Mahasiswa Unusa mencatat data ibu dan anak untuk dibuatkan buku KIA. DUTA/ist

Kesehatan ibu dan bayi menjadi prioritas pemerintah agar bisa menekan angka kematian. Karena sampai saat ini, angka kematian ibu dan bayi masih cukup tinggi di Indonesia termasuk di Jawa Timur. Karena itu, peran serta banyak pihak dibutuhkan terutama kalangan akademisi agar bisa menekan angka tersebut.

Salah satunya dilakukan para dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Ratna Ariesta Dwi Andriani dan Ika Mardiyanti dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan serta dr Winawati Eka Putri dan dr Mohammad Nasir dari Fakultas Kedokteran melakukan pengabdian masyarakat (pengmas) di Puskesmas di Paciran Lamongan beberapa waktu lalu.

Mereka bersama Puskesmas Paciran mengedukasi para ibu hamil dan yang memiliki balita untuk lebih sadar diri akan pentingnya memeriksakan kesehatan di puskesmas atau bidan setempat.

Para dosen dibantu beberapa mahasiswa memberikan edukasi itu karena saat masa pandemi banyak pembatasan hampir ke semua layanan rutin termasuk pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Seperti ibu hamil menjadi enggan ke puskesmas atau fasiltas pelayanan kesehatan lainnya karena takut tertular Covid-19.

 Padahal, ibu hamil dan yang memiliki balita, memeriksakan diri ke layanan kesehatan sangatlah penting. Agar juga bisa menekan angka kematian ibu dan bayi. “Karena dalam situasi normal, kematian ibu dan kematian neonatal di Indonesia masih menjadi tantangan besar, apalagi pada pandemi. Makanya, para ibu harus terus diedukasi,” ujar Ika Mardiyanti salah satu anggota tim pengmas.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Karena itu, pandemi yang membatasi tatap muka, membuat empat dosen itu berinovasi dengan membuat buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).

Buku ini berisi banyak hal. Selain data ibu dan bayi, juga berisi ‘rekam medis’ sederhana keduanya. Mulai pemeriksaan kehamilan saat si ibu hamil, juga data persalinan, pemeriksaan nifas, imunisasi bayi sampai lima tahun, pemeriksaan bayi dan sebagainya.

“Dulu KMS (kartu menuju sehat) tapi buku KIA ini lebih lengkap karena apa yang ada di KMS ada pula di buku KIA ditambah data lainnya,” kata Ika.

Buku KIA penting untuk bisa melihat data kesehatan ibu dan anak. DUTA/ist

Di buku itu semua data ibu dan bayi akan tercatat dengan baik. Sehingga ketika nantinya terjadi sesuatu dengan keduanya bisa dengan mudah diketahui penyebabnya dan bisa ditangani sejak dini. “Menekan angka kematian ibu dan balita dengan rutin pemeriksaan dan mencatatkan kesehatannya,” ungkap Ika.

Dengan buku ini pula, di masa pandemi bisa dijadikan buku panduan. Di mana para ibu juga harus bisa membaca panduan-panduan dalam buku itu agar bisa diterapkan secara mandiri.

“Kalau misalnya ada layanan kesehatan yang masih belum buka, maka si ibu bisa melakukan pemantauan kesehatan secara mandiri dan mencatatnya juga secara mandiri. Terutama jika pasien dalam hal ini ibu dan balitanya tidak ada keluhan apapun. Kalau ada keluhan harus segera ke layanan kesehatan,” tuturnya.

Juga di buku tersebut para ibu dipandu bagaimana bisa melakukan telemedicine kebidanan melalui telepon atau WA. Dalam hal ini kata Ika, melibatkan peran dari Dinas Kesehatan agar bisa memfasilitasi penggunaan teknologi bagi ibu untuk menggantikan layanan tatap muka selama masa pandemi.

Teknologi komunikasi yang dipergunakan dapat berupa call center khusus layanan KIA, SMS dan WA atau aplikasi telemedicine. Penggunaan teknologi dilakukan dengan memandang kesiapan daerah, penerimaan dan literasi masyarakat.

Telemedicine ini dapat dimanfaatkan untuk  edukasi kepada ibu hamil dan ibu menyusui, penilaian mandiri adanya faktor risiko pada ibu hamil,penilaian mandiri status kesehatan dan mengenali tanda bahaya adanya penyulit kehamilan, penyulit persalinan dan penyulit bayi baru lahir.

Juga penilaian mandiri status Covid-19, konsultasi kehamilan, persiapan persalinan, masa nifas dan perawatan bayi baru lahir untuk melengkapi kunjungan untuk ANC, kunjungan neonatal dan kunjungan nifas.

Bisa juga untuk Akses Ante Natal Care (ANC), Post Natal Care (PNC), layanan Keluarga Berencana (KB) dan membuat perjanjian untuk bertemu tenaga kesehatan, pengingat jadwal ANC, kunjungan neonatal dan nifas dan KB.

Peran buku KIA sebagai sahabat ibu dan anak sangatlah tepat karena akses informasi pada internet tidak selalu benar sumber datanya.Dengan panduan pelayanan asuhan kebidanan yang sudah disusun tersebut kekhawatiran akan peningkatan morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi baru lahir tidak ada. Ibu sehat keluarga sejahtera. *

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry