MALANG | duta.co – Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) mengembangkan ulat Hongkong yang ternyata kandungan nutrisinya sangat tinggi. Diolah menjadi biskuit, produk makanan ini ternyata bisa mengatasi masalah stunting. Lewat temuan tersebut, ‘kampus biru’ ini meraih medali dalam kompetisi universitas se-Asia dalam bidang science.

Dengan dibimbing Dr. Dedes Amertaningtyas, S.Pt.,MP, tim yang terdiri dari Retno Nur Fadillah, Sularso, Yasri Rahmawati, Hendarto, dan Zuhdan Alaik membuat Biskot. Biskot merupakan biskuit protein ulat hongkong sebagai treatment stunting pada anak.

Sularso menjelaskan, kandungan protein pada larva ulat hongkong cukup tinggi yaitu 47,44% dengan kadar lemak 21,84%. Serta asam amino berupa taurin sebesar 17,53% yang sangat dibutuhkan pada masa tumbuh kembang anak.

Taurin merupakan jenis asam amino terbanyak kedua dalam ASI yang berfungsi sebagai neurotransmitter dan berperan penting dalam proses pematangan sel otak.

“Ulat hongkong atau yang juga disebut dengan mealworm biasanya dibudidayakan hanya untuk dijadikan pakan unggas karena memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Namun sebenarnya ulat ini termasuk dalam ordo coleoptera yang merupakan ordo keempat, artinya paling banyak dikonsumsi manusia,” kata Sularso

Dalam proses pengolahannya, imbuh Sularsi, ulat hongkong dicuci bersih dan dikeringkan kemudian dioven. Lalu dihaluskan menggunakan blender dan disaring airnya, selanjutnya dicampur ke dalam adonan dari terigu, gula, dan telur.

Penelitian ini berhasil memboyong medali perak dalam ajang internasional bertajuk Asean Innovative Science Environmental and Enterprenuer Fair (AISEEF) 2021.

AISEEF merupakan kompetisi internasional tahunan antar universitas se-Asia dalam bidang science, lingkungan dan entrepreneurship.

Ada empat kategori yang dilombakan yaitu entrepreneur (business plan, management, marketing), social science, environmental science (interaksi komponen fisik, kimia, dan biologi lingkungan serta hubungan dan efek komponen tersebut dengan organisme pada lingkungan), serta innovation science (inovasi dalam bidang fisika terapan, kimia dan biologi yang dapat berupa produk aplikasi, alat peraga dan temuan kreatif).

AISEEF diselenggarakan  oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) pada (18/2-22/2/2021). (Humas UB). (dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry