
JAKARTA | duta.co – Tenang! Dan sangat tenang! Padahal diantara mereka sudah babak belur, kocar-kacir, jempalikan terbawa arus pesawat. Penumpang berdiri, ada yang histeris, duduk tanpa sabuk, peralatan terangkat ke langit-langit pesawat, lalu kembali jatuh.
Koper dan sisa sarapan berserakan di lantai lorong pesawat. Masker oksigen tergantung di kabin. Suasananya mencekam. Itulah yang dialami pesawat Singapore Airlines Ltd. Rabu (22/5/24).
Tetapi, sejumlah pramugari-pramugara tetap tenang. Dan minta seluruh penumpang tidak panik. Padahal, mereka sendiri berkali-kali terpelanting dan terluka. Mereka, sebagian awak masih berusaha merawat beberapa penumpang yang terluka. Luar biasa!
“Seluruh penumpang memberikan pujian kepada pramugara dan paramugarinya. Para kru tetap dalam posisi. Salah satu pramugara bahkan sangat kesakitan di bagian punggungnya. Tapi dia dan seluruh kru kabin tetap bertugas dengan tenang,” ujar Andrew, seperti dikutip dari The Times, Kamis (23/5/2024).

Inilah ujian tawakal. Dan sebelum naik pesawat, kita sering diajarkan meneguhkan tawakal. Bismillahi tawakkaltu ala allah laa haula wa laa quwwata illaa billaah. (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.)
Kini, kabarnya, sebanyak 20 orang pesawat Singapore Airlines Ltd yang mengalami guncangan hebat itu, tengah mendapatkan perawatan intensif di Bangkok Rabu (22/5/2024). Insiden ini memaksa pilot mendarat darurat di Bandara Thailand.
Seorang pria warga negara Inggris meninggal dunia dan belasan penumpang lainnya mengalami luka serius setelah pesawat dengan nomor penerbangan SQ321 dari London ke Singapura menurun secara drastis saat memasuki wilayah Udara Thailand.
Perkembangan terakhir dari otoritas rumah sakit di Thailand mengungkapkan seberapa besar cedera yang dialami penumpang ketika sejumlah barang terlempar ke atas kabin dan di dalam pesawat.
Empat belas penumpang memerlukan tindakan operasi, demikian pernyataan dari pihak Rumah Sakit Samitivej Srinakarin, dilansir Bloomberg, Kamis (23/5/2024).
Secara keseluruhan, sekitar 58 pasien di tiga rumah sakit dan klinik di ibu kota Thailand masih menerima perawatan. Lebih dari 100 orang memerlukan perawatan medis segera setelah penerbangan mendarat di Bangkok.
Menurut Straits Times, penumpang yang kembali ke Singapura dari Bangkok pada keesokan harinya dengan penerbangan pengganti diberikan uang tunai 1.000 dolar Singapura (US$740) di dalam amplop putih Singapore Air.
Maskapai ini menolak berkomentar kepada surat kabar tersebut mengenai pembayaran kompensasi apa pun. Turbulensi dapat terjadi ketika sebuah pesawat terkena arus udara yang kuat sehingga mendorong atau menarik badan pesawat. Fenomena ini bisa disebabkan oleh kantong udara panas atau sistem cuaca yang kuat.
Pada ketinggian yang lebih tinggi, pesawat mungkin menghadapi turbulensi udara yang sulit diidentifikasi yang disebabkan oleh massa udara dengan kecepatan berbeda. Pakar medis telah menguraikan risiko-risiko yang tidak dapat diremehkan yang ditimbulkan oleh turbulensi setelah penerbangan yang fatal tersebut.
Insiden seperti itu sangat jarang terjadi sehingga maskapai penerbangan biasanya tidak mewajibkan penumpangnya mengenakan sabuk pengaman kecuali diperkirakan terjadi cuaca buruk. Dan, dalam ketinggian tersebut, semua bisa saja kembali kepadaNya. Waallahu’alam. (sumber kabar24.bisnis.com)




































