Drs H Abdul Kholiq (paling kiri). ft/ist

SURABAYA | duta.co – Mantan Ketua PC GP Ansor Jombang, Jawa Timur, Drs H Abdul Kholiq mengapresiasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang berkenan minta maaf dan mengubah dua Tema  Lomba karya tulis.

Semula tema itu berbunyi ‘Hormat Bendera Menurut Hukum Islam’ dan ‘Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam’. Lalu, diubah menjadi ‘Pandangan Agama dalam Menguatkan Wawasan Kebangsaan’ dan ‘Peran Masyarakat Dalam Penanggulangan Pandemi COVID-19 Menuju Indonesia Tangguh dan Indonesia Tumbuh’.

“Bagus! Kita apresiasi sikap BPIP. Karena tema awal itu, sangat tendensius, seakan-akan menafikan peran penting para ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia ini,” tegas Cak Kholiq, panggilan akrabnya kepada duta.co, Senin (16/8/2021).

Mantan anggota Fraksi PDI-P Kabupaten Jombang ini, juga mengapresiasi sikap kritis para politisi santri dari Partai Keadilan Sejahtera  (PKS), terutama Dr Hidayat Nur Wahid yang mendesak agar BPIP mencabut dan meminta maaf kepada publik.

“Terima kasi PKS, terima kasih HNW! Jujur, sebagai politisi santri, PKS tidak takut dicap kadrun. Kita butuh partai yang konsisten membela kebenaran. Ini bukan saja membela umat Islam, tetapi juga membela kebenaran, fakta sejarah demi keutuhan NKRI,” tegasnya.

Seperti diberitakan detik.com Senin (16/8/2021), setelah menuai kritik soal tema lomba karya tulis itu, BPIP meminta maaf atas pemilihan tema tersebut. Permintaan maaf disampaikan langsung oleh Plt Sekretaris Utama BPIP, Karjono.

Dia awalnya mengapresiasi perhatian hingga masukan dari masyarakat terkait lomba karya tulis yang hendak digelar BPIP. “Menyikapi berbagai masukan dan tanggapan masyarakat terkait lomba karya tulis yang telah diberitakan di berbagai media massa, maka kami keluarga besar BPIP merasa senang sebagai lembaga baru yang mendapatkan perhatian yang cukup besar dari masyarakat dan tokoh yang telah memberikan komentar, masukan dan sarannya,” demikian Karjono dalam keterangannya, dikutip detik.com.

“Hal ini juga terlihat banyaknya jumlah pendaftar semenjak diumumkan melalui medsos BPIP hingga sampai dengan saat ini empat hari sudah tercatat lebih dari 300 orang pendaftar,” lanjutnya.

Terima Kasih Tak Terhingga

Lebih lanjut, Karjono mengatakan tema lomba yang diambil sebelumnya memang sempat menuai kontroversi dan kurang sesuai di masyarakat. Dia menyebut BPIP menyampaikan permohonan maaf atas tema tersebut. “Kami sampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh masyarakat sekaligus permohonan maaf, apabila kegiatan yang kami laksanakan kurang sesuai yang diharapkan,” ucapnya.

Karjono memastikan lomba karya tulis akan tetap dilaksanakan dengan mengambil tema yang berbeda, yakni ‘Pandangan Agama dalam Menguatkan Wawasan Kebangsaan’ dan ‘Peran Masyarakat Dalam Penanggulangan Pandemi COVID-19 Menuju Indonesia Tangguh dan Indonesia Tumbuh’. Tema baru tersebut merupakan perubahan atau pengganti tema sebelumnya, yakni ‘Hormat Bendera Menurut Hukum Islam’ dan ‘Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam’.

Padahal, sebelumnya, Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo (Romo Benny) masih berusaha ‘membela’ maksud lomba artikel Hari Santri yang ramai diprotes itu. Dia mengatakan lomba ini memang dikhususkan untuk Hari Santri sehingga temanya pun disesuaikan.

“Khusus untuk Hari Santri, BPIP memang membuat lomba-lomba yang dikhususkan untuk itu. Tapi BPIP juga akan membuat lomba-lomba untuk hari besar, seperti Natal, Waisak, atau hari besar Galunggung, Konghucu,” kata Romo Benny kepada wartawan, Jumat (13/8).

Berbau SARA
Wakil Ketua MPR-RI Hidayat Nur Wahid. (foto kiri)

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR-RI Hidayat Nur Wahid, mengkritik lomba yang digelar BPIP. Temanya sangat kontroversial, berbau SARA dan Islamophobia. “Ini jelas tidak sesuai dengan spirit berpancasila sebagaimana diwariskan oleh Bapak-Bapak Bangsa,” katanya.

Menurut HNW, panggilan akrabnya, BPIP mengulangi kegaduhan yang kontraproduktif, di saat Bangsa sedang siap-siap memperingati HUT Kemerdekaan RI dan Hari Konstitusi (18 Agustus), dimana dua peristiwa nasional itu justru membuktikan kuatnya peran Santri dan Ulama untuk Indonesia Merdeka, Pancasila dan UUD 1945.

Maka, saran HNW, “BPIP harus mencabut 2 tema yang tidak menghormati peran menyejarah Santri itu. Lalu minta maaf terbuka kepada publik, dan segera menggantinya dengan tema lomba yang lebih produktif dan edukatif,” demikian sebagaimana disampaikan kepada duta.co. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry