Keterangan foto republika.co.id

JAKARTA | duta.co – Kemandirian Nahdlatul Ulama (NU) menjadi bahan diskusi penting jelang Muktamar ke-34 NU di Lampung. Selain hal-hal strategis lainnya, tak kalah menarik adalah membedah ekonomi warga nahdliyin yang, mayoritas petani dan nelayan.

Ini yang terekam dalam Webinar Pra Muktamar dengan Tema “Proyeksi Kemandiran NU Menuju Abad ke-2” oleh Sterring Comitte Bidang Komisi Program, Kamis (25/11/2021).

Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Dr Ali Masykur Musa, mengatakan, bahwa program utama NU adalah menciptakan kemandirian ekonomi. Karena, dengan cara ini, NU akan menjadi organisasi selain memiliki jumlah anggota lebih dari 100 (seratus) juta, juga memiliki ekonomi yang kuat. Dengan begitu, NU akan menjadi organisasi yang bisa menentukan arah kemajuan negara Indonesia ke depan.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Dr Ali Masykur Musa. (FT/medcom.id)

Beberapa program yang perlu dijalankan untuk melahirkan kemandirian ekonomi NU antara lain adalah harus memiliki badan hukum ekonomi dengan sistem tersentralisasi di pusat, namun operasioalisasi sampai tingkat Wilayah, Cabang, MWC, bahkan Ranting.

“Badan hukum ekonomi dimaksud adalah dalam bentuk NU Incorporation atau Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama’ (BUMNU). Ini meliputi produksi, trading ekspor-impor, dan ritel di bidang kebutuhan pokok, manufaktur dan pengelolaan sumber daya alam,” demikian masukan Cak Ali, panggilan akrab Dr Ali Masykur Musa.

Selanjutnya, ia berpendapat karena mayoritas warga NU adalah petani dan nelayan di desa, maka, NU harus mempuyai program mempersiapkan para petani dan nelayan yang handal, sehingga mempunyai nilai tukar yang tinggi. Mereka harus terkawal, mendapat proteksi sejak dari hulu sampai hilir yang meliputi permodalan, produksi, distribusi dan harga, serta mendapatkan jaminan asuransi.

“Petani dan nelayan harus menjadi subjek ekonomi yang berhak menikmati relasi pembangunan ekonomi di negeri ini,” tambah Cak Ali.

Menurutnya, suatu keniscayaan bahwa sekarang dan ke depan Indonesia sudah memasuki era digital, oleh karena itu pedagang UMKM yang mayoritas menjadi profesi warga NU harus disiapkan menjadi pedagang handal yang menguasai e-Commerce and Market Place sehingga mampu berperan dalam sistem ekonomi digital, termasuk dibidang pasar modal.

Dalam kesempatan itu, Cak Ali sekaligus mengajak agar generasi penerus NU memiliki jiwa pengusaha (enterpreunership). Hanya dengan cara ini NU memasuki 100 (seratus tahun) kedua akan menjadi organisasi sosial keagamaan yang solid dan ditopang oleh kekuatan ekonomi yang besar. ”Saya yakin NU akan menjadi organisasi penentu Negara dan Bangsa Indonesia ke depan,” pungkasnya.

Selain Ali Masykur Musa, pembicara dalam webinar tersebut adalah Prof Muhammad Nuh, Gus Nadirsyah Hosen, dan Safira Rosa Machrusah. Substansi dari webinar ini akan menjadi program kerja NU untuk lima tahun ke depan. (*)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry