“Wanita sholihah kelak akan menjadi sosok yang tiada tandingannya di akhirat, bidadari pun cemburu jika melihat wanita sholihah, baik dalam segi kecantikan, sikap dan prilaku.”

Oleh: Rachma Kamelia*

JANGAN abaikan kehebatan wanita. Terlalu banyak rahasia di balik sosok wanita. Salah satu yang tak terbantahkan, secara naluri, manusia ingin melestarikan keturunannya. Di sini, wanita punya peran penting yang tak tergantikan, sebagai pencetak generasi.

Imam Mutawalli Syakrowi dalam kitabnya mengatakan; “Tugas penting bagi seorang wanita adalah ta’amul atau  interaksi kepada gen yang luhur yaitu manusia seperti suami, janin yang ada dalam kandungannya, dan sebagai ibu yang mengandungnya memberikan contoh dan peradaban serta pendidikan.” (lihat; Al Fiqhul Mar’ah Al Muslimah hal.293).

Tentu saja, hal itu merupakan tugas yang sangat mulia, karena berkaitan dengan interaksi manusia. Akan lebih jelas, jika wanita diibaratkan sebagai ladang, karena wanita tempat penitipan benih yang akan melahirkan seorang manusia yang diibaratkan sebagai tumbuhannya. (QS:2:223).

Sebagai ladang, maka, wanita menjadi ‘taruhan’ apakah tetumbuhan itu akan berkembang baik atau tidak. Tumbuhan akan berkembang baik apabila ladangnya subur dan terawat. Meski benih tidak terlalu bagus, akan tetapi seiring dengan perawatan yang baik, maka, akan tumbuh sempurna. Sebaliknya jika benih merupakan dari jenis yang bagus, tetapi, tidak mendapatkan perawatan yang baik, hasilnya akan rusak.

Begitulah yang akan terjadi pada anak, ia akan menjadi sholeh atau sholehah apabila ibunya mampu merawat anak dengan baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang bagus. Dalam keseharian, khususnya di masa masa awal, sang ibu inilah yang sangat berperan karena selalu berada di dekat anak.

Dalam buku “Atfal Bila Asar” dikatakan; “perkembangan balita cenderung berbeda beda dikarenakan berada dalam asuhan baby sister, padahal seorang balita butuh hidup selaras bersama keluarganya dengan kasih sayang yang penuh khususnya dari sosok ibunya”

Tetapi, perlu dipahami, bukan berarti wanita dapat mendidik anak sendirian (single parent), dia juga membutuhkan pemimpin untuk menuntun sang anak belajar dalam kehidupan, menafkahi  sang buah hati, serta mengajarkan kemandirian.

Pada aspek dimensi kosmologi sosok wanita sangat dibutuhkan oleh suami, karena wanita yang secara fitrah diciptakan oleh Allah swt untuk menjadi pasangan laki laki dan memberikan ketenangan bagi laki-laki. Sebagaimana firman Allah swt pada surat 30/Ar-Rum-21 yang ditafsiri Imam Jalalain;

(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri) Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Nabi Adam sedangkan manusia yang lainnya tercipta dari air mani laki-laki dan perempuan (supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya) supaya kalian merasa betah dengannya (dan dijadikan-Nya di antara kamu sekalian) semuanya (rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir) yakni yang memikirkan tentang ciptaan Allah swt.

Itulah salah satu ladang wanita sebagai khalifah untuk memberikan kenyaman dan ketentraman bagi pria. Sifat wanita yang cenderung feminim dan penyayang menjadi kebutuhan primer kaum laki laki yang notabene pekerja keras membanting tulang demi keluarga, sehingga saat di rumah wanita memiliki fungsi natural menjadi sosok ketentraman suami usai melakukan aktifitasnya.

Selain itu pria juga memiliki kebutuhan biologis yang hanya boleh disalurkan kepada wanita saja. Itu semua merupakan sunnatullah yang diberikan kepada wanita.

Wanita juga merupakan ladang keutuhan sebuah rumah tangga, di sini wanita bertugas menjaga nama baik keluarga, menjaga harta suami, tidak berkhianat kepada suami,  menjaga kehormatan suami.

Maka seyogyanya seorang wanita secara kontinyu memanifestasikan perlakuan baik pada suaminya. Jika tidak, maka ia telah keluar dari fitrahnya sebagai ketentraman laki laki. Apalagi jika sampai melakukan tindakan pembangkangan atau nusyuz yang dilarang oleh agama. Dalam sebuah hadits disebutkan; Ayyuma imroatin ayisat fi wajhi zaujiha illa qomat min qobriha muswaddatal wajhi.

“Siapa saja perempuan yang bermuka masam di hadapan suaminya, melainkan perempuan itu akan bangkit kelak dari kuburnya dalam keadaan muka berubah menjadi berwarna hitam kelam.” (HR. Abdurahman bin Auf) lihat; Uqudul Lizein, Syekh Nawawi hal. 27.

Wanita sebagai ladang bisa dimaknai sebagai orang tua dan bagi suami bisa untuk meraih kemenangan di akhirat. Seorang wanita sholihah kelak akan menjadi sosok yang tiada tandingannya di akhirat, sampai sampai bidadari pun cemburu jika melihat wanita sholihah, baik dalam segi kecantikan,  sikap dan prilaku. Tidak hanya itu wanita sholihah adalah sebaik baik perhiasan dunia.

Dan aspek yang tak kalah penting bahwa wanita adalah ladang kejayaan sebuah negara, sebagaimana kata mutiara mengatakan:  Al mar’atu imadul bilad waidza fasadat fasadatil bilad (wanita adalah tiang negara, yang mana jika wanita itu rusak maka negara juga akan rusak).

Mengapa demikian? Karena meskipun wanita tidak dilahirkan secara fitrah untuk menjadi pemimpin sebuah negara, akan tetapi darinyalah lahir para pemimpin hebat. Tidak ada satu orangpun pemimpin di dunia ini yang lahir ke dunia tidak melalui rahim wanita. Namun kata mutiara di atas bisa diartikan pula wanita juga merupakan sektor penting dalam sebuah negara, jika wanita-wanita dalam suatu negara rusak maka hampir dipastikan negara tersebut telah rusak moralnya.

Dengan demikian jelaslah bahwa wanita adalah ladang keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan.  Semoga bermanfaat. (*)

Rachma Kamelia, Penulis adalah santriwati PP Attaufiq, Genggong.

 

Tinggalkan Balasan