
SURABAYA | duta.co – Seorang teman mengirim kabar, bahwa, prediksi empat AI (Artificial Intelligence) seperti Gemini, Claude, Grok, dan KIMI sama. Bahwa dollar akan mencapai 22.000 di akhir 2026. Ini karena kebijakan MBG (Makan Bergizi Gratis). Pasar sudah mengingatkan, tetapi pemerintah abai, pengamat juga diabaikan.
“Kini AI yang mengingatkan, masak mau diabaikan lagi. Semoga AI tidak benar, walau pun hari ini menjadi kenyataan,” tegas Drs Said Utomo, Ketua LYPK (Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen) kepada duta.co, Minggu (7/6/26).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri sudah meminta agar pelaku usaha melaporkan jika menemukan layanan di kawasan pelabuhan yang mewajibkan pembayaran menggunakan dolar Amerika Serikat (AS). Transaksi di Indonesia, katanya, seharusnya menggunakan rupiah sesuai ketentuan yang berlaku.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat meninjau fasilitas Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) PT Graha Segara di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. “Jangan (pakai dolar AS), nanti rupiah melemah gua susah lagi. Kita cinta rupiah semua,” katanya, Sabtu (6/6/2026).
Nilai tukar rupiah memang diprediksi berisiko kembali mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp 19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir bulan Juni 2026 inni akibat sentimen konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve.
Prediksi itu disampaikan Ibrahim, Direktur PT Traze Andalan Futures Prospek. Menurutnya penurunan mata uang garuda tersebut dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang belum mereda serta ekspektasi pasar terhadap bank sentral AS yang tetap mempertahankan suku bunga tinggi, sebagaimana dilansir dari Investor Daily, Minggu (7/6/2026).
Ibrahim memperkirakan pergerakan kurs rupiah untuk perdagangan pekan depan akan berada pada kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.250 per dolar AS sebelum melemah lebih dalam di akhir bulan. “Padai akhir bulan Juni, (nilai tukar) rupiah kemungkinan besar 99,99% akan menyentuh Rp 19.000 per dolar AS,” kata Ibrahim, Direktur PT. Traze Andalan Futures.
Penurunan tajam tersebut diproyeksikan terjadi setelah mata uang domestik sempat ditutup menguat 13 poin ke posisi Rp 18.036 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026), meskipun sebelumnya sempat melemah 17 poin.
Merespons situasi fluktuasi mata uang tersebut, Bank Indonesia telah menyiapkan langkah strategis guna memperkuat stabilitas nilai tukar melalui penguatan koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal. Tetapi, banyak pihak sepakat, bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi bisa menembus angka Rp22 ribu per USD di akhir tahun 2026 mendatang.
Prediksi itu dibahas content creator bernama Namsun Bertin yang menyampaikan terkait prediksi 4 Artificial Intelligence (AI) seperti Gemini, Claude, Grok, dan KIMI. “Penyebab utamanya adalah MBG (Makan Bergizi Gratis). Ini adalah prediksi dari 4 AI utama yang mempelajari tentang keuangan yang ada di Indonesia,” ujarnya dalam video yang diunggah di Instagram @reamrbesrt mengutip Sabtu, 6 Juni 2026.
Kalau sekarang di atas 18 ribu, itu juga suda diprediksi AI. “Dan dia (Gemini,red) menyatakan akan tembus Rp22 ribu di akhir 2026,” katanya. Kemudian Claude, juga menyatakan bahwa penyebab melemahnya nilai tukar rupiah adalah MBG.
Sebab? Karena (investor) asing itu tidak menyukai dan membenci MBG akibatnya seluruh itu investor asing keluar dari Indonesia,” paparnya. Claude, kata dia, juga memprediksi jika rupiah akan menembus Rp22 ribu per USD. Demikian juga dengan Grok, lanjut dia, yang menyatakan prediksi sama.
Sementara Goldman Sachs menyatakan bahwa dolar AS tetap didukung oleh data ekonomi yang kuat dan ekspektasi kenaikan suku bunga, meskipun membaiknya sentimen risiko global dan ketahanan mata uang asing dapat membatasi penguatan lebih lanjut.
Data terbaru AS telah memperkuat posisi dolar. Laporan penggajian yang lebih kuat dari perkiraan dan survei ISM yang tangguh menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang solid serta tekanan inflasi yang persisten, mendukung imbal hasil Treasury yang lebih tinggi dan melebarnya diferensial suku bunga yang menguntungkan dolar.
Bank tersebut menyatakan bahwa faktor-faktor ini sangat mendukung dolar terhadap mata uang utama negara-negara maju, terutama di Eropa, di mana prospek pertumbuhan masih lebih lemah.
Pasar energi memberikan pengaruh yang bersaing. Kemajuan dalam negosiasi AS-Iran telah memunculkan harapan akan harga minyak yang lebih rendah, memperbaiki prospek bagi ekonomi pengimpor energi besar dan mendukung sejumlah mata uang siklikal.
Mata uang pasar berkembang yang terkait komoditas dan berimbal hasil lebih tinggi tetap relatif tangguh meskipun ketegangan geopolitik terus berlangsung. Hal ini mengurangi sebagian permintaan safe-haven yang biasanya menguntungkan dolar di tengah ketidakpastian.
Yuan China juga terus menguat secara bertahap, sebuah tren yang diperkirakan para analis akan berlangsung lebih lama dari yang diantisipasi banyak investor. Yen Jepang juga tetap kokoh, didukung oleh upaya intervensi dan prospek tindakan lebih lanjut dari para pembuat kebijakan, demikian investing.com.
BI (Bank Indonesia) sendiri menyadari bahwa dolar AS diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 19.000 pada paruh pertama 2026, dengan potensi penembusan level lebih tinggi akibat ketidakpastian global. BI meyakini nilai tukar rupiah akan mulai mengalami penguatan kembali pada Juli 2026 seiring meredanya permintaan valuta asing
Tinggal mana yang benar, prediksi empat AI (Gemini, Claude, Grok, dan KIMI) menyebutkan rupiah berpotensi menembus angka Rp22.000 per dolar AS pada akhir tahun 2026. Atau Bank Indonesia yang masih ngotot rupiah akan menguat kembali pada Juli 2026 seiring meredanya permintaan valuta asing. Kita tunggu saja, wong cilik bisa apa? (net)





































