Gubernur Khofifah dan Kepala Perwakilan BI Budi Hanoto (tengah) saat hadir dalam Refleksi Akhir Tahun Bank Indonesia, Selasa (28/12/2021). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Jangan anggap inflasi itu ‘membahayakan’ perekonomian. Selama masih terkendali, inflasi tidak akan berpengaruh apapun.

Seperti halnya tahun ini, di mana Bank Indonesia Kantor Wilayah Jawa Timur memprediksi inflasi Jatim menyentuh angka 2,23 persen, lebih tinggi dari angka tahun sebelumnya (year on year/YoY). Namun, bagi BI ini tidak menjadi masalah karena masih di bawah tiga persen.

“Ini bukti perekonomian kita bergerak, daya beli masyarakat mulai bangkit. Tidak masalah asalkan kita masih bisa mengendalikannya,” kata Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Budi Hanoto di acara Refleksi Akhir Tahun bersama Gubernur Jatim Khofifah di Surabaya, Selasa (28/12/2021).

Yang terpenting kata Budi, adanya sinergi antar daerah, antar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di 38 kabupaten/kota di Jatim. “Mana yang baik dicontoh daerah lain, itu yang terpenting, sinergi dan komunikasi yang intensif,” tambah Budi.

Pada dasarnya kata Budi, pertumbuhan ekonomi Jatim sudah mengalami pertumbuhan pasca pandemi Covid-19. Laju pertumbuhan ekonomi Jatim hingga akhir tahun ini diprediksi 3,23 persen. Memang lebih rendah dari nasional namun masih tetap bisa melaju dengan baik.

Budi mengatakan tahun depan Jatim masih akan mengalami tantangan ekonomi yang cukup banyak dan berat. ’’Tahun depan memang harusnya roda ekonomi bisa berputar normal. Sehingga, ekonomi bisa kembali normal,’’ ungkapnya.

Faktor terbesar dari optimisme itu memang karena kondisi pandemi yang semakin dikendalikan. Menurutnya, program vaksinasi anak usia 6-11 tahun hingga program vaksin booster untuk kaum rentan menjadikan pengendalian wabah bakal lebih baik. Namun, dia memperingatkan banyak faktor lain yang harus diperhatikan.

Salah satu yang paling mencolok adalah nilai tukar rupiah terhadap US . Menurutnya, langkah tapering  (mengurangi pembelian aset oleh pemerintah AS, Red) bakal menaikkan valuasi USD. Itu berarti , nilai tukar rupiah bisa melemah. Hal tersebut bisa membuat inflasi melonjak karena sebagian barang konsumsi dan bahan baku masih diimpor dengan nilai USD.

’’Belum lagi, harga bahan baku global seperti CPO dan migas diperkirakan masih tinggi tahun depan. Ini sangat berdampak pada Jatim mengingat industri kita juga mengandalkan impor bahan baku. Dua isu ini memang harus mendapatkan perhatian lebih,’’ paparnya.

Selain itu, disrupsi rantai pasok juga masih menghantui semua wilayah di dunia. Apalagi, risiko bencana bisa membebani ekonomi lebih besar. Budi memberi contoh erupsi Gunung Semeru yang diperkirakan bakal menambah inflasi Jatim pada Desember sebanyak 0,1 persen. Tahun depan, BMKG sudah memperingatkan bakal ada bencana berkaitan fenomena La Nina (hujan berlebih).

Budi menambahkan, ada beberapa isu yang bakal menjadi tantangan baru. Salah satunya, penerapan pajak karbon. Hal tersebut dirasa bakal menimbulkan pergeseran di dunia industri dan bisnis. ’’Kita belum tahu efeknya sebenarnya apa. Tapi, sudah pasti ada dampak dari pengusaha yang belum siap,’’ paparnya.

Karena itu, dia mengatakan bahwa setiap instansi di Jatim harus bersinergi agar faktor-faktor tersebut bisa ditangani. Terutama, hal yang bisa membuat inflasi melonjak tinggi. Meski inflasi menjadi tanda pertumbuhan ekonomi, namun pergerakan yang terlalu tinggi bisa membuat daya beli masyarakat turun.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan pihaknya berupaya untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi di Jatim. Bukan hanya dari sisi bisnis. Namun, dari sisi pendidikan. ’’Beberapa SMK sudah berhasil melahirkan pengusaha. Bahkan, ada beberapa yang bisa mendapatkan Rp 28 juta per bulan,’’ paparnya

Tahun depan, dia juga bakal mengajukan stimulus untuk kredit usaha ultra mikro. Dalam skema yang sedang digodok, pengusaha bisa mengajukan kredit dengan bunga maksimal tiga persen. Kelebihannya bakal diganti oleh APBD Jatim. Saat ini, pihaknya sedang mengajukan persetujuan ke OJK. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry