Banjir di Tuban.

TUBAN | duta.co – Memasuki musim penghujan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Tuban ingatkan masyarakat untuk selalu waspada adanya banjir bandang sebagai dampak dari potensi hujan lebat yang terjadi hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur.

“Meski belum memasuki puncak musim penghujan kami menghimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati. Untuk puncak musim penghujannya terjadi pada bulan Januari dan Februari 2022,” ungkap Kepala BMKG Tuban, Zem Irianto Padama saat dikonfirmasi Rabu (17/11/2021).

Lebih lanjut, ia menegaskan masyarakat diharuskan tetap waspada karena bulan November 2021 ada fenomena La Nina yang akan meningkatkan curah hujan sehingga bisa menimbulkan bencana Hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, longsor dan angin kencang. La Nina merupakan kondisi penyimpangan (anomali) suhu permukaan laut Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin daripada kondisi normalnya

“La Nina ini sendiri didefinikasi sebagai kondisi penyimpangan suhu permukaan laut Samudra Pasifik tropis, dan kondisi ini berdurasi beberapa bulan hingga dua tahun selalu berulang setiap tahun siklusnya 2-8 tahun,” terangnya.

Zen juga mengatakan La Nina tahun ini, jika dilihat berdasarkan historis curah hujan membawa dampak pada curah hujan dimana pada bulan Oktober 2021, dimana sebagian dari Jawa Timur sudah memasuki musim penghujan dan terus meluas hingga bulan November.

“November dan Desember nanti curah hujan atas normal, disamping itu perkiraan curah hujan tinggi juga akan terjadi pada Desember hingga Maret khususnya Jawa Timur bagian tengah dan timur,” ucapnya.

Untuk itu pihaknya meminta masyarakat dan semua pihak terkait untuk bersiap dan mengatisipasi untuk menghadapi musim hujan tahun ini, salah satunya mengoptimalisasikan tata kelola air teristegrasi dari hulu hingga hilir, penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air berlebih

Termasuk mengoptimalisasi sector pertanian lahan tadah hujan, dan sektor energi berbasis PLTA, waspadai curah hujan ekstrim yang dapat merugikan sektor pertanian, infrastruktur dan dampak bencana hidrometeorologis.

“Termasuk peningkatan kerjasama antar daerah untuk pengurangan resiko bencana hidrometrologi lintas kabupaten,” pungkasnya. (sad)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry