Kota Malang selama ini dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah datang dengan harapan menimba ilmu, membangun masa depan, dan mengembangkan diri. Namun, di balik citra akademik tersebut, tumbuh sebuah fenomena sosial yang semakin menguat budaya produktivitas yang berkelindan dengan hustle culture di kalangan Generasi Z.

Oleh: Regita Aulia Istiningtyas, Mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya

Di lingkungan mahasiswa Malang hari ini, kesibukan seolah menjadi ukuran utama keberhasilan. Jadwal padat mulai dari kuliah, organisasi, magang, hingga kerja paruh waktu tidak lagi sekadar pilihan, melainkan standar sosial yang harus dipenuhi. Mahasiswa yang terlihat “sibuk” kerap dipersepsikan lebih unggul, lebih berprestasi, dan lebih siap menghadapi masa depan.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari peran media sosial. Platform digital menjelma menjadi panggung pencitraan produktivitas, tempat aktivitas padat dipamerkan sebagai simbol pencapaian diri. Sayangnya, yang ditampilkan hampir selalu sisi gemilangnya saja. Kelelahan, kecemasan, dan tekanan mental yang menyertai ritme hidup tersebut jarang mendapatkan ruang untuk dibicarakan secara jujur.

Dalam kacamata sosiologi kesehatan, hustle culture memunculkan pergeseran makna sehat dan sakit. Banyak mahasiswa tetap memaksakan diri meski tubuh dan pikiran memberi sinyal kelelahan. Selama tugas terselesaikan dan target tercapai, kondisi fisik maupun mental yang menurun dianggap wajar, bahkan dinormalisasi. Istirahat sering kali dipandang sebagai kemewahan, bukan kebutuhan dasar manusia.

Dampaknya tidak sederhana. Gangguan tidur, kecemasan berlebih, hingga rasa bersalah saat tidak melakukan apa pun menjadi pengalaman yang kian umum di kalangan mahasiswa. Ketika waktu luang justru memicu kecemasan, maka yang terjadi bukan lagi produktivitas sehat, melainkan tekanan yang berkelanjutan.

Penting untuk disadari bahwa hustle culture bukan semata persoalan individu yang “tidak pandai mengatur waktu”. Ia adalah persoalan struktural. Lingkungan kampus, sistem penilaian prestasi, hingga narasi kesuksesan yang terus digaungkan turut membentuk iklim kompetitif yang sering kali abai terhadap kesehatan mental.

Sebagai institusi pendidikan, kampus semestinya tidak hanya mendorong mahasiswa untuk berprestasi, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang manusiawi. Produktivitas perlu dimaknai secara lebih berkelanjutan bukan sekadar banyaknya aktivitas, melainkan kualitas proses belajar dan kesejahteraan individu di dalamnya.

Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki potensi besar untuk menjadi contoh ruang akademik yang seimbang kompetitif namun tetap peduli, produktif tanpa mengorbankan kesehatan mental. Refleksi terhadap budaya produktivitas ini menjadi langkah penting agar Generasi Z tidak terus-menerus terjebak dalam tekanan hustle culture yang berlebihan, dan dapat tumbuh sebagai generasi yang sehat, sadar diri, dan berdaya.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry