PANEN : Tim Pengmas FKK Unusa memanen sawi pokcoy untuk pertama kalinya setelah sebulan program tanaman hidroponik mereka kembangkan. DUTA/endang

Di masa pandemi Covid-19, banyak hal yang berubah terutama pola hidup dan konsumsi masyarakat. Pola hidup sehat dan mengonsumsi makanan bergizi kini mulai diterapkan.

Di tengah kondisi sulit ini, memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran mulai digalakkan. Demi untuk menciptakan ketahanan pangan minimal dalam keluarga sendiri dan lingkungan.

Empat dosen program studi Keperawatan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mencoba memulai mengedukasi diri sendiri untuk bercocok tanam sebelum mereka mengedukasi orang lain terutama masyarakat di sekitar Kampus A Unusa di Wonokromo.

Hasil panen sayur yang segar bisa dikonsumsi masyarakat secara langsung. DUTA/endang

Mereka tergabung dalam satu tim dengan anggota  Chilyatiz Zahroh, Nurul Kamariyah, Siti Nurjanah dan Umdatus Soleha.

Keempatnya sepakat membentuk tim pengabdian masyarakat dengan program tanaman hidroponik. Selama masa bekerja dari rumah, mereka masih menyempatkan diri membuat tanamam hidroponik dengan bantuan ahlinya.

Mereka dilatih secara lengkap mulai pembuatan rangka hidroponik, mencari bibit, menyemai bibit hingga penanamam dan perawatan tanaman. Bahkan mengukur kadar air, tak luput untuk diajari.

Ketua Tim, Chilyatiz Zahroh mengatakan keinginan membuat tanaman hidroponik itu tercetus sejak sebulan lalu. Mereka berpikir, di masa pandemi, banyak masyarakat yang berkegiatan di rumah saja. Sehingga banyak waktu kosong yang bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif.

Sayur hasil panen diberikan kepada karyawan yang berada di lingkungan kampus A Unusa Jalan Smea. DUTA/endang

“Kita mencari kira-kira apa ya yang cocok. Lalu kita berpikir, di masa pandemi itu masyarakat juga kesulitan mendapatkan bahan makanan terutama sayur yang dibutuhkan tubuh karena banyak pasar tutup. Akhirnya tercetus untuk membuat hidroponik ini,”  ujar Titis panggilan Chilyatiz Zahroh.

Selain itu, dikatakan Titis, hidroponik sangat efektif dan efisien bagi mereka yang tidak memiliki lahan luas. Sehingga sangat cocok bagi masyarakat yang hidup di perkotaan. “Kita awalnya buta masalah ini. Hingga akhirnya ketemu ‘suhunya’. Kami dilatih secara lengkap tentang hidroponik ini. Walau bekerja dari rumah tapi kami sempatnya belajar,” jelas Titis.

Hingga akhirnya, program belajar itu bisa dijalankan. Dan proses menanam bisa dilakukan. Dalam sebulan mereka sudah bisa melakukan panen sawi pokcoy dan mencoba menanam kangkung.

“Kami sudah bisa pamen sawi pokcoy. Ternyata kita bisa panen dalam waktu singkat. Sawi hanya 6 minggu, bayem itu 6 minggu dan kangkung hanya 3 minggu sudah bisa dipanen,” tandas Titis saat panen perdana Selasa (23/6/2020).

Dengan keberhasilan ini, tim semakin bersemangat untuk melanjutkan program ini secara lebih intens. Bahkan akan mengembangkannya di kampus A Unusa Jalan Smea.

Dikatakan Titis, nantinya program hidroponik ini akan dikembangkan lebih banyak lagi sehingga akan menjadi unit bisnis sendiri di Unusa. Apalagi FKK Unusa memiliki unit kegiatan mahasiswa kewirausahaan.

Tidak hanya itu, ke depan, tim pengmas ini akan melakukan pengaderan ke mahasiswa. Mereka akan melatih mahasiswa agar bisa ikut mengembangkan tanaman hidroponik ini. Sehingga ke depan mahasiswa bisa juga memberikan pelatihan di lingkungan rumah masing-masing.

“Selain kami dan mahasiswa yang terlatih akan mengedukasi masyarakat sekitar kampus agar bisa mengembangkan hidroponik ini. Karena bisa menghasilkan sayuran sehat dan meningkatkan ketahanan pangan,” tukas Titis.  end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry