SURABAYA | duta.co — Kemampuan adaptasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan dan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.
Hal ini mengemuka dalam kegiatan Jatim Talk Road to East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 yang mengangkat tema “Sinergi Penguatan Daya Saing Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan.”

Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan Bank Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui kolaborasi dengan kalangan akademisi, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Forum ini dirancang sebagai ruang diskusi strategis guna menghimpun gagasan dan solusi dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, Rabu (1/4/2026) menyampaikan bahwa meskipun kondisi ekonomi global saat ini penuh tantangan, Jawa Timur masih memiliki potensi besar yang dapat terus dikembangkan.

Menurutnya, pengalaman menghadapi krisis, termasuk pandemi, menjadi pelajaran penting bahwa di tengah tekanan justru lahir berbagai inovasi dan peluang baru. “Di tengah dinamika global yang sangat tinggi, selalu ada ruang untuk menggali potensi. Bahkan potensi sekecil apa pun bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, struktur ekonomi Jawa Timur yang didominasi oleh konsumsi masyarakat—sekitar 60 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)—menjadi salah satu faktor utama ketahanan ekonomi daerah. Karakter ini menjadikan ekonomi Jawa Timur lebih berbasis kekuatan internal (endogen), sehingga relatif lebih tahan terhadap gejolak eksternal.

“Ketika tekanan datang dari luar, daerah dengan struktur ekonomi yang bertumpu pada konsumsi domestik akan lebih resilient. Namun demikian, menjaga daya beli masyarakat tetap menjadi tugas utama,” tegasnya.

Untuk itu, sinergi lintas sektor, termasuk melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga dan memastikan konsumsi masyarakat tetap terjaga.

Lebih lanjut, Ibrahim menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dalam menghadapi risiko global. Ia mencontohkan bagaimana dunia merespons dampak Perang Rusia–Ukraina yang sempat mengganggu pasokan komoditas strategis seperti energi, pupuk, dan gandum.

“Ketika terjadi gangguan pasokan, negara-negara di dunia tidak tinggal diam. Mereka melakukan penyesuaian, mencari sumber alternatif, dan membangun jalur distribusi baru. Ini menunjukkan bahwa adaptasi adalah kunci untuk bertahan,” jelasnya.

Menurutnya, prinsip yang sama juga harus diterapkan di tingkat daerah. Masyarakat dan pelaku usaha di Jawa Timur perlu terus meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, baik dari sisi pasar, teknologi, maupun kebijakan.

Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur, Soni Harsono, menyampaikan bahwa antusiasme terhadap forum EJAVEC terus meningkat setiap tahunnya.

Ia menyebutkan, jumlah peminat yang mengirimkan karya, gagasan, maupun paper untuk EJAVEC menunjukkan tren yang terus naik. Hal ini menjadi indikator tingginya perhatian masyarakat, akademisi, dan praktisi terhadap isu-isu penguatan ekonomi daerah.

“Setiap tahun, minat terhadap EJAVEC terus meningkat. Banyak pihak yang mengirimkan ide, kajian, dan pemikiran strategis. Ini menunjukkan bahwa forum ini semakin dipercaya sebagai wadah kontribusi pemikiran untuk pembangunan ekonomi Jawa Timur,” ujarnya.

Forum Jatim Talk yang menjadi bagian dari rangkaian EJAVEC juga dirangkaikan dengan publikasi Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Timur oleh Bank Indonesia. Publikasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para pemangku kepentingan dalam memahami kondisi ekonomi terkini sekaligus sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan.

Dalam diskusi yang menghadirkan narasumber dari kementerian, Bappenas, akademisi, hingga pelaku industri dan perbankan tersebut, mengemuka bahwa di tengah tantangan global, peluang tetap terbuka lebar bagi daerah yang mampu membaca situasi dan merespons dengan cepat.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penentu dalam memperkuat daya saing Jawa Timur. Dengan pendekatan berbasis data, analisis yang tepat, serta kemampuan adaptasi yang kuat, Jawa Timur diyakini mampu terus tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global. ril/lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry