Kepala BI Jatim Budi Hanoto (tengah) berbincang dengan pembudidaya tanaman hias di Gresik. DUTA/ist

GRESIK | duta.co – Berdasarkan data World Integrated Trade Solution (WITS), permintaan tanaman hias global terus meningkat sejak 2017.

Bahkan, berdasarkan analisis Reveal Symmetric Comparative Advantage (RSCA), ekspor tanaman hias Jawa Timur masuk dalam kategori unggul – surplus. Hanya nilai ekspornya masih terbatas.

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur mendukung upaya pihak-pihak dalam meningkatkan nilai ekspor. Kepala BI Jatim, Budi Hanoto menyampaikan pihaknya menaruh perhatian pada upaya peningkatan ekspor produk asli Indonesia. Termasuk di dalamnya tanaman hias.

Karena hal itu merupakan bagian dari tugas Bank Indonesia dalam rangka menjaga kestabilan nilai rupiah melalui program strategis bauran kebijakan moneter dan fiskal khususnya dalam memperkuat net ekspor barang.

“Artinya, potensi tanaman hias Gresik untuk diekspor sangat besar melihat permintaan dunia yang tinggi dan saat ini ekspor tanaman hias Jatim masih terbatas,” jelas Budi kepada Keluarga besar Alumni Universitas Jember dan Asosiasi Tanaman Hias Kabupaten Gresik.
Budi Hanoto menghadiri undangan Keluarga besar Alumni Universitas Jember (KAUJE) dan Asosiasi Tanaman Hias Kabupaten Gresik, Sabtu (12/3/2022) untuk kegiatan sharing session sinergitas kebijakan Pemerintah terhadap peluang ekspor tanaman hias Kabupaten Gresik.

Selain potensi ekspor, sentra tanaman hias yang tersebar di 6 desa Kabupaten Gresik juga dapat menjadi pendorong ekonomi melalui konsep desa wisata.

Pengembangan desa wisata Gresik berbasis tanaman hias dapat merujuk pada pengembangan Desa Wisata Edelweiss di Desa Wonokitri Kawasan Bromo-Tengger Semeru yang mengintegrasikan natural dan cultural tourism. Gresik juga dapat mencontoh Kampung Flory Sleman yang sukses membangun Community Based Tourism (CBT).

Sarmuji, selaku Anggota Komisi XI DPR RI dan Ketua KAUJE menyampaikan bahwa Bank Indonesia diharapkan dapat mendukung upaya peningkatan ekspor tanaman hias Gresik.

Selain melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI), Sarmuji juga berharap Bank Indonesia dapat melakukan pendampingan dan pelatihan agar tiga bulan mendatang sentra tanaman hias di Gresik mampu mengekspor tanaman hias ke luar negeri.

“Dengan dukungan dari Bank Indonesia, Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik dan OJK, Desa Kesamben Kulon kami harap mampu bertransformasi menjadi Desa wisata yang menjadi sentra ekspor tanaman hias dan tidak kalah sukses dari Desa Floris Sleman,” jelas Sarmuji
.
Sentra Wisata Tanaman Hias di Gresik yang dibuka pada 2021 berpotensi mendorong kinerja pariwisata Kabupaten Gresik yang dapat mendatangkan manfaat yang tinggi bagi masyarakat sekitar dan mendukung percepatan pemulihan ekonomi Kabupaten Gresik dan Jawa Timur. ril/end

.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry