secara masif. Ini yang tidak bisa kami terima dan membiarkan Ning Ainun diperlakukan seperti itu,” kata Rizza, Kamis (7/11) sore terunggah di nusadaily.com.
Menanggapi hal itu, Gus Yusuf merasa perlu memberikan pemahaman lebih dalam. Menurutnya, ada 3 kekeliruan kampanye politik di acara Muslimat NU. Pertama, Muslimat NU itu tidak boleh dipakai kampanye. Ini sudah dipahami semua jamaah. Bahkan PCNU Sidoarjo juga sudah mengeluarkan instruksi netralitas tersebut.

“Kedua, acara tahlil-kubro di Desa Sepande, Candi, bahkan kabarnya juga di tempat-tempat lain, memakai dana warga, tapi dipakai kampanye. Jelas mendapat perlawanan jamaah. Kalau tidak berani melawan secara terang-terangan, akan melawan secara diam-diam. Ini yang terjadi sekarang,” tegasnya.
Ketiga, adalah kekeliruan besar, kalau dana kubroan, diambil lewat RT-RW, apalagi ujungnya diisi kampanye. “Bukan besaran tarikan, bukan uangnya, tapi ini masalah moral politik. Di mana muka Pengurus Ranting Muslimat NU, kalau oknum politiknya tidak tahu diri? Sekali lagi, ini bukan masalah Muslimat NU-nya, tetapi oknum politik yang tidak tahu diri. Kasihan pengurus ranting, di mana muka mereka ditaruh?” pungkasnya. (mky)





































