
SURABAYA | duta.co – Blak-blakan! Mestinya begitulah ustdzah atau kiai berperan di masyarakat. Kalau sudah kebangetan, ia tidak segan-segan memberikan kritik tajam kepada pemerintah. Contoh, Ustadzah Mumpuni Handayayekti (Mumpuni) dinilai paling vokal bicara soal kebijakan tumbang tindih atau ketimpangan gaji antara pegawai Makan Bergizi Gratis (MBG) dan guru yang bertugas mengajar anak-anak kita.
“Kebangetan. Ini karena suda kebangetan. Pak Lurah tidak usah melok-melok (ikutan). Saya juga tidak akan menyinggung sampean. Belum disinggung sudah pucat, karena itu sudah dipakai Koperasi Merah Putih. Indonesia ini sedang sakit. Guru honorer gajine cum 400 ribu, tukang cuci ompreng MBG Rp3 juta,” kata Mumpuni suami Gus Fitroh terlihat duta.co, Jumat (1/5/26).
Menurutnya, ia sudah diwanti-wanti sama suami untuk tidak bicara soal MBG, tetapi, ujungnya bicara juga, ini karena kebangetan. “Lelaki saya (suami) sudah mengingatkan agar tidak membahas soal MBG. Setuju, tapi ujungnya juga berbicara soal MBG. Saya bukannya benci sama pegawai MBG, tidak. Asli tidak, cuma (kalau) ingat guru TK yang gajinya cuma 200 ribu, itu pun harus sarjana, ini kan ngenyek (menghina) dengan guru,” katanya lugas.

Ustadzah Mumpuni juga kasihan melihat nasib Kepala Desa, di mana anggaran habis untuk program Koperasi Desa Merah Putih. Apalagi bagi Kades yang baru satu periode. Sekarang jangan harap (program ekonomi) di tangan Kades, ia memiliki saluran yang bernama Kopdes MP. “Sampean sudah berapa periode jadi lurah. Saya yakin balik modal saja belum. Maka jangan heran kalau jalan-jalan rusak, karena tidak ada dananya,” tegas Mumpuni.
Pendakwah asal Cilacap yang dikenal dengan logat ngapak-nya yang khas ini, baru membuat pengakuan yang cukup mengejutkan: ia diminta untuk tidak lagi menyinggung isu politik dalam ceramah-ceramahnya. Dalam video, Mumpuni secara vokal membandingkan ketimpangan gaji antara petugas cuci ompreng atau tempat makan di program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan gaji guru honorer yang memprihatinkan.
Mumpuni mengaku mendapatkan pesan agar “mengerem” pembahasannya. “Sorri Mbak Mumpuni, tolong jangan pernah bahas politik. Soale Indonesia lagi genting,” ungkap Mumpuni menirukan pesan yang diterimanya. Ia pun menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan partai politik manapun, melainkan hanya menyampaikan aspirasi masyarakat bawah agar didengar oleh Presiden Prabowo Subianto. “Dan saya yakin tidak didengar,” katanya disambut geer hadirin. (mky)





































