SOSIALISASI : Lucy Kurniasari Anggota DPR RI (tengah), Kepala Bidang Pengendalian penduduk BKKBN Jatim Sofia Hanis (kanan)  dalam sosialisasi pelayanan KB di kelurahan Simomulyo baru kecamatan Suko Manunggal Surabaya. (ft/dok)

SURABAYA | duta.co -Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus memantapkan sosialisasi program-programnya kepada masyarakat. Tidak hanya program Keluarga Berencana (KB) juga program yang menyeluruh. Kali ini BKKBN Jatim mengadakan sosialisasi di kelurahan Simomulyo baru kecamatan Suko manunggal Surabaya.

Kepala Bidang Pengendalian penduduk BKKBN Jatim Sofia Hanis mengatakan ada tiga program utama yakni Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Bina Keluaga Lansia (BKL). Tujuan dari aplikasi program tersebut guna membentuk keluarga sejahtera.

“Orangtua yang punya anak remaja perlu pendampingan. Jangan sampa terjerumus pergaulan sex bebas dan narkotika dan tidak tidak melakukan pernikahan dini. Remaja sangat rentan dan mudah dipengaruhi, perlu pendampingan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, BKKBN mengharapkan peran orang tua agar bisa mencegah terjadinya pernikahan usia dini. Kuncinya dengan tidak memberikan kesempapan remaja dalam pergaulan bebas. Usia ideal untuk menikah bag perempuan 21 tahun dan laki-laki 25 tahun.

Sementara Lucy Kurniasari Anggota DPR RI mengatakan permasalahan angka kematian ibu ini tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah Rumah Sakit, paramedis maupun spesialis obgyn saja.

Melainkan tanggung jawab bersama sebab kesehatan ibu maupun bayi bisa dipengaruhi oleh berbagai hal sehingga harus mendapatkan intervensi yang tepat untuk permasalahan tersebut

“Nah selain itu dari data yang saya terima angka kematian ibu tertinggi 54 persennya terjadi saat hamil dan nifas,” jelas Lucy.

Lucy menambahkan untk itu dibutuhkan zooming untuk bisa mendeteksi dan mengangkat desa mana secara spesifik yang menyumbang angka kematian ibu tertinggi dan apa penyebabnya sehingga kita bisa memberikan Penanganan dan pencegahan yang tepat .

“Saat ini yang dilakukan BKKBN dengan memberikan  vitamin buat ibu hamil agar bisa meminimalisir resiko kematian ketika melahirkan dan memberikan makanan pendamping gizi balita pengganti Air susu ibu yakni ASI ,” ujarnya.

Data USAID menunjukkan ada dua daerah di Jawa Timur yang angka kematian ibunya sangat tinggi dibandingkan rata-rata. Sebanyak dua daerah itu yang tertinggi adalah Kota Surabaya sedangkan di urutan kedua adalah Kabupaten Jember.

“Permasalahan ini tidak bisa diabaikan begitu saja melainkan harus ditemukan format yang tepat untuk bisa mengurangi angka kematian ibu di daerah tersebut,” tegasnya.

Lucy menambahkan zooming dilakukan untuk bisa mendeteksi dan mengangkat desa mana secara spesifik yang menyumbang angka kematian ibu tertinggi dan apa penyebabnya sehingga kita bisa memberikan Penanganan dan pencegahan yang tepat.  (imm)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.