Mohammad Taufiq, SSi,MPd – Dosen PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Definisi new normal adalah skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional.

Di masa pandemi ini, pembelajaran di tahun ajaran baru tetap dilakukan di rumah. Salah satu metode pembelajaran yang cocok digunakan untuk saat ini adalah metode blended learning.

Blended Learning adalah pola pembelajaran campuran antara pembelajaran di kelas (face to face) dan online (webinar, LMS). Namun untuk saat pandemi ini yang digunakan adalah metode online dengan memanfaatkan multimedia baik sinkron (synchronous) dana sinkron (asynchronous).

Perguruan tinggi seharusnya cenderung lebih mudah beradaptasi dengan blended learning, karena mahasiswa sudah menggunakan pola belajar mandiri, beda dengan siswa sekolah.

Dalam pelaksanaanya blended learning rekan-rekan perlu meramu blended learning di masing-masing institusi pendidikan, karena implementasi blended learning pasti berbeda-beda karena harus student-oriented, sesuai kebutuhan. Fokusnya adalah penyediaan materi dan panduan yang jelas.

Posisi multimedia dalam blended learning bukan tujuan, tapi cara mencapai tujuan. Untuk memudahkan pembelajaran yang dirasa sulit ketika disampaikan secara langsung.

6 Manfaat Multimedia dalam Blended Learning :

  1. Animasi mempermudah pemahaman mahasiswa
  2. Simulasi meningkatkan kreativitas mahasiswa
  3. VR/AR/MR meningkatkan engagement belajar mahasiswa
  4. AI-Based multimedia mempercepatpenguasaanmahasiswa
  5. Multimedia Gamifikasi membuat mahasiswa ketagihan belajar
  6. Proses Evaluasi (Tes/Ujian) berjalan efektif dan menyenangkan dengan berbagai metode seperti: gamifikasi, social media, AR/VR/MRMR, IOT big data, expert system, machine learning.

Itulah beberapa pembahasan terkait pembelajaran menggunakan metode blended learning di masa pandemi. Adanya pandemi Covid-19 ini memaksa kita melangkah lebih cepat dalam hal inovasi pembelajaran. Untuk perguruan tinggi yang ingin memulai menerapkan blended learning menurut Nurma Ali Ridwan (Nuraeni, Alfan. 2012: 67), dapat dilihat dari perlakuan manusia terhadap benda-benda, tumbuhan, hewan, dan apa pun yang ada di sekitarnya.

Perlakuan ini melibatkan penggunaan akal budinya sehingga dari perlakuan-perlakuan tersebut, tergambar hasil aktivitas budi manusia. Akumulasi dari hasil aktivitas budi dalam menyikapi serta memperlakukan lingkungan, yang disebut pengetahuan lokal atau biasa disebut kearifan lokal, menjadi sangat penting.

Kearifan lokal menggambarkan cara bersikap dan bertindak suatu masyarakat untuk merespons perubahan-perubahan yang khas dalam lingkup lingkungan fisik ataupun kultural.

 Jadi, kearifan lokal menjadi sangat penting karena hasil dari semua perilaku, sikap, tindakan manusia terhadap lingkungannya. Secara substansial, kearifan lokal adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat; nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan manjadi acuan dalam bertingkahlaku sehari-hari masyarakat setempat.

Oleh karena itu, sangat beralasan jika Greetz mangatakan bahwa kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasya (Nuraeni, Alfan. 2012: 68-69).

Pembelajaran berbasis budaya merupakan strategi penciptaan lingkugan belajar dan perancangan pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Pembelajaran berbasis budaya dilandaskan pada pengakuan terhadap budaya sebagai bagian yang fundamental bagi pendidikan sebagai ekspresi dari komunikasi suatu gagasan dan perkembangan pengetahuan.

Pembelajaran berbasis budaya membawa budaya lokal yang selama ini tidak selalu mendapat tempat dalam kurikulum sekolah ke dalam proses pembelajaran beragam mata pelajaran di sekolah. Dalam pembelajaran berbasis budaya, lingkungan belajar akan berubah menjadi lingkungan yang memungkinkan guru dan siswa berpartisipasi aktif berdasaran budaya yang sudah mereka kenal sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal. (Daryanto, RahardjoMuljo. 2012: 163-166).

 Sejauh ini, pembelajaran sosiologi berbasis kearifan lokal tidak banyak di terapkan oleh guru. Hanya sebagian guru saja yang menerapkan pembelajarannya dengan memperkenalkan beberapa kebudayaan yang ada di Indonesi. Guru yang menerapkan kearifan lokal berbagai suku dengan wajibkan siswa untuk mengenalkan suatu keragaman suku yang ada di indonesia secara berkelompok. Dengan memperkena lkan pakaian khas, makanan khas, senjata khas, serta tarian khas suku tersebut.

Akan tetapi dalam penerapan pengenalan berbagai suku dengan mata pelajaran sosiologi tersebut hanya pada materi tertentu saja, tidak semua materi pembelajaran sosiologi di kaitkan dengan kearifan lokal.

Dengan mengaitkan pembelajaran sosiolgi dengan kearifan lokal, akan menjadikan peserta didik dapat melihat contoh yang ada di masyarakat atau kebudayaan masyarakat sekitarnya.

Sehingga peserta didik dapat memahami dengan baik apa yang di pelajarinya. Serta peserta didik dapat mengetahui kearifan lokal atau kebudayaan daerahnya yang tidak pernah disadari selama ini.

Melalui penerapan kearifan lokal oleh pendidik yang mengaitan dengan materi ajar atau teori sosiologi yang di pelajari secara lebih kritis, sehingga peserta didik dapat benar-benarmemahami materi tersebut. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry