Para petinggi Bank Indonesia (BI) Kantor Wilayah Jawa Timur saat memberikan keterangan pers terkait Fesyar di Surabaya, Kamis (31/10) malam. DUTA/endang

Akan Ditampilkan di Ajang Festival Ekonomi Syariah (Gesyar) 2019

SURABAYA | duta.co – One Pesantren One Product (OPOP) sudah dilirik banyak pihak. Salah satunya Bank Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur.

BI sudah berkomitmen untuk ikut serta mengembangkan program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini.

Salah satu caranya dengan memberikan dua stan khusus OPOP dalam ajang Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Indonesia 2019 di Grand City Convex Surabaya, mulai 6 hingga 9 November 2019 mendatang.

Tidak hanya itu, BI juga berkomitmen untuk ikut serta mengembangkan OPOP ini demi mencapai target yang ditetapkan yakni seribu produk dari seribu pondok pesantren di seluruh Jawa Timur dalam lima tahun ke depan.

Deputy Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Timur yang juga Ketua Panitia Fesyar, Harmanta mengatakan BI di Jawa Timur memiliki empat kantor perwakilan. Yakni Surabaya, Kediri, Malang dan Jember. Dari empat kantor itu juga memiliki program pendampingan terhadap pemberdayaan ekonomi pondok pesantren.

“Kami punya pusat pelatihan, bisa memberikan pendampingan, bisa memberikan bimbingan teknik dan sebagainya. Pondok pesantren yang memiliki produk unggulan tertentu akan kami support, apapun yang dibutuhkan,” jelas Harmanta, Kamis (31/10) malam.

Salah satu yang sudah dilakukan BI adalah di Pondok Pesantren Al Amin Sumenep. Ponpes yang memiliki unggulan ternak ayam itu sudah mulai dibantu untuk beberapa hal sehingga sistem peternakan ayam sudah mulai modern.

“Bahkan pemberdayaan ekonomi pesantren di beberapa lokasi sudah kita lakukan. Misalnya di Sidogiri yang memiliki banyak minimarket,” tukasnya.

Semua itu, kata Harmanta sudah disampaikan ke Gubernur Jawa Timur Khofifah. “Intinya BI ingin terlibat dalam program Pemprov Jatim ini. Kita bisa sinergi agar target itu bisa tercapai,” ungkap Harmanta.

Tidak saja OPOP, di ajang Fesyar ini, akan ada banyak hal yang dihadirkan terutama untuk pemberdayaan ekonomi pesantren. Misalnya untuk program jaminan produk halal.

Dikatakan Harmanta, saat ini Indonesia sudah mulai menerapkan Undang Undang Jaminan Produk Halal itu. Untuk itu, BI akan bekerjasama dengan pondok pesantren untuk bisa melakukan hal ini.

“Tahun lalu kita sudah membeirkan 100 sertifikat halal bagi UMKM. Dan kini kami akan membedayakan pesantren untuk melakukan hal itu,” tukas Harmanta.

Fesyar ini memang baru pertama kali digelar di Surabaya. Sebelumnya di Surabaya BI mengggelar acara Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF). Lima tahun berturut-turut ISEF digelar di Surabaya hingga akhirnya di tahun ini, ISEF akan digelar di Jakarta dengan skala yang lebih luas yakni internasional.

Sehingga di masing-masing daerah digelar Fesyar dengan tujuan untuk terus mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Surabaya adalah kota ketiga setelah Palembang dan Banjarmasin.

Dan di Surabaya adalah puncak dari Fesyar di tahun ini. Sehingga tak mengherankan ditarget transaksi untuk ajang ini sebesar Rp 2,86 triliun.

Selain itu, ada banyak hal yang akan dibahas dalam ajang ini. Akan ada pertemuan bisnis atau business matching antara industri keduangan dan pengusaha.

“Selain itu akan menjadi ajang edukasi ekonomi syariah di Jawa Timur,” tukas Kepala Perwakilan BI Jatim, Difi A Johansyah.

Ada empat hal pokok yang akan dibahas dalam Fesyar kali ini. Selain sinergi mengembangkan OPOP, juga mengintensifkan pemasangan QRIS di rumah ibadah untuk mendukung kebijakan sistem pembayaran.

Selain itu adalah showcase museum Asrthasuaka dengan koleksi rumismatik yang menggambarkan masuknya Islam di Indonesia. Serta memperkenalkan pengusaha-pengusaha online untuk masuk dan memperkenalkan produk-produknya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry