MOTIVASI GURU : Rektor ITS, Joni Hermana menjadi Pembicara dalam Seminar Pendidikan "Membangun Generasi Emas dengan Karakter Berkemajuan" yang diikuti Kepala sekolah SMA/SMAN se-Surabaya di Surabaya, Rabu (14/2). DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA | duta.co – Branding (identitas merek) menjadi sangatlah penting. Branding tidak hanya berlaku bagi perusahaan atau produk tapi juga bagi lembaga pendidikan. Bagi lembaga pendidikan, branding bisa juga berfungsi sebagai kekuatan dan pembeda.

Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menyadari hal itu. Sehingga, dari 996 lembaga pendidikan dasar dan menengah yang berada di bawahnya ditekankan untuk membranding  lembaganya.

Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim, Arba’iyah Yusuf mengatakan branding bagi lembaga pendidikan mutlak dibutuhkan. Biasanya, branding  itu apa yang melekat pada institusi itu atau keunggulan dari sekolah yang bersangkutan.

“Itu dikembangkan, kemudian masyarakat yang akan membuktikan dan melihat itu. Sehingga itu yang nantinya menjadi kekuatan dan pembeda dari lembaga pendidikan yang lain. Kalau semua lembaga pendidikan sama tidak akan menarik masyarakat,” jelas Arba’i di sela seminar pendidikan yang digelar SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) di Ibis Style Hotel, Rabu (14/2).

Branding bagi lembaga pendidikan Muhammadiyah dikatakan Arba’iya bisa dalam berbagai bentuk, misalnya kewirausahaan, seni, kreativitas dan sebagainya. “Yang menjadi unggulan dari sekolah itu apa ya ditonjolkan. Nantinya biarkan masyarakat yang menilai,” jelasnya.

Kepala Smamda, Astajab (kiri) bersama Rektor ITS, Prof Joni Hermana. DUTA/wiwiek

Untuk Smamda sendiri, Arba’iya menilai lebih menonjol dalam bidang kewirausahaan (entrepreneur). Terbukti banyak lulusan Smamda yang memilih menjadi pengusaha dan profesi yang berkaitan dengan kewirausahaan. “Inilah brandingnya Smamda Surabaya dan sekolah Muhammadiyah yang lain harus memiliki  branding sendiri sesuai jati dirinya,” tandasnya.

Sehingga ketika Smamda sudah membranding diri sebagai sekolah yang menyetak entrepreneur maka sekolah pun menyiapkan literasi financial sebagai upaya pemberian pengetahuan tentang keuangan.

“Wajib itu bukan sekadar pengetahuan itu masuk dalam kurikulum atau tidak. Tapi di setiap proses pendidikam. Bagaimana literasi keuangan ini menjadi literasi dasar,” tukasnya.

Smamda sendiri saat ini sangat memprioritaskan penguatan pendidikan karakter untuk mencetak generasi emas. Smamda sebagai salah satu sekolah yang telah mengimplementasikan PPK ingin mengajak SMP Negeri, swasta, serta MTs untuk bersama- sama untuk mencetak generasi emas.

Untuk itu, Smamda menghadirkan Rektor Joni Hermana untuk memberikan materi serta memberikan pencerahan bagi para guru SMP sederajad di Surabaya dan sekitarnya. “Seminar ini memang kami selenggarakan setiap tahun dengan mengusung topik terkini.,” ungkap Kepala Smamda Astajab.

Lebih lanjut ia juga menuturkan tujuan acara ini selain untuk memberikan wawasan kepada kepala SMP, MTs baik negeri dan swasta, wakil kepala sekolah dan guru BK se- Surabaya juga bertujuan untuk membangun komunikasi dan silaturahmi dengan pimpinan dan guru guru SMP.

Diharapkan setelah mengikuti seminar ini wawasan terkait PPK bertambah dan lebih bersemangat untuk menerapkan PPK di sekolah masing-masing. end

Tinggalkan Balasan